Alasan Mengapa Nasi Putih Bikin Ngantuk

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 27 Jan 2018, 18:13 WIB
Makan seporsi nasi Padang bikin Anda ngantuk? Anda tidak sendirian. Ini penjelasan medisnya.
Alasan Mengapa Nasi Putih Bikin Ngantuk (shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Nasi merupakan salah satu makanan pokok yang lazim ditemui di menu makanan orang Asia, khususnya Indonesia. Lekatnya kebiasaan makan nasi ini bahkan sering dijadikan bahan lelucon seperti, “Orang Indonesia belum benar-benar ‘makan’ kalau belum makan nasi”. Nasi hampir selalu ada dalam menu makanan harian, bahkan bisa jadi Anda makan nasi tiga kali sehari.

Setelah menyantap habis seporsi nasi Padang saat makan siang, apakah Anda merasakan kantuk yang tidak tertahankan? Jika ya, Anda tidak sendirian karena konsumsi nasi memang bisa bikin ngantuk!

Kadar gula dan rasa mengantuk

Nasi merupakan hasil proses dari bulir padi yang merupakan bagian dari kelompok tanaman serealia. Seperti bahan makanan dari tanaman serealia lainnya, nasi juga kaya akan pati. Kebanyakan makanan yang mengandung pati, seperti nasi dan kentang, memiliki indeks glikemik yang tinggi. Lalu apa hubungan indeks glikemik yang tinggi terhadap rasa ngantuk?

Pati dalam nasi merupakan bentuk karbohidrat kompleks, yang oleh tubuh akan dicerna menjadi glukosa. Glukosa sendiri adalah bentukan gula yang merupakan sumber energi utama untuk kerja otot dan organ vital tubuh. Semakin cepat karbohidrat dalam suatu makanan dapat dicerna, semakin tinggi indeks glikemiknya karena semakin tinggi lonjakan kadar gula dalam darah yang ditimbulkan.

Proses pencernaan yang cepat ini memerlukan energi yang cukup banyak, sehingga tubuh akan memprioritaskan suplai energi pada fungsi pencernaan. Pergeseran prioritas pasokan energi ini akan mengurangi 'jatah' fungsi tubuh lainnya, termasuk otak dan otot yang kemudian membuat Anda merasa lemas dan mengantuk.

Menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal The American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2007, indeks glikemik pada makanan dapat secara signifikan memengaruhi sleep onset latency (SOL), atau durasi dari terjaga hingga tertidur. Penelitian yang dilakukan pada 12 orang pria dewasa sehat ini menunjukkan bahwa makanan dengan indeks glikemik yang tinggi mampu memendekkan durasi SOL, dengan hasil terbaik didapatkan pada pemberian makanan 4 jam sebelum jam tidur.

Efek yang ditimbulkan oleh tingginya indeks glikemik ini diduga diakibatkan oleh meningkatkanya jumlah insulin dan asam amino triptofan (TRP) dalam darah. TRP ini akan masuk ke otak dan diubah menjadi serotonin, yang kemudian menjadi melatonin, yaitu hormon yang penting untuk fungsi tidur pada mamalia, termasuk manusia.

Dampak indeks glikemik tinggi pada tubuh

Meski rasa kantuk akibat indeks glikemik tinggi ini sering digambarkan sebagai dampak yang positif untuk kualitas tidur seseorang, tapi tak selamanya makanan berindeks glikemik tinggi baik untuk tubuh. Terutama bagi Anda yang memiliki gangguan kadar gula darah tinggi atau diabetes, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan. Lebih baik penuhi kebutuhan energi dari gula dengan makan makanan yang memiliki indeks glikemik rendah.

Jika Anda tidak ingin merasa ngantuk setelah makan siang di kantor, hindari makan dengan menu yang didominasi nasi. Ganti menu makanan dengan kombinasi protein dan sayuran agar energi tetap dapat terpenuhi. Anda pun akan merasa kenyang lebih lama. Untuk lonjakan energi yang besar tanpa menyebabkan kantuk, Anda juga bisa menambahkan konsumsi buah-buahan dengan indeks glikemik rendah seperti jeruk bali, pir, pisang, anggur, atau semangka ke dalam menu makan Anda.

[RN/ RVS]