4 Gaya Pengasuhan Anak yang Wajib Diketahui

Oleh dr. Kartika Mayasari pada 01 Okt 2015, 16:32 WIB
Mengasuh anak bukan sekadar mendisiplinkan, tetapi juga memberikan kasih sayang dan ruang untuk bereksplorasi.
4 Gaya Pengasuhan Anak yang Wajib Diketahui

Cerebrofort Multivitamin Lengkap untuk Tumbuh Kembang Anak

KlikDokter.com – Bagaimana peran yang harus dilakukan orangtua agar perkembangan fisik dan psikologis anak bisa terlewati dengan baik? Seorang psikolog menyarankan, orangtua sebaiknya memberi pendampingan yang sesuai. 

Kapan berfungsi sebagai orangtua, sebagai teman bermain, atau sebagai sahabat. Orangtua juga harus pandai-pandai melakukan pengawasan. Kapan mengawasi dari dekat, dari jauh, termasuk kapan saatnya memberikan kepercayaan pada anak.

Perhatian dan kasih sayang merupakan hal yang mendasar bagi anak. Lingkungan rumah selain sebagai tempat berlindung, sebaiknya merangkap sebagai tempat mendapatkan kebutuhan hidup, bergaul, dan tempat untuk mendapatkan rasa aman, mengaktualisasikan diri, dan sebagai wahana membesarkan anak hingga dewasa dalam perkembangan psikologinya.

Oleh karena itu, kedekatan emosional sangatlah penting dalam hubungan orangtua-anak. Anak akan merasa dibutuhkan sekaligus berharga di dalam keluarga. Selain itu, anak akan menganggap bahwa keluarga adalah bagian penting dari dirinya.

Menurut Steinberg, pengasuhan orangtua memiliki dua komponen yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktik pengasuhan (parenting practices). Gaya pengasuhan yang efektif dapat mendukung perkembangan kepribadian anak. Santrock dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology (2011) menyinggung empat macam gaya pengasuhan, yakni authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent.

Halaman berikut penjelasan selengkapnya:

1 of 2

4 Gaya Pengasuhan Anak yang Wajib Diketahui

Cerebrofort Multivitamin Lengkap untuk Tumbuh Kembang Anak

1. Authoritative Parenting

Orangtua yang menggunakan pola authoritative berperilaku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap memberi batas dan kontrol pada anaknya. Mereka memiliki standar tetapi juga memberi harapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Mereka menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orangtua dan anak. Hal ini mampu  memberi kesempatan kedua pihak (orangtua dan anak) untuk dapat saling memahami satu sama lain dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima kedua pihak.

Kualitas pengasuhan ini diyakini dapat lebih memicu  keberanian, motivasi, dan kemandirian. Pola asuh ini juga dapat mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial. Mereka juga tumbuh dengan baik, bahagia, penuh semangat, dan memiliki kemampuan pengendalian diri sehingga mereka memiliki kematangan sosial dan moral, lincah bersosial, adaptif, kreatif, tekun belajar di sekolah, serta mencapai prestasi belajar yang tinggi. Pada intinya, orangtua yang menggunakan pola authoritative dapat meningkatkan perasaan positif anak, memiliki kapabilitas untuk bertanggung jawab, dan  mandiri.

2. Authoritarian Parenting

Pada authoritarian parenting, orangtua menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standar yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Bila dibandingkan dengan pola asuh lainnya, orangtua dengan pola authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan.

Pengasuhan dengan pola ini berpotensi memunculkan pemberontakan pada saat remaja, ketergantungan anak pada orangtua, merasa cemas dalam pembandingan sosial, gagal dalam aktivitas kreatif, dan tidak efektif dalam interaksi sosial. Ia juga cenderung kehilangan kemampuan bereksplorasi, mengucilkan diri, frustrasi, tidak berani menghadapi tantangan, kurang percaya diri, serta tidak bahagia.

3. Neglectful Parenting

Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam  pola pengasuhan  ini, orangtua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak yang berarti mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apa pun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, misalnya terkait peran dalam pekerjaan rumah dan perilaku sosial yang dapat diterima secara umum. Orangtua pola ini cenderung tidak tahu banyak tentang aktivitas anaknya. Mereka jarang berbicang-bincang dan hampir tidak mempedulikan pendapat anaknya dalam membuat keputusan.

Orangtua dengan pola neglectful parenting bisa saja menganiaya, menelantarkan, dan mengabaikan  kebutuhan  maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orangtua membuatnya terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga anak menjadi serba kurang dalam segala aspek, baik kognisi maupun kemampuan emosional dan sosial. Jika terus-menerus terjadi, akan membuat anak berkemampuan rendah dalam mengatasi rasa frustrasi serta mengendalikan emosi. Ia sering kurang matang, kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut teman sebaya, serta kurang mampu menimbang posisi.

4. Indulgent Parenting

Pada indulgent parenting, orangtua cenderung  menerima, lunak, dan lebih pasif dalam  kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih, tidak menuntut, dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orangtuanya mengizinkan ia mengambil keputusan meski belum mampu melakukannya. Orangtua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan  meluruskan penyimpangan perilaku anak.

Biasanya, anak yang menerima pola pengasuhan ini sangat tidak matang dalam berbagai aspek  psikososial. Mereka impulsif, tidak patuh, menentang jika diminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sesaatnya, dan kurang toleran dalam bersosialisasi.

Pada masa keemasan, anak akan sangat peka terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Ia akan mengambil contoh serta informasi dari mana saja. Oleh karena itu, pola asuh yang baik amat menentukan dalam membentuk pribadi anak Anda.

Lanjutkan Membaca ↓