Mengenal Kelainan Seks ala “Fifty Shades of Grey”

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 14 Mar 2015, 12:07 WIB
Film kontroversial Fifty Shades of Grey memang tidak tertayang di bioskop kesayangan Anda di Indonesia. Tetapi cerita dari novel karya EL James memang penuh drama kelainan seksual yang menarik dikaji dengan tinjauan medis. Berikut penjelasan dr. Karin Wir
Mengenal Kelainan Seks ala “Fifty Shades of Grey”

KlikDokter.com - Kebanyakan orang pasti pernah mendengar novel romantis “Fifty Shades of Grey” yang kontroversial. Sang tokoh utama pria digambarkan sebagai seorang pengusaha sukses nan tampan dan kaya raya – idaman para wanita – namun mengidap kelainan seksual. Ia menyenangi aktivitas seksual yang dibumbui kekerasan, yaitu sadomasokisme, di mana sang pria berperan sebagai sadis (pemberi rasa sakit/aktif), dan wanitanya menjadi masokis (pihak yang disakiti/pasif).

Insidens kelainan ini terjadi pada 12% populasi pria dan 4% wanita. Sebenarnya apa saja jenis kelainan seksual itu? Mengapa ada orang-orang yang menikmati aktivitas seksual yang tergolong “aneh” dan tidak wajar bagi kebanyakan orang? Semua akan dibahas berikut ini.

Kelainan seksual yang disebut paraphilia ini adalah keinginan yang kuat untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan cara-cara selain ketertarikan dan stimulasi terhadap organ seksual normal yang dilakukan dengan sesama orang dewasa, tanpa paksaan, menimbulkan gangguan terhadap hubungan antarpasangan, atau membahayakan diri sendiri dan orang lain. Kelainan ini harus dibedakan dengan fantasi seksual atau penggunaan benda-benda tertentu untuk membangkitkan gairah seksual – tentunya yang masih dalam batas kewajaran.

Apa saja jenis-jenis kelainan seksual? Halaman berikut penjelasannya:

1 of 5

Jenis-jenis Parafilia (Kelainan Seksual)

kelainan, seks, Berdasarkan American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, terdapat beberapa jenis parafilia, di antaranya adalah :

  • Voyeurisme : mendapatkan kepuasan seksual dengan mengintip orang telanjang atau melakukan aktivitas seksual.
  • Ekshibisionis : mendapatkan kepuasan seksual dengan mempertontonkan alat kelamin kepada orang lain yang tidak dikenal.
  • Sadomasokisme : mendapatkan kepuasan seksual dengan menyakiti/mempermalukan pasangan seksual (sadis) atau mendapatkan kepuasan seksual dengan menerima rasa sakit/dipermalukan oleh pasangan seksual (masokis).
  • Froteurisme : mendapatkan kepuasan seksual dengan menggesek-gesekan alat kelamin kepada orang lain tanpa izin orang yang bersangkutan.
  • Pedofilia : orang dewasa atau remaja di atas usia 15 tahun yang lebih menyukai atau hanya bisa mendapatkan kepuasan seksual jika berhubungan intim dengan anak prapubertas (di bawah usia 14 tahun).
  • Fetisisme : mendapatkan kepuasan seksual dari benda-benda mati milik lawan jenis, seperti sepatu, baju, pakaian dalam, dll.
  • Transvestisme : memakai pakaian lawan jenis untuk mendapatkan kepuasan seksual.
  • Nekrofilia : mendapatkan kepuasan dengan berhubungan seksual dengan mayat.
  • Zoofilia : mendapatkan kepuasan dengan berhubungan seksual dengan binatang.
  • Koprofilia : mendapatkan kepuasan seksual melalui kotoran pasangannya.
  • Klismafilia : mendapatkan kepuasan seksual dengan memasukkan cairan ke usus besar melalui anus.
  • Urofilia : mendapatkan kepuasan seksual dengan berkemih atau menonton orang berkemih.
  • Asfiksiofilia : mendapatkan kepuasan seksual dengan mencekik / menghambat masuknya oksigen ke dalam saluran napas.

Penderita parafilia dapat dengan jelas diketahui, namun ada pula yang tersembunyi dan tidak disadari, bahkan oleh keluarga dan teman-teman terdekatnya. Biasanya parafilia dialami oleh orang-orang dengan gangguan kepribadian, penyalahgunaan obat-obat, gangguan cemas, dan gangguan afeksi. Ada beberapa teori yang memaparkan mekanisme terjadinya parafilia ini, di antaranya adalah teori psikoanalisis dan teori perilaku.

Bagaimana teori psikoanalisis menjelaskan, halaman berikut selengkapnya:

2 of 5

Teori Psikoanalisis

sigmund, freud

Sigmund Freud

Menurut Sigmund Freud, faktor-faktor yang menyebabkan parafilia berasal dari gangguan pada fase proses perkenalan antara pria dan wanita (disebut courtship phase). Courtship ini adalah proses di mana pria dan wanita mulai saling mengenal satu sama lain, sampai akhirnya berujung kepada proses berpasangan. Tahapan ini biasanya terjadi saat masa remaja. Terdapat empat fase dalam courtship :

  1. Fase mencari : menemukan calon pasangan yang potensial
  2. Fase interaksi pretaktil : berkenalan dan berusaha menarik perhatian calon pasangan
  3. Fase interaksi taktil : kontak fisik dengan calon pasangan, seperti menyentuh, memeluk, dan berpegangan tangan.
  4. Fase penyatuan genital : melakukan hubungan seksual.

Orang-orang yang gagal di salah satu atau beberapa tahapan tersebut  – yang pada umumnya dapat dilalui secara baik oleh kebanyakan orang – berpotensi mengalami parafilia. Seperti misalnya, voyeurisme dapat timbul pada orang yang pernah secara tidak sengaja melihat orangtuanya sedang berhubungan seksual ketika ia masih anak-anak. Ekshibisionisme terjadi karena penolakan oleh ibu saat masa kanak-kanak, sehingga orang tersebut memaksakan wanita tak dikenal untuk melihat kelaminnya.

Bagaimana dengan penjelasan Teori Perilaku? Halaman berikut selengkapnya:

3 of 5

Teori Perilaku

kelainan, SeksTeori ini berpendapat bahwa parafilia timbul sebagai akibat dari kebiasaan. Jika sebuah objek nonseksual seperti sepatu dikaitkan secara berulang-ulang dengan kepuasan aktivitas seksual, maka pada akhirnya sepatu tersebut akan memiliki kemampuan untuk menimbulkan kepuasan seksual.

Misalnya, jika seorang anak laki-laki dipermalukan dan mendapat hukuman oleh orangtuanya ketika kedapatan sedang ereksi karena mimpi basah, maka ia akan seterusnya menjadi malu dengan perilaku seksual yang sebenarnya normal.

Namun demikian, teori ini tidak berlaku bagi wanita. Hal ini menjelaskan mengapa kelainan parafilia sebagian besar dialami oleh laki-laki.

Apakah kelainan seks yang ada dapat ditangani? Halaman berikut penjelasannya:

4 of 5

Terapi Pengobatan Kelainan Seksual

Parafilia umumnya relatif sulit untuk diobati. Orang-orang yang mengidap kelainan ini biasanya merasa malu dan bersalah, serta memiliki berbagai masalah lain dalam dirinya, sehingga mereka kebanyakan menutup diri. Kegagalan untuk bersikap kerjasama terhadap tenaga medis semakin menghambat keberhasilan terapi parafilia.

Terapi parafilia dapat dilakukan dengan psikoterapi, obat-obatan, sampai operasi (namun sangat jarang). Peran dari keluarga dan sahabat tak tergantikan. Dukungan yang diberikan oleh orang-orang terdekat penderita parafilia sangatlah penting demi keberhasilan terapi dan kesembuhannya.

Lanjutkan Membaca ↓