Benarkah Minum Teh Panas Picu Kanker Tenggorokan?

Oleh Gerardus Septian Kalis pada 07 Feb 2018, 17:02 WIB
Ada yang mengatakan, minum teh panas bisa sebabkan penyakit kanker tenggorokan. Ini penjelasannya.
Benarkah Minum Teh Panas Picu Kanker Tenggorokan?(Africa Studio/shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anda suka mengonsumsi teh panas? Jika ya, sepertinya mulai saat ini Anda harus hati-hati. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa teh panas bisa memicu kanker tenggorokan. Tapi tunggu dulu, kanker ini akan muncul di tenggorokan jika dikombinasikan dengan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine, para periset melibatkan lebih dari 450.000 individu dari 10 wilayah di Cina selama sembilan tahun. Subjek yang berpartisipasi berusia sekitar 30 sampai 79 tahun.

Para periset mencatat suhu teh yang biasa dikonsumsi dan menyuruh peserta merekam gaya hidup sehari-harinya pada awal penelitian. Pada akhir penelitian, 1.731 kasus kanker tenggorokan terjadi.

Dari situ, para periset menyimpulkan bahwa mereka yang minum teh kurang dari sekali seminggu dan mengonsumsi 15 gram alkohol setiap hari, jauh lebih kecil kemungkinan untuk mengalami kanker tenggorokan. Sementara itu, peserta yang minum teh panas dan mengonsumsi 15 gram atau lebih alkohol setiap harinya, memiliki kemungkinan lima kali lebih besar terserang kanker.

Jun Lv, profesor epidemiologi dan biostatistik di Peking University School of Public Health yang juga penulis utama dari studi ini menyarankan untuk menghindari konsumsi teh pada suhu tinggi. Terutama untuk mereka yang memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol dan aktif merokok.  

“Tentu saja, menjauhkan diri dari tembakau dan alkohol berlebihan adalah cara yang paling penting untuk pencegahan kanker tenggorokan,” kata Lv, kepada Time.

Melihat hasil dari studi tersebut, Profesor Andrew Sharrocks dari University of Manchester ikut berkomentar. Ia mengatakan bahwa kebiasaan minum teh di beberapa negara berbeda-berbeda, sehingga tidak bisa menyamaratakan hasil penelitian ini untuk semua orang. 

“Jadi, walaupun penelitian ini mungkin relevan dengan populasi di Cina, hal ini kurang relevan di Barat dalam hal faktor penyebab,” jelasnya, dilansir Guardian.

1 of 2

Teh tetap memiliki manfaat

Di belahan dunia bagian Timur, minum teh sudah merupakan tradisi, bahkan seolah telah menjadi minuman nasional di Cina dan Jepang. Di balik itu, teh juga telah dibuktikan oleh teknologi kedokteran Barat dapat memberikan manfaat kesehatan.

Beberapa penelitian menemukan bahwa senyawa antioksidan yang terkandung di dalam teh, yaitu polifenol dan katekin, dapat mencegah beberapa risiko kanker. Suatu studi menyebutkan bahwa minum teh hitam secara rutin dapat menurunkan risiko kanker ovarium pada wanita.

Tidak hanya itu, berdasarkan studi dari Harvard School of Public Health, peminum teh memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes dibandingkan dengan yang jarang minum teh. Polifenol yang tersimpan di dalam teh dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Selain itu, kandungan kafein dan teanin pada teh juga dipercaya dapat menstimulasi otak. Meski demikian, kafein di dalam teh tidaklah sebanyak yang terdapat pada kopi, sehingga aman untuk dikonsumsi oleh Anda yang sensitif terhadap pengaruh kafein.

Manfaat teh untuk kesehatan memang tak perlu diragukan lagi. Anda akan mendapat banyak kebaikan darinya. Namun satu yang pasti, hindarilah meminum teh secara berlebihan, apalagi jika diselingi oleh rokok. Karena merokok merupakan salah satu faktor risiko yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tenggorokan. Begitu juga dengan konsumsi alkohol yang di luar batas.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