search

Mitos-Mitos Keliru Tentang Pendidikan Anak

Ada banyak mitos mengenai pendidikan anak yang masih dipercaya orang tua. Simak dan luruskan satu per satu di sini.
Mitos-Mitos Keliru Tentang Pendidikan Anak

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya tumbuh cerdas. Oleh karena itu, banyak sekali upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mewujudkan hal tersebut.

Salah satu cara yang dilakukan adalah membaca informasi yang beredar di Internet karena mudahnya akses. Selain itu, metode pembelajaran mengenai pendidikan anak juga diperoleh para orang tua dari perkumpulannya.

Padahal, tidak semua informasi yang didapatkan itu benar. Masih banyak salah kaprah terkait pendidikan anak yang beredar di luar sana dan dipercaya oleh banyak orang. 

Agar tidak keliru, ketahuilah beberapa mitos terkait pendidikan anak berikut ini: 

1. Nutrisi Adalah Satu-satunya Faktor Penentu Perkembangan Otak Bayi

Nutrisi memang merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan perkembangan otak bayi, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Namun, nutrisi bukanlah satu-satunya faktor.

Selain nutrisi, stimulasi juga merupakan faktor yang sangat penting untuk perkembangan otak bayi. Tanpa stimulasi yang baik, perkembangan otak si Kecil tidak akan optimal.

Artikel Lainnya: Daftar Makanan yang Berguna untuk Tingkatkan Kecerdasan Otak Anak

1 dari 5

2. Anak Harus Diajarkan Mata Pelajaran Sejak Dini

Anak Harus Diajarkan Mata Pelajaran Sejak Dini
loading

Banyak orang tua yang bangga jika sejak dini anaknya sudah pintar berhitung, mengetahui nama-nama tokoh penting, atau mata pelajaran lain. Padahal, bukan itu yang dibutuhkan oleh anak di usia balita.

Pada usia balita, yang penting bagi anak adalah stimulasi. Caranya dengan bermain dan melatih kreativitas anak. Jadi, ingatlah bahwa pendidikan anak usia dini bukan soal hitung-menghitung atau hafalan, ya.

3. Bisa Membaca Sejak Usia Dini Adalah Tanda Anak Jenius

Anak yang dapat membaca sejak dini belum tentu lebih jenius dibandingkan anak lainnya. Bisa saja anak dapat membaca karena memang lebih sudah diajarkan, sedangkan anak lain belum diajarkan cara membaca.

Jadi, kemampuan membaca anak bukan penentu kejeniusan. Tentunya mitos pendidikan yang satu ini tidak perlu Anda percayai lagi. 

4. Kepintaran Anak Ditentukan oleh Rangking di Sekolah

Rangking sekolah dianggap menentukan kecerdasan anak. Padahal, kepintaran tidak hanya dinilai dari aspek kognitif karena pada dasarnya anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Ingatlah bahwa ada anak yang kemampuannya lebih dominan pada aspek kreativitas atau olahraga. Mata pelajaran di sekolah jelas tidak dapat dijadikan patokan standar bagi semua anak.

Jadi, jangan mengatakan bodoh kepada anak jika ia tidak mendapat peringkat baik di sekolah. Tetap semangati ia untuk belajar dan cobalah cari potensi lain yang si Kecil miliki.

Artikel Lainnya: Berapa Usia Ideal Anak Masuk PAUD?

2 dari 5

5. Anak Harus Memiliki Waktu Belajar yang Panjang dalam Sehari

Anak Harus Memiliki Waktu Belajar yang Panjang dalam Sehari
loading

Anak-anak di Indonesia memiliki waktu belajar yang sangat panjang di sekolah. Belum lagi ditambah les privat yang diberikan oleh orang tua di luar jam sekolah. Ketika pulang pun anak masih harus mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Anggapan bahwa semakin lama waktu belajar maka semakin bagus bagi kecerdasan anak, tidak sepenuhnya benar. Anak membutuhkan waktu istirahat dan bermain yang cukup. Jadi, orang tua harus dapat mengatur agar waktu belajar anak tidak berlebihan. 

6. Anak Tidak Boleh Banyak Bermain

Terus belajar tanpa memiliki waktu bermain tentunya akan membuat anak bosan. Nah, jangan berharap anak yang bosan belajar akan memiliki daya tangkap yang optimal.

Itulah sebabnya, anak harus memiliki waktu luang juga untuk bermain. Jika ingin memaksimalkan pendidikan anak, penting untuk menyeimbangkan waktu antara belajar dan bermain.

