Gurah, Cocok untuk Sinusitis?

Oleh dr. Yadita Wira Pasra Sp. THTKL pada 29 Sep 2015, 11:52 WIB
Amankah pengobatan alternatif khas Jawa ini ? Berikut ungkapan fakta selengkapnya bersama dr. Yadita Wira Pasra, Sp. THT-KL di sini.
Gurah, Cocok untuk Sinusitis?

Afrin Semprot Hidung

KlikDokter.com - Masyarakat Indonesia merupakan bangsa beragam yang masih kental dengan pengobatan tradisional, bahkan masih banyak pasien memilih untuk berobat kepada “pengobatan alternatif” dibandingkan dokter dengan berbagai alasan. 

Salah satu pengobatan tradisional yang dikenal adalah gurah. Cara melakukan gurah  bermacam-macam  menurut tempat pelaksanaan, karena ilmu ini diturunkan oleh guru secara turun temurun dalam secara informal. Gurah dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, karena mengeluarkan lendir dan kotoran dari tubuh. Saat ini hanya akan dibahas gurah sebagai pengobatan alternatif sinusitis. 

Gurah dalam bahasa Jawa berarti membersihkan dan yang dibersihkan adalah hidung dan tenggorok. Gurah pertama kali diperkenalkan oleh Marzuki tahun 1900 di Giriloyo, Wukirsari, Imogiri Bantul. Menurut Kiai Hisyam dari Imogiri Bantul, bahan yang dipakai untuk pengobatan gurah tersebut adalah akar pohon srigunggu yang basah lalu dikeringkan selanjutnya digilas sampai keluar busa, kemudian disaring dengan kain bersih sampai cairan yang diperoleh jernih lalu ditambah dengan air masak. 

Clerodendron Serratum atau daun Senggugu yang dipergunakan untuk gurah memiliki kandungan kimia, antara lain kalium, sedikit natrium, alkaloid dan flavonoid flavon. Kulit batang Senggugu mengandung :

•    senyawa triterpenoid, 
•    asam oleanolat, 
•    asam queretaroat, dan 
•    asam serratogenat.

Sedangkan kulit akar mengandung glikosida fenol, manitol dan sitosterol. Sebagai pengobatan, efek yang diberikan oleh tumbuhan ini diduga melebarkan pembuluh darah, sehingga menghasilkan banyak lendir. Namun penelitian medis untuk keamanan penggunaan pada manusia masih harus dilakukan.

Sebagai pertimbangan, penyebab sinusitis sangatlah bermacam-macam, selain kelainan bentuk secara anatomi, fungsi mukosa dan bersihan silia sangat menentukan. Sinusitis dapat disertai atau tanpa polip. Pengobatan sinusitis pada setiap individu adalah berbeda, bergantung pada penyebab, faktor risiko pemberat dan respon terhadap pengobatan. 

Jadi Gurah Berbahaya atau Tidak? Berikut penjelasan selengkapnya di halaman selanjutnya.

1 of 2

Gurah, Cocok untuk Sinusitis?

Jadi Gurah Berbahaya atau Tidak?

Pada kasus penderita sinusitis dan alergi, penggunaan cuci hidung dengan tujuan memperbaiki fungsi silia sehingga menghilangkan tumpukkan lendir di rongga hidung dan sinus serta pembentukan krusta memang dianjurkan (Guidelines American Academy of Allergy Asthma and Immunology). 

Penelitian menyatakan penggunaan air garam mampu mengembalikan kelembaban hidung dan sinus sehingga mengurangi radang mukosa hidung. Penggunaan obat-obatan seperti dekongestan, semprot hidung steroid, antibiotik akan diberikan sesuai kebutuhan pasien setelah diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan penunjang. 

Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Soedomo menilai  pengaruh gurah terhadap  tanda dan gejala rinosinusitis kronis, hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tanda dan gejala seperti : ingus, frekuensi bersin dan keluhan tersumbat pada awal gurah, sedangkan pada hari ke sepuluh mulai berkurang efeknya disebabkan perlambatan transport mukosilia. Penelitian juga mencatat adanya komplikasi terhadap telinga seperti gangguan fungsi tuba Eustachius dan Infeksi pada telinga tengah (otitis media),  rinosinusitis akut berat, tonsilofa-ringitis akut dan peritonsilitis akut. 

Berdasarkan ulasan di atas, tentu saja penilaian awal terhadap seorang pasien sangat penting untuk dilakukan, tatalaksana yang sesuai standar serta evaluasi terhadap pengobatan yang dilakukan secara akurat juga menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan. Operasi mungkin diperlukan apabila didapatkan kelainan bentuk yang menyebabkan terganggunya aliran udara dan lendir pada rongga hidung dan sinus yang tidak perbaikan setelah pengobatan yang dapat memakan waktu hingga 6 minggu atau lebih (bergantung pada temuan klinis), namun pertimbangan dengan berbagai dasar temuan klinis tentu saja lebih aman.

 

Lanjutkan Membaca ↓