Solusi Hidup Sehat dengan Diversifikasi Karbohidrat

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 08 Okt 2017, 12:51 WIB
Konsumsi aneka ragam sumber karbohidrat bisa menjadi salah satu upaya hidup sehat.
Solusi Hidup Sehat dengan Diversifikasi Karbohidrat

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai orang Indonesia kita tentu sering mendengar ungkapan “rasanya belum makan bila belum makan nasi”. Padahal sebelumnya mungkin sudah mengonsumsi kentang rebus atau singkong kukus.

Paradigma tersebut memang banyak ditemui mengingat beras masih menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak heran bila Indonesia menjadi negara dengan konsumsi beras tertinggi di dunia.

Indeks glikemik tinggi

Tanpa kita sadari, konsumsi satu jenis bahan pangan saja, seperti beras, ternyata dapat merugikan baik secara ekonomi maupun kesehatan. Secara ekonomi, negara kita harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi.

Sedangkan dari segi kesehatan, nasi putih termasuk salah satu makanan dengan indeks glikemik tinggi. Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan kecepatan suatu makanan diubah menjadi gula dalam darah.

Semakin rendah angka indeks glikemik semakin baik. Sebaliknya, semakin tinggi angkanya, semakin berpotensi menyebabkan penyakit gula (diabetes).

Nilai indeks glikemik dikatakan rendah bila <55 dan tinggi bila >70. Nasi putih memiliki indeks glikemik 86-90 yang tergolong tinggi. Karenanya, konsumsi nasi putih dalam jumlah banyak dan berkepanjangan berpotensi memicu diabetes di kemudian hari.

Diversifikasi karbohidrat

Lantas, bagaimana solusinya? Melakukan diversifikasi karbohidrat merupakan alternatif mengatasi semua itu. Diversifikasi karbohidrat merupakan pemanfaatan aneka ragam bahan pangan, jadi bukan berarti Anda bener-benar tidak mengonsumsi beras sama sekali melainkan melakukan variasi.

Beras bukanlah satu-satunya sumber karbohidrat. Ada banyak bahan pangan lain yang juga sumber karbohidrat yakni singkong, jagung, kentang, sukun, ubi jalar, dan talas. Bahan pangan tersebut juga mudah dijumpai di Indonesia dengan harga yang terjangkau.

Berita baik lainnya adalah umumnya bahan-bahan makanan tersebut memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih. Singkong dan jagung contohnya memiliki indeks glikemik 46 dan 40, separuh dari indeks glikemik nasi putih.

Dengan demikian, risiko terkena diabetes pun semakin menurun. Tak hanya itu, makanan seperti ubi jalar dan sukun, juga tinggi kandungan seratnya sehingga sangat baik dikonsumsi sebagai alternatif pengganti nasi.

Melihat keuntungan diversifikasi karbohidrat ini, mulailah menerapkannya dalam menu Anda sehari-hari. Misalnya untuk sarapan, Anda dapat mengonsumsi sukun atau kentang panggang sebagai sumber karbohidrat, nasi putih saat makan siang, dan talas atau singkong saat makan malam. Dengan melakukan demikian selain terhindar dari rasa bosan, tubuh pun akan lebih sehat.

Diversifikasi karbohidrat tidaklah serumit yang dibayangkan. Dengan memvariasikan bahan makanan setiap hari Anda akan mendapat banyak keuntungan bagi kesehatan tubuh.

[DA/ RVS]