Bermain, terutama bermain bersama teman atau keluarga di luar rumah sembari melakukan aktivitas fisik merupakan jenis bermain yang dianjurkan. Selain melatih interaksi sosial, bermain di luar rumah juga meningkatkan kemampuan fisik anak.

Artikel Lainnya: Cara Tepat Mendidik Anak yang Keras Kepala

3 dari 5

7. Anak yang Tidak Bisa Diam di Kelas Merupakan Anak ADHD

Anak yang Tidak Bisa Diam di Kelas Merupakan Anak ADHD
loading

Banyak orang tua atau guru yang beranggapan bahwa anak yang tidak bisa diam di kelas pasti merupakan anak hiperaktif (ADHD). 

Tidak bisa diam di kelas memang merupakan salah satu gejala ADHD yang perlu diwaspadai. Namun, hal ini saja tidak cukup dalam menentukan seorang anak mengalami ADHD.

Diperlukan wawancara yang lebih mendalam dan pemeriksaan lanjutan oleh dokter untuk menentukan ADHD pada anak.

8. Anak yang Mengalami Keterlambatan Bicara Harus Masuk Sekolah Khusus

Banyak juga yang berpikir bahwa anak yang terlambat bicara harus langsung masuk ke sekolah khusus. Ini sama sekali tidak benar.

Tidak semua anak yang terlambat bicara memiliki IQ yang rendah. Sebagian anak terlambat bicara karena adanya faktor lain, seperti gangguan pendengaran, kurangnya stimulasi, atau penyebab lain.

Sembari dilakukan pemeriksaan oleh dokter serta fisioterapi bicara, anak yang terlambat bicara bisa masuk ke sekolah biasa karena hal ini justru akan melatih kemampuan bicaranya. 

Artikel Lainnya: Kiat Mendidik Anak dengan Metode Multilingual

4 dari 5

9. Sekolah Mahal Menunjang Kecerdasan Anak

Sekolah Mahal Menunjang Kecerdasan Anak
loading

Banyak orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah mahal. Ini bisa terjadi karena terpengaruh teman dan sosial media atau memang menganggap bahwa sekolah mahal pasti bagus untuk pendidikan anak.

Padahal, tidak selalu demikian juga. Kualitas sekolah tidak serta-merta ditentukan oleh harga. Banyak hal lain yang mesti Anda pertimbangkan dan Anda teliti sebelum memilih sekolah untuk anak.

10. Anak Harus Diajarkan Bahasa Inggris Sejak Bayi

Akhir-akhir ini banyak orang tua yang mengajarkan bahasa inggris kepada anak sejak usia dini. Umumnya alasannya adalah agar si Kecil dapat mempelajari dua bahasa secara simultan. Padahal, kemampuan anak dalam mempelajari bahasa berbeda-beda.

Anak yang diajarkan dua bahasa sejak dini memang ada yang pada akhirnya dapat menguasai dua bahasa dengan baik. Namun, sebagian lagi malah kebingungan sehingga mencampur-adukkan dua bahasa tersebut. 

Sah-sah saja untuk menerapkan pendidikan bahasa kepada anak sejak usia dini. Namun, agar tidak terjadi kebingungan, tentukan sistem yang tepat sehingga tidak mempersulit komunikasi anak.

Baca Juga

Demikian beberapa mitos seputar pendidikan anak yang sebaiknya tidak Anda telan mentah-mentah. Demi menunjang kecerdasan anak, orang tua sebaiknya mendampingi dan memberikan stimulasi yang tepat. Selain itu, perhatikan pula asupan makanan si Kecil karena nutrisi menjadi salah satu penunjang kecerdasan anak.

Anda juga dapat berkonsultasi mengenai topik terkait kepada pakarnya melalui fitur Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Gratis!

[WA]

KONSULTASI LEBIH LANJUT

avatar

dr. Ricca Fauziyah, Sp. A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 50.000
avatar

dr. Nofiyanty Nicolas, Sp.A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 50.000
avatar

dr. Andrew Limantoro, Sp. A

Spesialis Anak
wallet
Rp. 20.000

ARTIKEL TERKAIT

Apakah Kanker Paru-paru Bisa Menyerang Anak?

Info Sehat
20 Mar

Daftar Seafood yang Baik untuk Tumbuh Kembang Otak Anak

Info Sehat
18 Mar

Cara Agar Anak Minum Air Putih Lebih Banyak

Info Sehat
13 Mar

Manfaat Peterseli atau Parsley bagi Kesehatan Anak

Info Sehat
13 Mar

Pandemi COVID-19 Bikin Anak Rentan Mengalami Mata Minus

Info Sehat
11 Mar

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat