Terapi Oksigen Hiperbarik

Oleh : dr. Salma Oktaria

                         Penerapan Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi Oksigen Hiperbarik merupakan salah satu dari terapi penunjang yang dimiliki khazanah pengetahuan ilmu kedokteran kelautan. Peran terapi oksigen hiperbarik mengambil peran penting dalam memberikan kontribusi pada pengembangan kesehatan para prajurit dikalangan militer kesatuan matra kelautan.

Kontribusi terapi penunjang ini kepada kesehatan masyarakat luas telah terbukti ampuh sebagai terapi penunjang (selain terapi obat oleh dokter) yang dapat menghindarkan pasien dari ancaman amputasi organ tubuh pada pasca bencana alam Tsunami di Aceh, atau bencana gempa di Bantul, dimana banyak orang yang terancam menjalani amputasi kaki karena tertimpa bangunan atau luka yang parah.

Disamping itu, kontribusi terapi oksigen hiperbarik telah memberikan banyak kontribusi pada berbagai bidang ilmu medis. Dewasa ini Terapi ini dapat mengobati penyakit degeneratif kronis seperti arterio sclerosis, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, ulser diabetik, serebral palsy, trauma otak, slerosis multiple dan penyembuhan luka.

Bahkan, kian populernya khasiat dan manfaat terapi ini, pemakaiannya telah semakin meluas sebagai terapi kebugaran tubuh serta untuk kecantikan sebagai terapi yang bertujuan memberikan efek tampil awet muda.

 

Definisi
Secara umum, terapi oksigen hiperbarik merupakan suatu metoda pengobatan dimana pasien diberikan pernapasan oksigen murni (100%) pada tekanan udara yang dua hingga tiga kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal (satu atmosfer). Terapi ini merupakan terapi komplementer yang dilakukan bersama dengan terapi medis konvensional.

Sebagaimana disebutkan diatas, dalam kondisi tertentu para prajurit matra kelautan rentan akan paparan masalah kesehatan kelautan. Kondisi tubuh mereka dituntut ‘akrab’ kepada kondisi bertekanan tinggi jauh dibawah permukaan laut pada saat melakukan penyelaman.

 

Sejarah
Terapi oksigen hiperbarik diperkenalkan pertama kali oleh Behnke pada tahun 1930. Saat itu terapi oksigen hiperbarik hanya diberikan kepada para penyelam untuk menghilangkan gejala penyakit dekompresi (Caisson’s disease) yang timbul akibat perubahan tekanan udara saat menyelam, sehingga fasilitas terapi tersebut sebagian besar hanya dimiliki oleh beberapa rumah sakit TNI AL dan rumah sakit yang berhubungan dengan pertambangan.

Di Indonesia sendiri, terapi oksigen hiperbarik pertama kali dimanfaatkan pada tahun 1960 oleh Lakesla yang bekerjasama dengan RSAL Dr. Ramelan, Surabaya.  Hingga saat ini fasilitas tersebut merupakan yang terbesar di Indonesia. Adapun beberapa rumah sakit lain yang memiliki fasilitas terapi oksigen hiperbarik adalah:

 

Proses terapi

Pasien akan dimasukkan ke dalam sebuah chamber bertekanan udara dua hingga tiga kali lebih tinggi dari tekanan udara atmosfer normal sambil diberikan pernapasan oksigen murni (100%) selama satu hingga dua jam. Selama proses
            Tindakan operasi yang dilakukan didalam
                                hyper-baric chamber
terapi pasien diperbolehkan untuk membaca, minum, atau makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat tingginya tekanan udara.

Manfaat

Dengan berbagai mekanisme tersebut, terapi hiperbarik dapat digunakan sebagai terapi kondisi akut hingga penyakit degeneratif kronis seperti arteriosklerosis, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, ulkus diabetik, serebral palsy, trauma otak, sklerosis multiple,dsb.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani terapi oksigen hiperbarik adalah:

Komplikasi
Terkadang dalam prosesnya, dapat ditemukan komplikasi, antara lain:

Baca juga





 
Artikel Terkait
Cantik dan Awet Muda dengan Terapi Oksigen Hiperbarik
Terapi Oksigen Hiperbarik
Terapi Oksigen Hiperbarik
Teh Hijau Lindungi Otak dari Kekurangan Oksigen
Program Ulang Sel Pankreas untuk Terapi
Launch Full Site.