Efektifkah Detoks dengan Jus Sayur dan Buah?

Oleh Kartika Tarigan pada 11 Okt 2017, 14:06 WIB
Sebagai salah satu metode diet yang populer, apakah detoks dengan jus sayur dan buah cukup efektif?
Efektifkah Detoks dengan Jus Sayur dan Buah?

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini terdapat banyak metode diet yang mengklaim dapat menurunkan berat badan tanpa mengganggu kesehatan. Salah satu yang paling sering digaungkan adalah diet detoks. Ini adalah metode diet yang hanya mengizinkan Anda untuk mengonsumsi satu atau dua jenis makanan selama masa diet.

Diet detoks umumnya dilakukan hanya dengan mengonsumsi jus sayur dan buah. Ini berarti tak ada makanan lain yang boleh masuk ke dalam mulut, selain jus sayuran dan buah tanpa gula, susu, atau es.

Meski terlihat sederhana, ternyata banyak orang yang mengaku merasakan perbedaan setelah melakukan diet ini. Beberapa mengaku mulai merasakan penurunan berat badan, dan tubuh menjadi lebih sehat.

Tidak dimungkiri, terus-menerus mengonsumsi buah dan sayuran yang tinggi serat memang akan membuat pencernaan menjadi lancar. Maka itu, tubuh akan lebih mudah ‘membuang’ zat yang sekiranya tidak dibutuhkan.

Namun jangan terkecoh. Meski dapat memperlancar sistem pencernaan, nyatanya mengonsumsi makanan yang itu-itu saja bisa menyebabkan Anda kekurangan zat gizi lain. Kondisi ini dapat menurunkan kadar gula darah, sehingga Anda rentan kelelahan, tidak bertenaga, nyeri otot, pusing hingga mual.

Apakah perlu diet detoks?

Organ tubuh manusia memiliki fungsi detoksifikasi sendiri. Artinya, meski menjanjikan, diet detoks tidak terlalu dibutuhkan oleh tubuh. Kecuali jika racun (toksin) yang masuk ke dalam tubuh Anda sangat kuat.

Menurut seorang ahli diet, Katherine Brooking, MS, RD., diet detoks malah berpotensi mengacaukan sistem metabolisme tubuh. Sebab saat Anda memangkas asupan gizi, metabolisme dalam tubuh akan melambat untuk menghemat energi. Alih-alih menurunkan berat badan, sistem metabolisme yang terganggu justru bisa membuat Anda terserang penyakit.

Keadaan akan semakin tak menguntungkan saat Anda berhenti diet dan memilih untuk kembali makan seperti biasa. Hal ini dapat menyebabkan berat badan Anda kembali seperti semula, bahkan mungkin bertambah.

Menurut Brooking, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung dan menganjurkan seseorang untuk menjalankan diet detoks. Apalagi, efek samping dari diet ini biasanya berbeda pada setiap orang. Dia pun menilai diet detoks kurang efektif untuk menurunkan berat badan dalam jangka panjang.

Apa solusinya?

Mengutip webmd, daripada diet detoks, lebih baik Anda memilih cara makan sehat yang terbukti dapat menjaga keseimbangan tubuh, termasuk berat badan. Metode ini disebut clean eating.

Clean eating terfokus pada konsumsi sayuran, buah, gandum, serta makanan kaya protein, dan menghindari makanan olahan. Tentunya, metode ini juga mengharuskan pelakunya untuk berolahraga secara rutin, dan menerapkan gaya hidup sehat.

Setelah mengetahui faktanya, cobalah lebih bijak sebelum memutuskan untuk memulai atau mengikuti sebuah metode diet. Nyatanya, jenis diet yang menjanjikan hasil instan hanya dengan minum jus sayuran dan buah, seperti diet detoks, bukanlah yang terbaik bagi tubuh Anda.

[NB/ RVS]