Anak Berbohong atau Berimajinasi, Bagaimana Membedakannya?

Oleh Gerardus Septian Kalis pada 11 Jan 2018, 12:25 WIB
Berbohong dan berimajinasi pada anak mempunyai tanda-tanda yang hampir mirip. Ini cara membedakannya.g
Anak Berbohong atau Berimajinasi, Bagaimana Membedakannya? (BlurryMe/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sikap bohong merupakan bagian dari perkembangan anak. Pada umumnya, anak melakukan hal itu saat membuat kesalahan. Meski demikian, pernyataan bohong atau imajinasi yang dilontarkan anak mempunyai kemiripan. Lantas bagaimana membedakannya?

Anak berbohong bukan untuk menipu, melainkan untuk selalu terlihat baik di hadapan Anda. Dalam benak anak kecil tertanam konsep bahwa ia harus selalu dapat menyenangkan orang tuanya.

Karena itu, anak otomatis mengusahakan cara untuk menutupi kesalahannya. Untuk menghindari konsekuensi atas perbuatannya, anak bisa saja mengatakan hal yang bertentangan dengan kebenaran.

 “Mengatakan kebohongan juga dapat disebabkan karena anak kecil belum mampu membedakan kenyataan dengan fantasinya. Ketika anak melihat temannya memiliki boneka baru yang diinginkannya, ia dapat serta-merta mengatakan bahwa ia juga sudah dibelikan boneka yang sama, meskipun sebenarnya ia tidak memilikinya.,” kata dr. Karin Wiradarma.

Selain itu, memori anak yang berusia di bawah tiga tahun masih dalam proses perkembangan. “Jadi bisa saja seorang anak mengadu kepada ibunya bahwa temannya yang memulai pertengkaran, padahal sebenarnya ia yang memukul temannya duluan, tetapi ia tidak ingat,” katanya.

Pada dasarnya, anak-anak senang berimajinasi. Karena itu, bukan tidak mungkin jika imajinasi tersebut menuntunnya untuk berbohong pada orang-orang di sekitarnya. Jawaban imajiner yang diucapkan seorang anak sebaiknya tidak perlu dikhawatirkan.

Cobalah mencari tahu lebih dalam mengenai karakteristik jawaban imajiner yang diucapkan anak Anda. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui ketertarikan, harapan, ketakutan, atau hal-hal tertentu yang menjadi perhatian anak.

Seorang anak membutuhkan keberanian ketika mencoba untuk berkata jujur, terlebih lagi jika dia berbuat salah. Untuk itu, berikanlah sebuah pujian untuk meningkatkan rasa percaya diri agar anak mau mengakui kesalahannya.

Anda juga perlu memberikan pengertian kepada anak bahwa kebohongan dapat merusak rasa percaya orang tua kepada anak. Jangan lupa juga untuk tetap menjadi pendengar yang baik guna dapat mengetahui apakah anak berkata jujur atau bohong.

[BA/ RVS]