Yuk, Ketahui Jarak dan Jadwal Imunisasi Anak

Pandemi corona berimbas pada banyak hal, termasuk jadwal imunisasi anak. Ada banyak orang tua yang akhirnya ragu untuk melengkapi vaksinasi anaknya. Lalu, apa yang harus dilakukan?
Yuk, Ketahui Jarak dan Jadwal Imunisasi Anak

Klikdokter.com, Jakarta Di tengah pandemi COVID-19 yang belum berakhir, tidak sedikit orang tua yang ragu untuk membawa anaknya ke rumah sakit atau puskesmas untuk melanjutkan jadwal imunisasi. 

Padahal, ada berbagai penyakit infeksi yang mengancam kesehatan anak, khususnya saat masa pandemi ini. Salah satu cara untuk melindungi anak dari infeksi adalah melalui imunisasi. Agar tepat guna, jarak dan jadwal imunisasi anak perlu diperhatikan dengan baik.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun menginstruksikan agar jadwal imunisasi tetap berjalan semestinya, walaupun akan ada keterlambatan akibat PSBB yang diberlakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Imunisasi berkontribusi mengurangi angka kejadian berbagai penyakit di dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan, Indonesia telah dinyatakan bebas cacar dan polio berkat program imunisasi nasional. Karena itu, tak heran bila pemerintah sangat mendorong orang tua untuk membawa anak melakukan imunisasi sesuai jadwal.

1 dari 3

Jenis-jenis Imunisasi

Ilustrasi sedang Imunisasi Anak
loading

Imunisasi adalah usaha meningkatkan kekebalan tubuh terhadap sebuah penyakit. Terdapat dua jenis imunisasi, yaitu aktif dan pasif. Imunisasi aktif diperoleh setelah seseorang pulih dari penyakit atau melalui vaksinasi. Sedangkan imunisasi pasif diperoleh dari ibu selama dalam kandungan.

Di Indonesia, ada lima jenis imunisasi anak yang diwajibkan, yaitu hepatitis B, BCG, polio, DTP-HB, dan campak. Di samping itu, ada pula imunisasi tambahan yang dianjurkan, seperti influenza, PCV, rotavirus, MMR, dan varicella.

Artikel lainnya: 6 Imunisasi Wajib untuk Anak

Imunisasi diperlukan oleh anak mulai dari usia 0–18 tahun, disertai waktu pemberiannya. Umumnya, jarak pemberian antara imunisasi yang satu dengan imunisasi yang lainnya berkisar antara 4–8 minggu.

Berikut adalah jadwal pemberian imunisasi dasar wajib yang telah direkomendasikan oleh IDAI:

  • Usia 0 bulan: vaksin hepatitis B 0 + OPV 0 (oral poliovirus vaccine)
  • Usia 1 bulan: vaksin BCG
  • Usia 2 bulan: vaksin pentavalent 1 (vaksin DTP + hepatitis B + Hib) + OPV 1
  • Usia 3 bulan: vaksin pentavalent 2 + OPV 2
  • Usia 4 bulan: vaksin pentavalent 3 + OPV 3 + IPV
  • Usia 9 bulan: vaksin MR 1 (vaksin campak)
  • Usia 18 bulan: vaksin pentavalent 4 + OPV 4 + MR 2

Sebagai catatan tambahan, pentavalent + OPV bisa diganti dengan hexavalent yang merupakan gabungan dari pentavalent dan IPV (inactivated poliovirus vaccine). 

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, untuk vaksin DTP, dapat diberikan vaksin DTPw (DTP whole-cell) atau DTPa (DTP acellular) atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan vaksin DTPa, maka interval jadwal imunisasi lengkap pemberian vaksin lanjutan tersebut pada usia 2, 4, dan 6 bulan. 

Untuk usia lebih dari 7 tahun, diberikan vaksin Td (tetanus dan difteri) atau Tdap (tetanus, difteri, aselular pertusis). Untuk DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

Tidak hanya itu, dr. Dyah Novita Anggraini juga menyarankan untuk melakukan beberapa imunisasi tambahan yang dapat diberikan untuk mencegah beragam penyakit mematikan lainnya: 

  • Imunisasi Rotavirus. Vaksin rotavirus terdapat dua jenis, yaitu vaksin rotavirus monovalent dan pentavalent. 

