Mengenal Plus dan Minus Gula Rafinasi

Oleh Kartika Tarigan pada 18 Okt 2017, 14:28 WIB
Apa itu gula rafinasi? Benarkah gula yang satu ini tak layak dikonsumsi?
Mengenal Plus dan Minus Gula Rafinasi

Klikdokter.com, Jakarta Memiliki rasa yang manis membuat gula masih menjadi primadona. Apalagi jika ditunjang dengan penampilan yang menawan, seperti warna yang terlihat sempurna. Jika benar-benar menyukai gula dengan tampilan putih bersih, Anda harus waspada. Gula tersebut bisa jadi adalah gula rafinasi.

Gula rafinasi berbeda dengan gula kristal (yang kemudian diproses menjadi gula pasir) yang selama ini banyak dikenal dan dikonsumsi. Perbedaannya dari kedua jenis gula tersebut terletak pada proses produksi dan peruntukan konsumsi.

Mengutip berbagai sumber, gula rafinasi adalah jenis gula sukrosa yang awalnya berupa gula kristal mentah (raw sugar). Proses yang dilewati gula rafinasi meliputi pelarutan kembali (remelting), klarifikasi, dekolorisasi, kristalisasi, fugalisasi, pengeringan, dan pengemasan. Karena melalui tahapan proses yang ketat, gula rafinasi memiliki tingkat kemurnian tinggi, serta menyebabkan warna gula lebih putih dan cerah.

Sedangkan gula pasir yang selama ini dikenal masyarakan adalah Gula Kristal Putih (GKP). Gula yang satu ini berbahan baku tebu petani dan memiliki warna yang cenderung lebih kusam dibandingkan gula rafinasi. Soal rasa, pada dasarnya GKP memiliki rasa yang lebih manis. Di Indonesia, GKP mayoritas diproduksi pabrik gula BUMN dan swasta.

Pemerintah Indonesia melarang konsumsi langsung gula rafinasi

Meski memiliki penampilan yang lebih cantik dan harga jual yang lebih rendah, namun gula rafinasi bukanlah pemanis yang boleh dikonsumsi secara langsung. Pasalnya, gula rafinasi memiliki kadar manis yang lebih tinggi dibanding GKP.

Pemerintah Indonesia telah lama melakukan sosialisasi dan menekankan bahwa gula rafinasi tidak layak dikonsumsi di rumah.  Melalui SK Menperindag NO 527/MPT/KET/9/2004 disebutkan bahwa gula rafinasi merupakan gula yang diperuntukkan untuk industri makanan dan minuman. Jadi, perlu ada pengolahan lebih lanjut sebelum gula ini masuk ke dalam tubuh.

Mengonsumsi gula rafinasi dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah dalam waktu yang cepat. Hal ini tentu meningkatkan risiko diabetes dan masalah penyakit kronis lainnya, seperti kolesterol. Beberapa ahli bahkan percaya bahwa mengonsumsi gula rafinasi, apalagi dalam jumlah besar, dapat berpengaruh terhadap penuaan dan penurunan kesehatan kulit. Selain itu, baik gula rafinasi maupun GKP sama-sama memiliki dampak negatif bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.

Anjuran konsumsi gula tambahan harian menurut WHO adalah 25 gram per hari baik pria maupun wanita. Kementerian Kesehatan pun telah menurunkan ambang batas konsumsi gula yang aman sesuai dengan rekomendasi WHO.

Sementara itu, American Heart Association (AHA) menyebut batasan konsumsi gula tambahan pria sebanyak 36 gram atau setara dengan sembilan sendok teh, dan wanita sebanyak 24 gram atau setara dengan enam sendok teh.

Mengurangi asupan gula, baik gula rafinasi maupun GKP, tentu akan memberikan dampak baik bagi kesehatan. Bila muncul godaan untuk mengonsumsi makanan manis, Anda dapat menggantinya dengan memakan buah.

[BA/ RVS]