Nyeri Haid Akan Berkurang Setelah Menikah?

Oleh dr. Dina Kusumawardhani pada 08 Mar 2016, 15:50 WIB
Nyeri haid sering kali dialami saat hari pertama datang bulan. Tapi nyeri haid ini dipercaya dapat mereda bahkan menghilang setelah menikah dan melahirkan. Untuk mengetahui fakta sebenarnya, baca penjelasan lengkapnya di sini.
Nyeri Haid Akan Berkurang Setelah Menikah?

Nyeri haid dialami oleh hampir separuh wanita di dunia, terutama pada wanita dewasa yang belum menikah. Nyeri haid biasanya dirasakan di perut bagian bawah, bisa disertai mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri pinggang.

Terkadang nyeri haid malah bisa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi nyeri haid ini dikatakan dapat berkurang setelah menikah dan melahirkan. Benarkah?

Sebelumnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai nyeri haid. Nyeri haid dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Nyeri haid primer

Merupakan nyeri haid tanpa adanya kelainan pada organ reproduksi. Nyeri umumnya terjadi pada hari pertama dan kedua haid, kemudian akan berkurang pada hari ketiga. Nyeri biasanya hanya berlangsung selama 2-3 hari.

  • Nyeri haid sekunder

Nyeri haid yang disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi, misalnya infeksi, tumor, atau endometriosis. Nyeri biasanya lebih berat dan berlangsung lebih lama.

Nyeri haid primer merupakan hal yang wajar terjadi dan untuk mengatasinya bisa dengan mengonsumsi obat pereda nyeri haid yang dijual bebas di apotek. Obat pereda

 nyeri haid yang mengandung paracetamol dan tumbuhan Hyoscyami bisa menjadi pilihan Anda. Obat ini bekerja sebagai pereda nyeri umum dengan cara menghambat zat kimia di otak yang menghantarkan rasa nyeri. Selain itu, penggunaan ekstrak tumbuhan Hyoscyami yang dikombinasikan dalam obat dapat membantu melemaskan otot perut, sehingga mengurangi rasa sakit/kejang perut, pening, dan mulas yang timbul saat haid.

Sementara itu nyeri haid sekunder memerlukan penanganan yang lebih serius, penyembuhannya bisa berupa pemberian obat-obatan hingga tindakan operasi.

Studi Mengenai Nyeri Haid

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian nyeri haid lebih rendah pada wanita yang sudah menikah, terutama mereka yang pernah hamil, melahirkan, dan menyusui. Angka kejadian nyeri haid pada wanita yang belum menikah adalah sekitar 72%, sedangkan angka kejadian pada wanita yang sudah menikah dan pernah melahirkan adalah sekitar 50%.

Hasil penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2015 juga menyebutkan bahwa wanita yang belum menikah berisiko dua kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang sudah menikah. Penyebab pastinya masih belum diketahui, namun ada beberapa kemungkinan yang berhubungan dengan perubahan hormonal yang terjadi saat hamil, melahirkan, dan menyusui.

Namun, dalam kasus nyeri haid sekunder biasanya tidak dipengaruhi oleh riwayat menikah atau melahirkan. Misalnya pada penderita kista atau kanker, nyeri haid bisa terus terjadi sekalipun sudah melahirkan. Pada penderita endometriosis, gejala nyeri haid sering kali berkurang saat hamil. Hal ini dikarenakan pada saat hamil, siklus menstruasi terhenti sehingga pertumbuhan endometriosis terganggu. Namun tetap ada kemungkinan gejala muncul kembali setelah melahirkan atau menyusui selesai.