Vaksin rotavirus monovalent diberikan sebanyak dua kali. Usia pertama kali diberikan yaitu 6–14 minggu, sedangkan vaksin kedua diberikan dengan jarak 4 minggu dari vaksin pertama dan batas usia pemberian 24 minggu.

Vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak tiga kali yaitu di usia 6–14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan jarak 4–10 minggu dari jarak sebelumnya dengan batas usia pemberian 32 minggu.

  • Imunisasi Campak. Vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dengan vaksin lanjutan di usia 18 bulan dan 6 tahun. Namun, vaksin kedua tidak perlu diberikan bila sudah mendapatkan vaksin MMR.
  • Imunisasi MMR/MR. Vaksin MMR terdiri dari tiga jenis virus yang dilemahkan, untuk melawan penyakit campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman/rubella (German measles). 

Jika sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Bila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, dapat diberikan vaksin MMR/MR. 

  • Imunisasi PCV (pneumokokus). Vaksin PCV diberikan pada usia 7–12 bulan, dengan jarak 2 bulan dari vaksin sebelumnya selama tiga kali dan vaksin terakhir diberikan satu kali di atas usia 1 tahun. Pada anak usia 2 tahun, PCV hanya perlu diberikan satu kali.

Artikel lainnya: Selain Imunisasi Wajib, Perlukah Imunisasi Tambahan untuk Anak Anda?

  • Imunisasi Varisela. Vaksin varisela diberikan setelah anak berusia 12 bulan. Bila diberikan lebih dari usia 13 tahun, vaksin varisela dilakukan sebanyak dua kali dengan interval minimal 4 minggu.
  • Imunisasi HPV (Human Papillomavirus). Vaksin HPV mulai diberikan saat anak berusia 10 tahun. Terdapat dua jenis vaksin HPV, yaitu HPV bivalen yang diberikan dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Lalu vaksin HPV tetravalent dengan jadwal 0, 2, dan 6 bulan.
  • Imunisasi JE (Japanese Encephalitis). Vaksin JE diberikan pada usia 12 bulan pada orang yang akan memasuki wilayah endemis.
  • Imunisasi Dengue. Vaksin dengue diberikan pada usia 9–16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan.
2 dari 3

Bagaimana Bila Terlambat Imunisasi?

Ilustrasi Terlambat Imunisasi pada Anak
loading

Bila terlambat memberikan imunisasi, orang tua tetap harus membawa anak ke fasilitas kesehatan. Sebagian besar imunisasi tetap dapat diberikan sesuai jadwal, meskipun terlambat (catch-up immunization).

Pemberian imunisasi yang terlambat atau tidak sesuai jadwal bukan merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi.

Baca Juga

Mengingat besarnya manfaat imunisasi, Anda sebagai orang tua harus selalu ingat jadwal imunisasi anak. Sekalipun terlambat, Anda tetap harus membawa anak ke fasilitas kesehatan. Karena lebih baik terlambat daripada anak tak memperoleh imunisasi sama sekali, bukan?

Jika masih ada pertanyaan terkait imunisasi anak, Anda dapat berkonsultasi kepada dokter kami melalui layanan Live Chat di aplikasi KlikDokter. Gratis!

[NWS]

Live Chat 24 Jam

Ingin konsultasi mengenai artikel di atas?

Masuk

REAKSI ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Kemenkes Tetap Anjurkan Imunisasi Anak pada Masa Pandemi Virus Corona

Info Sehat
29 Apr

Inilah Cara Ampuh Mencegah Difteri selain Vaksin

Info Sehat
22 Apr

Harus Imunisasi Bayi saat Pandemi Virus Corona, Perhatikan Hal Ini

Info Sehat
28 Mar

Australia Uji Coba Vaksin TB atau BCG untuk Lawan Virus Corona

Info Sehat
27 Mar

Pentingkah Melakukan Vaksin IPD?

Info Sehat
20 Mar

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk