4 Hal Ini Bikin Anak Mudah Terserang Diare

Oleh dr. Anita Amalia Sari pada 19 Feb 2018, 12:18 WIB
Diare adalah masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Kenali penyebabnya di sini.
4 Hal Ini Bikin Anak Mudah Terserang Diare (Kwanchai C/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Siapa sih yang tidak pernah terserang diare? Diare dapat menyerang segala usia tak terkecuali anak-anak. Hingga saat ini diare masih menjadi masalah kesehatan anak di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada anak di bawah usia 5 tahun dan sekitar 1,7 miliar anak di dunia mengalami diare setiap tahunnya. Diare ialah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali dalam sehari atau melebihi frekuensi buang air besar normal seorang anak. Sering kali diare disebabkan oleh infeksi, baik infeksi virus, bakteri maupun parasit.

Selain itu, diare juga dapat disebabkan oleh penggunaan antibiotik, alergi, intoleransi laktosa dan beberapa kondisi gangguan pada saluran cerna. Penyebaran kuman penyebab diare sebagian besar melalui tinja yang terkontaminasi kuman dan tertelan oleh si Kecil, hal ini dikenal sebagai penyebaran fecal-oral.

Bila tidak ditangani dengan benar, anak dapat berisiko lebih besar mengalami dehidrasi berat akibat diare. Oleh karena itu, sebagai orang tua, Anda perlu mengenali sejumlah faktor yang dapat membuat anak terserang diare

1 of 2

Kenali pemicu diare pada anak

Status gizi dan kebersihan lingkungan serta perorangan memegang peranan penting terhadap kemungkinan anak terkena diare. Berikut di bawah ini adalah 4 faktor risiko yang mempermudah seorang anak terserang diare:

  1. Status gizi kurang baik

Anak dengan status gizi dan kesehatan tubuh yang kurang, lebih mudah terkena diare berat, berkepanjangan dan berulang. Lapisan saluran cerna anak yang mengalami kekurangan nutrisi diduga sangat mudah terserang infeksi karena daya tahan tubuhnya yang kurang baik.

Selain itu ketika anak mengalami diare, kemungkinan status gizinya akan semakin memburuk akibat berkurangnya nafsu makan dan penyerapan nutrisi kurang optimal. Menurut data WHO, sekitar 129 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia memiliki berat badan kurang dibandingkan anak lain di usianya.

  1. Kebersihan perorangan yang buruk

Apakah Anda masih malas mencuci tangan? Sebuah penelitian dilakukan oleh Hanif et al di Yogyakarta, tentang Faktor Risiko Diare Akut pada Balita.

Ditemukan bahwa  ternyata buruknya kebiasaan mencuci tangan pada ibu atau pengasuh balita, berisiko menyebabkan diare akut 2,45 kali, dibandingkan dengan ibu atau pengasuh yang memiliki perilaku cuci tangan yang baik. Kebiasaan mencuci tangan dengan memakai sabun dapat menurunkan kemungkinan terserang diare pada anak sebesar 47%.

Ajari anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, seperti sebelum dan sesudah makan, sesudah main dan sesudah buang air besar. Begitu pula dengan orang tua atau pengasuh, diwajibkan untuk mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan.

  1. Kurangnya sarana air bersih

Kuman penyebab diare dapat ditularkan melalui makanan, minuman maupun benda yang tercemar dengan tinja. Sebagai contoh, air yang terkontaminasi kuman digunakan untuk minum, cuci tangan, wadah makanan dan minuman. Kuman dapat masuk ke mulut anak melalui kontak dengan benda-benda tersebut dan menyebabkan diare.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk menjamin kebersihan air di lingkungan tempat tinggal Anda. Minumlah air yang matang (direbus hingga mendidih selama 1-3 menit), simpan air di tempat bersih dan tertutup serta cuci semua peralatan makan menggunakan air bersih.

  1. Sarana pembuangan tinja yang buruk

Meskipun jarang ditemukan di kota besar, namun ternyata masih ada masyarakat atau keluarga yang tidak memiliki jamban. Akibatnya keluarga tersebut tidak memiliki tidak ada sarana pembuangan tinja yang memadai.

Semua orang sudah selayaknya membuang air besar di jamban dan setiap keluarga harus memiliki jamban yang berfungsi baik serta dibersihkan secara teratur. Sarana pembuangan tinja yang buruk dapat menjadi tempat penyebaran kuman atau tempat berkembang biaknya lalat.

Selain itu orang tua atau pengasuh perlu memperhatikan cara pembuangan tinja bayi. Jika bayi atau anak masih menggunakan popok, buanglah tinja terlebih dahulu ke jamban. Jangan langsung membuang popok yang berisi kotoran si Kecil ke tempat sampah.

Penting sekali bagi orang tua atau pengasuh untuk mengetahui faktor risiko yang dapat mempermudah seorang anak terkena diare, sehingga dapat lebih berhati-hati. Lingkungan bersih serta dukungan pengasuh dan masyarakat yang menjalani perilaku hidup sehat secara konsisten dapat membantu.menjauhkan si Kecil dari kemungkinan terkena penyakit diare.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