Sering Sakit Kepala Akibat Hubungan Toxic, Waspada Psikosomatis!

Oleh Mindok pada 14 Feb 2020, 13:19 WIB
Menjalani hubungan yang toxic hanya akan menambah beban mental. Kamu yang mengalaminya bahkan bisa merasakan sakit kepala akibat gangguan psikosomatis.
Sering Sakit Kepala Akibat Hubungan Toxic, Waspada Psikosomatis!

Klikdokter.com, Jakarta Kehidupan percintaan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Apalagi jika kamu punya pasangan yang hanya baik dari segi penampilan.

Banyak konflik yang dimulai hanya karena masalah kecil yang dibesar-besarkan. Mindok melihat, kondisi seperti ini sering berujung pada terjadinya toxic relationship alias hubungan toxic.

Ngomong-ngomong soal toxic relationship, Mindok jadi ingat salah satu masalah pasien yang pernah terjebak dalam kondisi demikian. Kira-kira, begini ceritanya.

Terjebak dalam Toxic Relationship

Aku adalah wanita yang jatuh cinta dengan pria berparas tampan dan berperilaku baik di depan banyak orang. Tidak terlihat seperti bad boy, tapi selalu bisa memikat hati saat saling bertemu pandang.

Suatu waktu, aku berkenalan dengannya dan berbincang panjang lebar untuk saling mengenal diri masing-masing.

Mulai dari chatting yang dibalas hanya dalam hitungan menit, hingga teleponan tengah malam yang bahkan sampai ketiduran.

Pada waktu itu, aku benar-benar terpikat dengannya. Begitu pula dengan dia, yang mengaku belum pernah bertemu dengan wanita sepertiku.

Berawal dari sini, kami sama-sama berkomitmen untuk menjalin hubungan. Ya, kami berpacaran.

Beberapa bulan pertama, hubungan kami sangat mengesankan, sampai-sampai suka lupa waktu saat sedang berduaan.

Jalan, nonton, ngobrol yang tidak tau arah dan tujuan, apapun itu, terasa membuat hati nyaman dan riang.

Sayang, kebahagiaan itu tidak bisa aku rasakan terus-menerus. Seiring waktu, aku merasakan perubahan yang signifikan pada sikapnya. Hal ini mulai aku rasakan setelah 1 tahun berpacaran dengannya.

Chat yang tadinya dibalas hanya dalam hitungan menit kini telah berubah menjadi hitungan jam. Aku juga sudah tidak pernah lagi berbincang malam dengannya, seperti dulu waktu masih PDKT.

Awalnya aku percaya, dia punya urusan yang mungkin membuatnya sangat sibuk sehingga sulit membagi waktu.

Namun, ketika usia pacaran kami sudah mencapai 1 tahun 2 bulan, aku mulai merasakan kejanggalan yang benar-benar di luar akal sehat.

Dia yang sekarang lebih sering membesarkan masalah kecil. Dia yang tadinya memelukku, kini berubah menjadi hobi memukulku.

Dia yang tadinya memuji, kini malah memaki. Aku dihina, bahkan harga diriku diinjak-injak. Aku jadi seperti tidak berharga di matanya.

Jujur, aku tidak tahan dengan sikap dia yang seperti ini. Aku ingin segera putus, agar segera bebas dari tingkahnya yang tidak pantas.

Tak perlu lama bagiku untuk mengumpulkan keberanian, aku pun mengatakan putus padanya.

Namun, kamu tau dia berkata apa? Dia menolak ajakanku untuk putus.

Dia malah mengancam, jika aku memutuskan hubungan, dia akan menyebarkan foto-foto pribadiku yang hanya aku bagikan dengannya beberapa waktu silam.

Ya sudah, aku terpaksa menarik kata-kataku. Tidak jadi putus dan terus berusaha memperbaiki hubungan dengannya.

Namun, apa daya, dia justru makin kasar dan kembali mengulangi perilaku tidak pantasnya hanya karena masalah-masalah kecil.

Perasaan takut, bingung sekaligus kesal terus menghantuiku. Aku pun jadi sering melamun dan aktivitas menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Akhir-akhir ini, hampir setiap hari aku merasakan sakit kepala, susah fokus, tidak bersemangat dan selalu lemas.

Aku tidak tau harus berbuat apa lagi supaya bisa segera bebas dari beban ini. Karena, akibat kondisi ini, hati dan pikiranku seakan terbelenggu.

1 of 3

Kata Mindok soal Toxic Relationship

Sobat KlikDokter, cerita diatas adalah gambaran nyata dari toxic relationship.

Dalam kamus yang Mindok punya, toxic relationship diartikan sebagai sebuah hubungan yang membuat salah satu atau kedua pihak merasa tidak aman dan nyaman secara terus-menerus.

Hubungan toxic sangat tidak dianjurkan untuk terus dijalankan. Sebab, jika tidak segera dihentikan, orang yang menjadi korban dalam hubungan yang toxic bisa terkena gangguan psikosomatis.

Ilustrasi Psikosomatis
Ilustrasi Psikosomatis
2 of 3

Tanda Kamu Mengalami Psikosomatis

Mengenal Psikosomatis

Pikiranmu adalah penyakitmu, ini adalah gambaran simpel untuk arti dari psikosomatis.

Jika dijelaskan secara lengkap, psikosomatis adalah penyakit fisik yang terjadi atau diperberat oleh tekanan mental alias stres.

