Deteksi Dini Kanker Serviks

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 19 Jun 2017, 13:59 WIB
Wanita perlu deteksi dini kanker serviks. Kapan dan bagaimana melakukannya?
Deteksi Dini Kanker Serviks

Klikdokter.com, Jakarta Meninggalnya artis Julia Perez pada usia 36 tahun beberapa waktu lalu akibat kanker serviks, bisa menjadi pembelajaran bagi para wanita tentang pentingnya melakukan deteksi dini adanya kanker serviks.

Artis yang juga dikenal dengan nama Jupe ini selama 3 tahun bertarung melawan kanker serviks yang diakibatkan oleh adanya infeksi dari virus Human Papilloma Virus (HPV). Pada umumnya, Human Papilloma Virus (HPV), ditularkan melalui hubungan seksual.

Virus ini dapat memasuki dan menyerang sel-sel serviks sehingga menimbulkan perubahan fungsi dan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Perubahan yang terjadi pada sel-sel ini berpotensi menimbulkan kanker. Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks menjadi penting dilakukan. Karena melalui deteksi dini, gejala kanker serviks ini dapat diketahui sejak awal.

Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya:

  • Lakukan pemeriksaan sederhana berupa inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Pada metode IVA, asam asetat ditempelkan ke permukaan serviks selama 2 menit. Bila ada kelainan, akan nampak gambaran putih di serviks.

  • Sitologi serviks (pemeriksaan sel melalui mikroskop) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pap smear, dan tes HPV.
    Pada Pap smear dan tes HPV, sampel sel serviks diambil untuk diperiksa. Jika Pap smear ditujukan untuk mencari sel-sel yang berubah atau abnormal. Tes HPV bertujuan untuk melihat keberadaan virus ‘ganas’ penyebab kanker serviks.

    Secara umum, deteksi dini kanker serviks tidak diperlukan bagi wanita di bawah usia 21 tahun. Pada wanita kelompok usia 21-29 tahun, dianjurkan untuk melakukan Pap smear setiap 3 tahun. Namun, pada kelompok usia ini tes HPV tidak dianjurkan.

    Pada wanita berusia 21-65 tahun deteksi dini dengan metode IVA dianjurkan untuk dilakukan satu tahun sekali.
    Sedangkan wanita kelompok usia 30-65 tahun, dianjurkan untuk melakukan Pap smear dan Tes HPV secara bersama-sama (co-testing) setiap 5 tahun. Bila Tes HPV tidak memungkinkan, dapat dilakukan Pap smear saja setiap 3 tahun.

    Bagaimana dengan ibu hamil? Pemeriksaan Pap smear yang bersifat rutin sebaiknya ditunda hingga 3 bulan setelah melahirkan. Waktu yang paling tepat untuk melakukan Pap smear saat hamil adalah antara bulan ketiga dan keenam.

Tetapi, Pap smear yang merupakan tindak lanjut dari penemuan abnormal sebelumnya, tetap harus dilakukan selama hamil.

Apabila tidak didapatkan riwayat perubahan sel serviks sedang hingga berat atau kanker serviks, deteksi dini kanker serviks dapat dihentikan setelah Anda mencapai usia 65 tahun atau lebih.

Hal yang sama berlaku bila didapatkan hasil Pap smear yang negatif selama 3 kali berturut-turut atau hasil co-testing yang negatif selama 2 kali berturut-turut dalam 10 tahun terakhir. Dengan catatan, tes yang terakhir dilakukan dalam waktu 5 tahun terakhir.

Perlu diingat bahwa Anda masih tetap membutuhkan deteksi dini sekalipun telah mendapatkan imunisasi HPV. Begitu pula dengan wanita yang telah menjalani pengangkatan rahim (histerektomi) tanpa pengangkatan serviks.

Deteksi dini telah terbukti dapat menurunkan angka kematian akibat kanker serviks. Oleh sebab itu, jangan enggan, malas, atau malu untuk melakukannya. Bagaimanapun, mencegah memang tetap lebih baik daripada mengobati.

[DA/ RVS]

Silahkan Tap "Tanya Dokter" Untuk Mengajukan Pertanyaan

Tanya Dokter