Gemar Belanja Online Bisa Picu Gangguan Psikis?

Oleh dr. Andika Widyatama pada 12 Des 2017, 09:57 WIB
Belanja online mungkin bisa menjadi hiburan bagi sebagian orang. Namun, bagaimana dampaknya bagi kesehatan psikis?
Gemar Belanja Online Bisa Picu Gangguan Psikis?(Chayanin Wongpracha/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Belanja bisa menjadi suatu kebiasaan yang menyenangkan. Bagi sebagian orang, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, belanja dianggap dapat melepas kepenatan. Apalagi di era digital ini proses belanja dimudahkan dengan adanya fitur belanja online, tanpa pembeli harus bertatap muka dengan penjual.

Hingga saat ini pun peringatan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dilakukan setiap tahun. Namun, Anda tetap harus berhati-hati. Berbelanja, terutama jika dilakukan dengan gegabah, tak hanya dapat merugikan kantong Anda tetapi juga memengaruhi kesehatan psikis.

Ketika Anda belanja dan tergiur untuk terus membeli barang, dapat menimbulkan masalah seperti belanja secara kompulsif. Perilaku berbelanja seperti ini membuat orang mengeluarkan uang secara berlebihan atau tidak terkontrol. Mungkin Anda atau orang-orang terdekat Anda pernah mengalami hal ini.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Stanford, diperkirakan sekitar 5,5% pria dan 6% wanita menjadi pembeli yang komplusif. Memang penelitan terkait gangguan mental tersebut belum dilakukan lebih mendalam, namun keadaan tersebut termasuk dalam gangguan dalam mengendalikan hasrat atau dorongan dalam diri.

Bagaimana sebenarnya mekanisme keinginan belanja secara kompulsif bisa terjadi? Ada kalanya, dengan membeli suatu barang, seseorang dapat merasakan sensasi memegang kendali akan suatu kondisi. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan riwayat saat masih kecil.

Orang tua cenderung memberikan hadiah dibanding meluangkan waktu dan memberi perhatian untuk anaknya. Hal tersebut bisa membuat anak tumbuh dengan pola pikir untuk terus memenuhi kebutuhan materi. Dalam hal ini, membeli barang-barang.

Selain itu, ada pula orang yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan ketika memiliki kemampuan untuk membeli barang sendiri, seolah timbul rasa ingin “balas dendam” untuk memenuhi kebutuhan hingga lepas kendali.

Kondisi kehilangan kendali dan berlebihan dalam berbelanja dapat pula memengaruhi hubungan, misalnya dengan pasangan. Apalagi jika Anda sudah menikah. Masalah keuangan dapat memicu gesekan dalam rumah tangga, yang kemudian dapat berujung pada stres bahkan perceraian.

Jadi, boleh saja berbelanja, termasuk belanja online, sebagai cara Anda membuat diri Anda bahagia. Namun, tetaplah bijaksana. Sesuaikan uang yang Anda keluarkan dengan barang yang sungguh-sungguh Anda butuhkan. Anda juga bisa berdiskusi dahulu dengan orang-orang terdekat sebelum membeli suatu barang. Belanjalah dengan cara yang sehat!

[RS/ RVS]