Hal-Hal yang Bikin Anak Mudah Terserang Diare

Oleh dr. Dyah Novita Anggraini pada 24 Jun 2020, 08:48 WIB
Diare adalah masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Kenali penyebabnya di sini.
Hal-Hal yang Bikin Anak Mudah Terserang Diare

Klikdokter.com, Jakarta Diare dapat menyerang segala usia, tak terkecuali anak-anak. Hingga saat ini, diare pada anak masih menjadi masalah kesehatan di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada anak di bawah usia 5 tahun, dan sekitar 1,7 miliar anak di dunia mengalami diare setiap tahunnya.

Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari atau melebihi frekuensi buang air besar normal seorang anak. Sering kali diare disebabkan oleh infeksi, baik infeksi virus, bakteri, maupun parasit.

1 of 4

Gejala Diare pada Anak

Ilustrasi Gejala Diare pada Anak
Ilustrasi Gejala Diare pada Anak

Gejala diare pada anak yang sering terjadi, antara lain:

  • Perut Kembung dan Nyeri Perut

Kuman yang menyerang saluran cerna dapat menyebabkan penderita merasakan perut kembung, karena banyaknya gas yang dihasilkan. Sementara, nyeri perut terjadi karena kontraksi perut terus-menerus untuk mengeluarkan kotoran dan racun di dalam saluran pencernaan.

Artikel Lainnya: Anak Diare, Bolehkah Minum Susu?

  • Lemas dan Dehidrasi

Saat diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh dengan cepat. Hal ini dikarenakan saluran cerna sulit menyerap cairan dan elektrolit. Apabila tidak tertangani dengan baik, akan meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi.

  • Demam

Apabila diare pada anak disebabkan infeksi virus atau bakteri, tubuh penderita dapat bereaksi terhadap kuman penyebab penyakit tersebut. Akibatnya, bisa timbul gejala demam.

2 of 4

Penyebab Diare pada Anak

Seorang Anak sedang Mengalami Diare
Seorang Anak sedang Mengalami Diare

Berikut adalah empat faktor risiko yang mempermudah seorang anak terserang diare:

  1. Status Gizi Kurang Baik

Anak dengan status gizi yang kurang lebih mudah terkena diare berat, berkepanjangan, dan berulang. Lapisan saluran cerna anak yang mengalami kekurangan nutrisi diduga sangat mudah terserang infeksi, karena daya tahan tubuhnya yang kurang baik.

Selain itu, ketika anak mengalami diare, kemungkinan status gizinya akan semakin memburuk akibat berkurangnya nafsu makan dan penyerapan nutrisi kurang optimal. Menurut data WHO, sekitar 129 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia memiliki berat badan kurang dibandingkan anak lain di usianya.

  1. Kebersihan Perorangan yang Buruk

Sebuah penelitian menyebutkan, kebiasaan mencuci tangan yang buruk pada ibu atau pengasuh balita berisiko menyebabkan diare akut 2,45 kali, dibandingkan dengan ibu atau pengasuh yang memiliki perilaku cuci tangan yang baik.

Kebiasaan mencuci tangan dengan memakai sabun dapat menurunkan kemungkinan terserang diare pada anak sebesar 47%. Jadi, ajari anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, seperti sebelum dan sesudah makan, sesudah main, dan sesudah buang air besar.

Artikel Lainnya: Yuk, Kenali Pertolongan Pertama pada Anak Diare

Begitu pula dengan orang tua atau pengasuh, diwajibkan untuk mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan.

  1. Kurangnya Sarana Air Bersih

Kuman penyebab diare pada anak dapat ditularkan melalui makanan, minuman maupun benda yang tercemar dengan tinja.

Sebagai contoh, air yang terkontaminasi kuman digunakan untuk minum, cuci tangan, wadah makanan dan minuman. Kuman dapat masuk ke mulut anak melalui kontak dengan benda-benda tersebut dan menyebabkan diare.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk menjamin kebersihan air di lingkungan tempat tinggal Anda. Minumlah air yang matang (direbus hingga mendidih selama 1-3 menit), simpan air di tempat bersih dan tertutup, serta cuci semua peralatan makan menggunakan air bersih.

  1. Sarana Pembuangan Tinja yang Buruk

Meskipun jarang ditemukan di kota besar, ternyata masih ada masyarakat atau keluarga yang tidak memiliki jamban. Akibatnya keluarga tersebut tidak memiliki sarana pembuangan tinja yang memadai.

Semua orang sudah selayaknya membuang air besar di jamban dan setiap keluarga harus memiliki jamban yang berfungsi baik serta dibersihkan secara teratur. Sarana pembuangan tinja yang buruk dapat menjadi tempat penyebaran kuman atau tempat berkembang biaknya lalat.

Artikel Lainnya: Anak Diare, Perlukan Diberikan Antibiotik?

Selain itu, orang tua atau pengasuh perlu memperhatikan cara pembuangan tinja bayi. Jika bayi atau anak masih menggunakan popok, buanglah tinja terlebih dahulu ke jamban. Jangan langsung membuang popok yang berisi kotoran si Kecil ke tempat sampah.

  1. Efek Samping Obat

Penggunaan obat, salah satunya antibiotik, pada anak dapat menyebabkan gangguan diare selama mengonsumsi obat tersebut. Sehingga tak heran bila anak mudah diare ketika sedang mengonsumsi obat tertentu.

  1. Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak mampu mencerna laktosa (gula dalam susu) dalam jumlah banyak. Hal ini terjadi karena tidak ada atau kurangnya enzim laktase di dalam tubuh yang bertugas untuk mencerna laktosa.

Salah satu gejalanya adalah diare berbusa serta mual dan muntah. Anak yang memiliki risiko intoleransi laktosa mudah mengalami gejala diare.

3 of 4

Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?

Ibu Periksa Kondisi Diare Anaknya sebelum Dibawa ke Dokter
Ibu Periksa Kondisi Diare Anaknya sebelum Dibawa ke Dokter

Segera periksakan anak ke dokter apabila kondisi diarenya semakin berat atau terdapat gejala berikut ini:

  • Adanya tanda dehidrasi seperti mulut anak kering, mata cekung, jumlah urine sedikit
  • Sesak napas
  • Pingsan
  • Kejang
  • BAB berdarah

Cara mengatasi diare pada anak bisa dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Penting sekali bagi orang tua atau pengasuh untuk mengetahui faktor risiko yang dapat mempermudah seorang anak terkena diare, sehingga dapat lebih berhati-hati dan tahu bagaimana cara mengobati diare pada anak.

Lingkungan bersih serta dukungan pengasuh dan masyarakat yang menjalani perilaku hidup sehat secara konsisten, dapat membantu menjauhkan si Kecil dari kemungkinan terkena diare.

[FY]

Lanjutkan Membaca ↓