Gangguan Tidur, Waspada PJK

Sering mengalami gangguan tidur, baik kelebihan maupun kekurangan tidur Bila Anda kebetulan juga gemuk, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter spesialis jantung. Siapa tahu Anda menderita penyakit jantung koroner (PJK), penyakit jantung akibat kelainan (biasanya penyempitan) arteri koroner.

Bila benar ditemukan gejala PJK, biasanya dokter akan menyarankan pasien menjalani serangkaian pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis. "Hasil pemeriksaan itulah yang menjadi panduan dokter untuk menerapi pasien," kata dr Bambang Herwanto SpJP FIHA, ahli penyakit jantung RSU dr Soetomo. Jika pasien diobati sedini mungkin, kata Bambang, risiko terjadi serangan jantung dan kematian mendadak akibat serangan jantung bisa diminimalkan.

Bambang tak bisa menjelaskan angka pasti penderita PJK. Namun, yang berobat kepadanya 10-20 pasien baru per bulan. Mereka umumnya tidak sadar bahwa gejala gangguan tidur yang mereka alami itu indikasi PJK. 'Mereka mengira gejala itu akibat kecapekan semata,' jelasnya.

Namun, gangguan tidur tersebut lama-kelamaan mengganggu aktivitas dan stabilitas tubuh. Ada pula yang disertai keluhan nyeri pada dada. 'Nyeri dada itu mengindikasi telah terjadi penyempitan pada pembuluh darah koroner,' lanjut Bambang.

Bila pembuluh darah koroner sampai tertutup total, lanjut Bambang, akan terjadi kematian otot jantung atau infark jantung (serangan jantung). 'Ini bisa membuat pasien meninggal mendadak,' tambahnya.

Karena itu, pasien PJK yang mengalami gangguan tidur (terutama kekurangan tidur) disarankan istirahat sesuai batas normal, 6-8 jam sehari. Ini harus dilakukan seumur hidup. Tujuannya, mengistirahatkan jantung.

Menurut Prof Dr dr Rochmad Romdhoni SpPD SpJP, ahli jantung RS Haji, saat ini terjadi pergeseran usia penderita PJK. Penyakit penyebab kematian nomor satu di Indonesia itu tak lagi didominasi pasien berusia 50 tahun ke atas. Banyak pula pasien PJK yang berusia 30 tahunan.

Dalam sebulan, Romdoni mengaku menangani 5-10 pasien PJK berusia 30 tahunan. Padahal, lima tahun lalu tiap bulan hanya ada 2-3 pasien PJK berusia tersebut. 'Saya prihatin karena angka penderita PJK terus meningkat,' katanya.

Pergeseran usia pasien PJK itu, lanjut Romdoni, diduga terjadi karena pola hidup dan makan yang tak sehat. Menjamurnya makanan siap saji ditengarai menjadi salah satu penyebab meningkatnya pasien PJK usia dini. 'Sekarang semua ingin yang praktis dan instan. Padahal, makanan seperti itu merugikan kesehatan,' ujarnya.

Seseorang yang terlalu banyak mengonsumsi fast food, kata dia, rentan terkena penyakit degeneratif (penurunan fungsi tubuh) seperti diabetes melitus, kegemukan (obesitas), hingga dislipidemia (kelebihan lemak tubuh). Penyakit-penyakit itulah yang mencetuskan PJK. 'Selagi muda, lebih baik giat berolahraga untuk mengimbangi konsumsi lemak jahat yang menumpuk di tubuh,' lanjut guru besar Unair itu.

Romdoni juga prihatin melihat siswa SMP dan SMA merokok. 'Makin sering dan makin dini mengisap rokok, kemungkinan terkena PJK tambah besar. Karena itu, sebaiknya hindari rokok dan mulailah pola hidup sehat dan seimbang demi kesehatan,' imbuhnya.

Faktor risiko PJK itu diperparah minimnya kemampuan masyarakat mengelola stres. Akibatnya, ketika mengalami banyak masalah, baik di pekerjaan atau rumah tangga, stres mudah hinggap. Padahal, stres berlebih bisa menurunkan daya tahan tubuh. 'Jika daya tahan tubuh menurun, orang mudah sakit. Salah satunya, ya PJK ini,' ungkap Romdoni.  

 

Sumber : Jawa Pos - PDPI Malang





 
Artikel Terkait
3 Dampak Kurang Tidur
10 Tips Atasi Susah Tidur
Hubungan Migraine dengan Tidur
Rokok, Alkohol & Kafein Penyebab Susah Tidur
Penemuan Bakteria Yang Bisa Menyembuhkan Penyakit Tidur
Atasi Mulut Kering dan Berbau Saat Bangun Tidur
Solusi Sulit Tidur
Bahaya Kurang Tidur
Launch Full Site.