Mengapa Anak Menjadi Pelaku Bullying?

Oleh dr. Kartika Mayasari pada 01 Okt 2015, 16:25 WIB
Sebagai orangtua, Anda wajib waspada akan adanya perilaku bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku. Telusuri lebih dalam bersama dr. Kartika Mayasari.
Mengapa Anak Menjadi Pelaku Bullying?

Cerebrofort Multivitamin Lengkap untuk Tumbuh Kembang Anak

KlikDokter.com - Penindasan atau bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal tersebut bisa mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan, dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, dan lain-lain.  

Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, mulai dari di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Penindasan juga bisa dilakukan siapa saja, tak terkecuali anak-anak. Dan penindasan tidak saja dilakukan pada sesama siswa. Guru juga bisa menjadi pem-bully jika melakukan kekerasan pada anak dididiknya. Aktivitas penindasan yang dilakukan murid biasanya dilakukan tanpa sepengetahuan guru dan jika diketahui oleh guru pun, sebagian besar berpendapat hanya polah kenakalan anak-anak biasa. 

Beberapa motif yang sering kali melatar belakangi tindakan penindasan di antaranya, selengkapnya pada halaman selanjutnya:

1 of 2

Mengapa Anak Menjadi Pelaku Bullying?

Cerebrofort Multivitamin Lengkap untuk Tumbuh Kembang Anak

Beberapa motif yang sering kali melatar belakangi tindakan penindasan di antaranya:

  • Cari perhatian

Bagi anak-anak yang haus perhatian, tidak ada malapetaka yang lebih mengerikan daripada diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh keluarga dan lingkungan terdekat. Nah, mengolok-olok ataupun mengganggu anak lain akan membuat perhatian semua orang tertuju pada diri si pelaku penindasan—meskipun sering kali dalam bentuk perhatian negatif. Tapi hal ini tidak menjadi masalah, karena bagi mereka, mendulang perhatian negatif selalu terasa lebih baik daripada tidak diperhatikan orang sama sekali.

  • Main-main

Menggoda anak lain terkadang juga dilakukan sekadar untuk bermain-main tanpa keinginan untuk menyakiti—meski dari luar tindakan tersebut terlihat kejam. Anak-anak SD sering kali saling memanggil temannya dengan nama julukan seperti “Si Gendut” atau “Si Kribo” untuk sekadar “lucu-lucuan”. Tetapi hati-hati, meski awalnya tidak bermaksud jahat, saling menggoda dan memanggil dengan nama julukan ini bisa berpotensi kebablasan menjadi perselisihan jangka panjang.

  • Ikut-ikutan

Di setiap lingkungan pasti ada satu atau sekelompok anak yang dianggap keren oleh teman-teman sebayanya. Jika si anak keren tadi kedapatan sedang mengganggu orang lain, maka anak-anak lainnya bisa merasa harus ikut melakukannya pula supaya bisa dianggap sama keren. Efek ikut-ikutan ini juga berlaku apabila pelaku penindasan adalah salah seorang teman atau saudara yang usianya lebih tua. Ikut-ikutan sang kakak mem-bully anak lain akan dianggap sebagai tindakan yang bisa mengangkat derajatnya hingga setara dengan si “anak besar”.

  • Belum paham makna perbedaan

Anak-anak tidak dapat dengan sendirinya memahami apa sebab anak tetangga di sebelah rumah Anda mengenakan kacamata setebal “botol” atau mengapa teman sekelasnya di kelas dua berjalan dengan sebelah kaki yang pincang. Jika tidak bisa memahami apa yang dilihatnya, maka mereka tidak mampu menunjukkan empati pada anak lain yang penampilannya “berbeda” tersebut. Dengan demikian, sesuatu yang berbeda tadi dianggapnya sebagai bahan hiburan.

  • Ekspresi perasaan frustrasi

Penindasan bisa membuat seorang anak menjadi kurang percaya diri namun bisa pula mengubah seorang anak menjadi pelaku penindasan di tempat lain.  Itu sebabnya, anak-anak yang memiliki kecenderungan menghina orang lain biasanya justru sering mendapatkan pengalaman direndahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Sesekali, mereka ingin merasakan dirinya berkuasa dengan cara balik merendahkan orang lain.

Sebagai orangtua, Anda wajib waspada akan adanya tindakan bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku. Lantas, apa yang harus dilakukan apabila anak Anda adalah pelaku penindasan?

  • Berbicara kepada anak

Perlu diingat, anak tidak selalu paham bahwa perbuatannya merupakan tindakan penindasan. Mungkin ia melihat bahwa ia melakukannya cuma untuk “senang-senang” dan tidak berpikir mengenai dampak panjangnya. Bantu mereka untuk mengerti apa itu bullying dan tekankan bahwa perilaku tersebut sangat tidak baik serta merugikan.

  • Mencari tahu alasannya

Cari tahu mengapa anak berperilaku demikian, namun tetaplah menjaga situasi tetap tenang dan jangan menyalahkan anak. Mungkin pertama-tama Anda bisa menanyakan kepada anak: bagaimana jika ia yang di-bully oleh seseorang, apa perasaannya jika ia menjadi korban, dan semacamnya.

  • Menganalisa dan memahami situasi

Perilaku anak yang senang menindas tidak terjadi begitu saja. Ia tidak mungkin melakukannya tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu, Anda perlu menganalisa sekaligus memahami situasi, misalnya apa saja yang perlu Anda lakukan untuk mengubahnya, siapa saja yang perlu dilibatkan dalam rencana tersebut, dan lain-lain.

  • Mengajarkan empati

Biasanya pelaku penindasan memiliki kekurangan dalam kemampuan empati atau kemampuan untuk menghargai konsekuensi emosional dari perilaku mereka. Cobalah bantu anak untuk dapat mengapresiasi perasaan orang lain. Katakan pada anak bahwa setiap orang memiliki perasaan, karena itu diperlukan sikap saling menghargai satu sama lain.

  • Mengambil rambu-rambu yang jelas

Tegaskan pada anak bahwa menindas seseorang dalam kondisi apa pun bukanlah hal yang baik, dan Anda tidak akan menenggangnya. Selain itu, katakan padanya bahwa Anda akan memberikan konsekuensi untuk perilaku tersebut. Segeralah bertindak apabila anak kedapatan melakukan aksi penindasan kembali.

  • Memberikan kata-kata positif

Ketika anak mampu menghadapi konflik dengan baik atau menunjukkan kasih kepada orang lain, berikan ia pujian atau kata-kata positif yang membangun. Hal tersebut lebih dapat memperbaiki perilaku bullying ketimbang memberikan hukuman.

  • Bersikap realistis

Perubahan perilaku memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bersabarlah dan tetap menunjukkan kasih sayang serta dukungan Anda padanya.

  • Meminta bantuan

Apabila perilaku bullying anak semakin menjadi-jadi, jangan segan untuk berkonsultasi kepada dokter atau psikolog anak. Mereka tentu akan memberikan bantuan yang berharga untuk perkembangan mental anak Anda. 

Lanjutkan Membaca ↓