Dengan kata lain, stres yang kamu alami berpengaruh langsung pada penurunan kondisi fisik. Tentu saja, kondisi ini bikin kamu lebih gampang sakit.

Meski demikian, saat kamu periksa ke dokter akibat sering sakit lantaran mengalami psikosomatis, hasil diagnosis mungkin tidak akan menunjukkan suatu keanehan.

Karena pada dasarnya, psikosomatis merupakan penyakit yang bersumber di dalam pikiran kamu.

Apa saja ciri-ciri atau gejala psikosomatis? Berikut ini Mindok jabarin ciri-ciri atau gejalanya:

  • Muncul sakit kepala dengan berbagai tipe, misalnya sakit kepala sebelah dan sakit kepala seperti diikat
  • Mudah lelah dan lemas
  • Jantung berdebar cepat meski sedang istirahat
  • Nyeri ulu hati
  • Mual
  • Muntah
  • Tidak nafsu makan
  • Insomnia atau kesulitan untuk tidur di malam hari
  • Seluruh tubuh terasa nyeri

Apakah ada gejala psikosomatis yang saat ini sedang kamu alami? Jika ada, sebaiknya segera lakukan upaya untuk mengatasinya sebelum terlanjur parah.

Ilustrasi Terapi Musik untuk Psikosomatis
Ilustrasi Terapi Musik untuk Psikosomatis

Cara Mengatasi Gangguan Psikosomatis

Karena gangguan psikosomatis melibatkan fisik dan mental, upaya yang perlu kamu lakukan untuk mengatasinya juga harus disesuaikan dengan dua kondisi tersebut.

Dari segi gangguan fisik, kamu perlu minum obat sesuai keluhan yang dialami. Jadi, jika keluhan yang muncul adalah sakit kepala, minum obat sakit kepala adalah cara yang perlu dilakukan.

Jika memang kamu ragu atau tidak tahu betul harus minum obat apa untuk mengatasi gangguan fisik yang terjadi, kamu sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter.

Lalu, bagaimana dengan masalah mental? Nah, untuk kondisi yang satu ini, kamu perlu mengelola stres dengan baik. Kamu perlu mengendalikan kondisi mental agar tidak terus-menerus dalam keadaan tertekan.

Berikut ini tips dari Mindok untuk membantu mengusir stres atau tekanan mental yang terjadi akibat psikosomatis:

  • Mendengarkan Musik yang Menenangkan

Bikin tubuh dan pikiran kamu relaks. Mendengarkan musik dapat membantu pikiran merasa tenang.

Usahakan untuk mendengarkan lagu tanpa teks, agar tidak memengaruhi perasaanmu. Instrumental tanpa teks akan membantu pikiran yang bising untuk menjadi lebih senyap.

  • Berwisata

Berwisata ke tempat-tempat yang kamu inginkan bisa membuat pikiranmu kembali segar.

Penelitian mengatakan bahwa melihat pemandangan yang berwarna hijau juga bisa membuat tubuh lebih relaks, lho!

Karena itu, jangan sampai lupa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tempat wisata yang kamu idam-idamkan, agar pikiran bisa kembali segar dan tenang.

  • Olahraga

Jika memang kamu ingin relaksasi sambil membakar kalori, cobalah melakukan olahraga.

Yoga dapat menjadi salah satu pilihan dan jika dilakukan di bawah pengawasan pelatih yang ahli dapat memberikan manfaat untuk kesehatan fisik dan mental.

  • Akupunktur

Akupunktur adalah terapi tradisional yang dilakukan dengan merangsang titik pada tubuh menusukkan jarum-jarum kecil ke kulit.

Jika dilakukan oleh terapis yang berpengalaman, akupunktur dapat membantu meringankan gejala psikosomatis, meredakan sakit kepala dan nyeri kronis, bahkan mampu mengobati insomnia.

  • Psikoterapi

Psikoterapi adalah jenis terapi yang bertujuan membantu pasien untuk mempelajari cara menyelesaikan masalah dalam kehidupan.

Beberapa jenis psikoterapi yang bisa dicoba untuk mengatasi gangguan psikosomatis, misalnya terapi perilaku (CBT) dan terapi kognitif.

Terapi ini dapat kamu peroleh jika kamu datang berkonsultasi ke dokter.

  • Obat Antidepresan atau Antiansietas

Gejala psikosomatis yang disertai dengan depresi atau kecemasan perlu ditangani obat-obatan antidepresan atau antiansietas.

Penggunaan obat tersebut mesti dan wajib di bawah pengawasan dokter. Jika tidak, kedua jenis obat itu justru akan memberikan efek negatif bagi kesehatan kamu.

Jangan biarkan psikosomatis terjadi berkelanjutan, karena bisa mengganggu aktivitas hingga menurunkan kualitas hidup.

Kamu gak ingin kehilangan minat dan semangat hidup gara-gara psikosomatis, bukan?

Yuk, lebih sayang pada diri sendiri. Upayakan supaya kamu tidak terjebak dalam toxic relationship atau kondisi lain yang bisa memicu gangguan psikosomatis.

Kalau kamu butuh bantuan atau teman curhat, rekan-rekan Mindok siap menemani 1x24 jam. Klik di sini untuk Live Chat.

Lanjutkan Membaca ↓