Pengertian

Patah tulang pinggul umumnya dapat terjadi setelah cedera akibat benturan energi tinggi. Seringkali, patah tulang pinggul diikuti oleh cedera sistem organ akibat benturan energi tinggi tersebut. Sebagai contoh, cedera kepala, dada, dan area perut umumnya terjadi menyertai patah tulang pinggul. Patah tulang ekstremitas atau patah pada area gerak bawah, juga tulang belakang, dapat terjadi pula pada seseorang yang mengalami patah tulang pinggul.

Cedera pada tulang pinggul dapat pula menyebabkan perdarahan. Sebagian besar perdarahan yang terjadi umumnya disebabkan oleh patah tulang terbuka, cedera jaringan lunak, dan perdarahan dari pembuluh darah di sekitar lokasi cedera.

Selain didespkripsikan dari jenis patah tulang yang terjadi, fraktur tulang pinggul juga dapat dideskripsikan sebagai stabil atau tidak stabil. Ini bergantung pada tingkat kerusakan yang terjadi terhadap integritas cincin tulang pinggul. Pada patah tulang stabil, umumnya hanya terjadi satu kerusakan pada cincin tulang pinggul dan tidak terjadi pergeseran yang bermakna.

Patah tulang stabil umumnya disebabkan oleh cedera energi rendah. Sebaliknya, pada patah tulang tidak stabil, dapat terjadi dua atau lebih kerusakan pada cincin tulang panggul dan ditemui adanya pergeseran yang bermakna. Patah tulang tidak stabil umumnya disebabkan oleh cedera energi tinggi.

Penyebab

Patah tulang pinggul dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:

  • Cedera energi tinggi. Patah tulang pinggul dapat terjadi akibat tekanan berenergi tinggi, misalnya sebagai akibat dari kecelakaan mobil atau sepeda motor, tertabrak, atau jatuh dari ketinggian (seperti dari tangga). Bergantung pada arah dan kekuatan tekanan, cedera tersebut dapat mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan pembedahan.
  • Kelemahan tulang. Patah tulang pinggul juga dapat terjadi akibat tulang yang lemah. Hal ini lebih sering ditemui pada populasi lanjut usia yang memiliki tulang yang sudah menurun kepadatannya akibat osteoporosis.
    Pada pasien-pasien tersebut, patah tulang dapat terjadi bahkan saat melakukan aktivitas rutin yang tampaknya biasa, seperti keluar dari bak mandi atau turun tangga. Cedera tersebut umumnya menyebabkan terjadinya fraktur yang stabil dan tidak menyebabkan kerusakan pada integritas cincin tulang pinggul.
  • Penyebab lainnya. Walaupun cukup jarang, patah tulang dapat terjadi pada tulang ischium yang terpisah dari lokasi tempat otot hamstring menempel. Jenis patah tulang ini disebut sebagai fraktur avulsi, dan dapat terjadi pada atlet muda yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Gejala

Patah tulang pinggul hampir selalu menyebabkan keluhan nyeri yang hebat. Nyeri dapat diperparah oleh pergerakan sendi pinggul atau karena mencoba berjalan.

Sering kali, seseorang yang mengalami patah tulang pinggul membiarkan paha atau lututnya bengkok pada posisi tertentu untuk menghindari nyeri yang makin parah. Terkadang, sebagian pasien juga mengalami pembengkakan dan memar pada daerah sekitar pinggul.

Diagnosis

Diagnosis patah tulang pinggul dapat ditentukan berdasarkan wawancara medis, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu. Pada saat melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengevaluasi kondisi pinggul, paha, dan tungkai. Dokter juga akan memeriksa adanya kerusakan pada saraf dengan mengevaluasi pergerakan pergelangan kaki dan jari-jari kaki, serta mengevaluasi sensasi pada telapak kaki.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan mencakup:

  • Foto rontgen. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan struktur tulang. Setiap kasus yang dicurigai sebagai kejadian patah tulang pinggul membutuhkan foto rontgen, umumnya dari beberapa sudut, untuk membantu dokter mengevaluasi derajat dari pergeseran tulang.
  • Computerized Tomography (CT) scan. Terkadang, CT scan juga dibutuhkan pada patah tulang pinggul. Pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran tulang pinggul dengan lebih detil. Dengan begitu secara lebih spesifik dokter bisa menentukan pola dan derajat cedera yang terjadi serta membantu perencanaan pra-operatif.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Walaupun jarang, terkadang MRI dibutuhkan untuk memeriksa adanya patah tulang yang tidak terdeteksi oleh foto rontgen dan CT scan.

Penanganan

Penanganan patah tulang pinggul bergantung pada beberapa faktor, termasuk:

  • Pola spesifik patah tulang yang terjadi
  • Derajat pergeseran tulang
  • Kondisi secara umum dan adanya cedera lain yang terjadi

Pada patah tulang stabil, dokter akan merekomendasikan penanganan konservatif bila tidak terdapat pergeseran tulang. Penanganan konservatif dapat berupa alat bantu gerak atau jalan untuk menghindari penumpuan berat badan pada pinggul dan tungkai, selama hingga tiga bulan atau hingga tulang telah kembali ke kondisi semula.

Selain itu, dokter biasanya meresepkan obat antinyeri untuk mengurangi nyeri. Dibutuhkan juga obat antikoagulan untuk mencegah risiko terjadinya gumpalan darah yang terbentuk pada tungkai dan tulang pinggul.

Pada pasien dengan patah tulang tidak stabil, dapat disarankan untuk melakukan penanganan dengan cara pembedahan, yang mencakup fiksasi eksternal, reduksi terbuka, dan fiksasi internal, traksi tulang, dan sebagainya.

Pencegahan

Pencegahan terhadap terjadinya patah tulang pinggul dapat dilakukan dengan meminimalkan kemungkinan terjadinya jatuh, yakni dengan mengendarai kendaraan bermotor dengan lebih berhati-hati dan waspada.

Populasi khusus yang berisiko lebih tinggi mengalami patah tulang pinggul, seperti anak-anak dan lanjut usia memerlukan perhatian khusus untuk mencegah terjadinya cedera. Caranya antara lain dengan menggunakan alat bantu jalan bagi kaum lanjut usia yang membutuhkan, menghindari lantai licin di tempat tinggal, menghindari undakan, dan langkah pencegahan sejenisnya.