Nasib Penyandang Cacat di Indonesia vs Negara Tetangga

Oleh dr. Nadia Octavia pada 02 Des 2016, 08:15 WIB
Bisa terbilang kurang didukung. Namun inilah nasib penyandang cacat di Indonesia.
Nasib Penyandang Cacat di Indonesia vs Negara Tetangga

Menjadi penyandang cacat merupakan kondisi yang tak ingin dialami oleh siapa pun di dunia ini. Namun apa daya, penyakit stroke, cerebral palsy, cedera, dan trauma akibat kecelakaan, membuat seseorang tidak bisa menghindari kondisi ini.

Tapi kondisi ini sebenarnya tak hanya mengganggu orang yang menyandangnya. Keluarga dan kerabat pun pasti merasakan dampaknya.

Cacat menuntut penyandangnya untuk menggunakan bantuan alat, seperti kursi roda atau tongkat, dalam beraktivitas. Meski awalnya terasa sulit, namun seiring dengan waktu, penyandang akan terbiasa untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan ini.

Di Indonesia, fasilitas yang tersedia bagi penyandang cacat bisa dibilang kurang mumpuni bagi mereka untuk dapat hidup mandiri. Ini berbeda dengan negara-negara tetangga.

Transportasi Publik

Transportasi publik di Indonesia tergolong jauh dari layak untuk para penyandang cacat. Sebut saja bus atau kereta yang sangat tidak ramah bagi mereka.

Hanya terdapat sedikit halte atau stasiun yang menyediakan sarana ataupun jalanan untuk kursi roda. Bahkan, kebanyakan fasilitas yang tersedia mengharuskan seseorang untuk menaiki tangga.

Beberapa perusahaan taksi sudah menyediakan sarana bagi penyandang cacat. Sayangnya, jumlah armada yang disediakan masih minim dan tergolong tidak mencukupi.

Bandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Transportasi publik, seperti kereta bawah tanah dan monorail di kedua negara tersebut menyediakan lift dan jalur khusus penyandang cacat di setiap stasiunnya.

Bahkan banyak penyandang cacat di Singapura yang dapat bepergian secara mandiri menggunakan kursi roda elektriknya. Tanpa harus ditemani oleh anggota keluarganya.

Tak hanya bus atau kereta saja, di bandara pun penyandang cacat di Indonesia kerap mengalami kesulitan. Untuk menaiki pesawat, para penyandang cacat harus menaiki tangga karena tidak tersedianya garbarata ataupun lift yang menuju pintu pesawat.

Coba bandingkan kembali dengan Singapura. Di sana, para penumpang akan langsung disambut dengan garbarata yang tentu saja akan memudahkan penyandang cacat untuk menaiki atau turun dari pesawat.

Fasilitas Publik

Fasilitas publik –seperti toilet umum ataupun pusat perbelanjaan, juga kerap menyulitkan para penyandang cacat di Indonesia. Tidak semua toilet dilengkapi dengan fasilitas khusus penyandang cacat –termasuk di pusat perbelanjaan bermutu tinggi.

Ini berbeda dengan apa yang terdapat di Singapura. Fasilitas toilet untuk penyandang cacat tersedia dalam jumlah yang jauh lebih banyak bila dibandingkan di Indonesia.

Tak hanya itu, tempat memarkirkan kendaraan juga demikian. Masih sedikit sekali tempat parkir di Indonesia yang memiliki tempat khusus bagi para penyandang cacat.

Memang sungguh disayangkan. Penyandang cacat yang ingin hidup mandiri menjadi terhambat oleh minimnya fasilitas pendukung di Indonesia.

Semoga ke depannya, Indonesia menjadi negara yang bisa berbenah diri dan ramah bagi para penyandang cacat. Bahkan lebih baik dari Singapura ataupun Malaysia.

(NB/RH)

Baca Juga: