Pengertian

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi kronis di mana tekanan darah meningkat. Hipertensi dapat terjadi selama bertahun-tahun tanpa disadari oleh penderitanya. Bahkan, tanpa gejala sekalipun, kerusakan pembuluh darah dan jantung terus berlanjut dan dapat dideteksi.

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti serangan jantung dan stroke.

Untuk mencegah hipertensi, disarankan untuk menjaga berat badan ideal, tidak merokok, olahraga teratur, dan menghindari stres. Selain itu, kurangilah asupan garam dan mengonsumsi makanan yang kaya akan omega-3, kalium, kalsium, dan magnesium.

Diagnosis

Diagnosis tekanan darah tinggi atau hipertensi sangat mudah sekali, yakni dengan dengan menggunakan alat pengukur tekanan.

Pengukuran tekanan darah dibagi menjadi empat kategori umum:

  • Tekanan darah normal. Tekanan darah Anda normal jika di bawah 120/80 mm Hg.
  • Prahipertensi adalah tekanan sistolik yang berkisar dari 120-139 mm Hg, atau tekanan darah diastolik yang berkisar dari 80-89 mm Hg. Prahipertensi cenderung memburuk dari waktu ke waktu.
  • Hipertensi tahap 1 adalah tekanan sistolik berkisar 140-159 mm Hg, atau tekanan diastolik berkisar 90-99 mm Hg.
  • Hipertensi tahap 2 tergolong lebih parah. Hipertensi tahap 2 adalah tekanan sistolik 160 mm Hg atau lebih tinggi, atau tekanan diastolik 100 mm Hg atau lebih tinggi.

Dokter mungkin akan melakukan dua sampai tiga kali pembacaan tekanan darah, masing-masing pada tiga atau lebih pertemuan terpisah sebelum mendiagnosis Anda dengan hipertensi. Hal ini dikarenakan tekanan darah biasanya bervariasi sepanjang hari.

Selain itu, dokter mungkin akan meminta Anda untuk mencatat tekanan darah Anda di rumah dan di tempat kerja untuk memberikan informasi tambahan.

Gejala

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, pada beberapa orang dengan tekanan darah yang sangat tinggi dapat muncul gejala berupa:

  • Sakit kepala
  • Mimisan
  • Nyeri dada atau sesak napas

Meski demikian, gejala ini tidak spesifik dan baru muncul jika tekanan darah terlalu tinggi dan mengancam nyawa.

Pengobatan

Pengobatan tekanan darah tinggi atau hipertensi yang utama adalah dengan modifikasi gaya hidup. Pola hidup sehat yang dapat diterapkan, di antaranya:

  • Mengurangi asupan garam
  • Olahraga teratur
  • Menurunkan berat badan
  • Berhenti merokok

Obat antihipertensi diberikan jika tidak ada perubahan setelah modifikasi gaya hidup. Ada banyak jenis obat antihipertensi yang terdiri dari golongan ACE-inhibitor, beta-blocker, thiazide, angiotensin II receptor blockers, calcium chanel blocker, dan sebagainya.

Semua obat tersebut berfungsi menurunkan tekanan darah tinggi dengan cara kerja yang berbeda-beda. Indikasi pemberian obatnya pun berbeda-beda disesuaikan dengan usia, derajat hipertensi, dan penyakit lain yang mendasari.

Awalnya dokter akan memberikan satu jenis obat hipertensi dengan dosis paling rendah dan diobservasi selama beberapa waktu. Jika tidak efektif, maka dokter akan meningkatkan dosis obat atau menambahnya dengan obat antihipertensi yang lain.

Penyebab

Penyebab tekanan darah tinggi atau hipertensi dibagi menjadi:

  • Hipertensi primer

    Hipertensi primer menyerang 90% penderita hipertensi. Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti dan cenderung terjadi bertahap selama bertahun-tahun. Faktor gaya hidup dan genetik diduga memiliki peranan penting.

  • Hipertensi sekunder

    Hipertensi yang diketahui penyebabnya, terjadi pada 5-10% penderita hipertensi. Biasanya muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah yang lebih tinggi daripada hipertensi primer.

Beberapa kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi tipe ini antara lain sleep apnea, masalah ginjal, tumor kelenjar adrenal, masalah tiroid, cacat bawaan dalam pembuluh darah, dan obat-obatan tertentu (pil KB, obat flu, obat antinyeri).