Kiat Menggunakan Earphone agar Aman untuk Telinga

Oleh Ruri Nurulia pada 04 Mar 2018, 14:05 WIB
Tak ada yang benar-benar bisa melindungi telinga dari intensitas dan kuatnya paparan suara dari earphone. Simak cara aman penggunaannya di sini.
Kiat Menggunakan Earphone agar Aman untuk Telinga

Klikdokter.com, Jakarta Melakukan perjalanan dengan transportasi umum setiap hari? Mengusir rasa bosan di kantor? Malas mendengarkan percakapan di sekitar yang bising? Atau sekadar butuh musik sebagai pembangkit mood? Memasang penyuara telinga atau yang lebih dikenal sebagai earphone adalah solusinya!

Tak ada yang salah dengan kebiasaan mendengarkan musik dengan earphone pada berbagai kesempatan. Namun, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, penggunaannya bisa menyebabkan gangguan, bahkan kehilangan pendengaran.

Sebetulnya earphone tidak secara langsung dapat menimbulkan risiko kesehatan. Namun, risiko ada pada volume dan lamanya waktu yang Anda habiskan untuk mendengarkan lagu, podcast (rangkaian program audio episodik digital), atau buku audio.

Risiko penggunaan earphone

Earphone berukuran kecil dan pas menutupi lubang telinga. Meski demikian, beda dengan headphone, earphone tidak dapat menghalangi suara dari luar. Ketika Anda bepergian dengan kereta, bus, atau ojek, bisingnya suara dari sekitar mau tak mau membuat Anda mengeraskan volume saat mendengarkan musik dengan earphone.

Semakin keras suara, maka akan semakin cepat hal tersebut dapat menimbulkan luka pada telinga. Jika Anda tidak berhati-hati, gelombang suara yang terlalu keras dapat merobek menembus gendang telinga. Meski demikian, hal ini tidak akan terjadi saat Anda sedang mendengarkan musik dengan earphone.

Menurut Dr. Aaron Pearlman, spesialis THT dari Weill Cornell Medicine and New York-Presbyteria, Amerika Serikat, seperti dikutip di laman Washington Post, sebagian besar gangguan pendengaran adalah akibat dari kerusakan saraf.

Diam-diam, smartphone atau perangkat audio player Anda lebih dari mampu untuk menyebabkan kerusakan tersebut. Anda dapat terpapar suara berkekuatan 85 desibel (dB), yaitu seperti suara dari bisingnya kemacetan kota, sepanjang hari tanpa menyebabkan kerusakan saraf. Namun, ketika suara mencapai 115 dB, yaitu suara yang tingkat kebisingannya serupa dengan kebisingan konser musik rock atau suara gergaji mesin, kerusakan saraf dapat terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit.

Anda mungkin tidak akan dapat merasakan langsung gangguan pendengaran akibat kerusakan saraf, tapi kondisi tersebut akan semakin parah seiring berjalannya waktu.

Beberapa smartphone mampu memutar musik dengan intensitas suara hingga 120 dB. Jika Anda mendengarkan satu album pada volume tersebut, kemungkinan Anda akan merasakan gangguan pendengaran saat melepaskan earphone.

Menurut data yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, lebih dari 1 miliar remaja dan orang dewasa di dunia berisiko kehilangan pendengaran alias  tuli, akibat penggunaan perangkat audio di luar batas aman. Karena kekhawatiran ini, WHO menyarankan untuk membatasi penggunaan earphone, yaitu kurang dari 1 jam, agar terhindar dari risiko kehilangan pendengaran.

Solusinya adalah dengan menurunkan volume perangkat audio Anda. Dr. Aaron menyarankan untuk tetap menjaga volume di tengah-tengah atau kurang dari itu—baik untuk mereka yang sudah memiliki gangguan pendengaran maupun mereka yang pendengarannya masih normal.

1 of 4

Kiat aman menggunakan earphone

Untuk mencegah potensi terjadinya gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran karena sering mendengarkan musik dengan earphone, berikut ini adalah kiat-kiat amannya.

1. Lakukan trik 60/60

Ketika menggunakan earphone, jangan mendengarkan musik lebih dari 60 menit per hari, dan 60 persen dari volume maksimal. Kekuatan suara lebih dari 85 dB (setara dengan suara buldoser) dapat memengaruhi pendengaran.

Jika didengarkan selama 8 jam nonstop, telinga bisa rusak secara permanen. Berikan waktu istirahat untuk telinga Anda. Bila  Anda adalah tipe orang yang harus mendengarkan musik kapan pun dan di mana pun, beralihlah ke speaker ketika Anda sedang menyetir atau di rumah.

2. Lebih baik beralih ke penyuara jemala (headphone)

Sebetulnya baik earphone maupun headphone, jika standar kualitsnya bagus maka kualitas suara yang dihasilkan pun akan baik. Meski demikian, earphone tidak dapat memblokir suara eksternal sebagus headphone.

Oleh karena itu, untuk memblokir suara bising dari luar, pengguna earphone biasanya secara otomatis akan meningkatkan volume. Nah, dengan kemampuannya dalam memblokir suara dari luar, Anda dapat mendengarkan musik dengan jelas meski pada volume rendah.

3. Hindari kebiasaan mendengarkan musik dengan earphone sampai ketiduran

Mendengarkan musik dengan earphone dengan intensitas volume tinggi dapat merusak pendengaran seseorang akibat bising. Saat tertidur, telinga semakin tertekan karena menerima gelombang suara yang besar dari pemakaian earphone, apalagi kondisi koklea (rumah siput) cukup sensitif terhadap gelombang suara.

Faktanya, saat mendengarkan musik semalaman hingga tertidur, telinga sudah tak lagi mendengarkan. Selain itu, ada dugaan bahwa mendengarkan lagu saat tidur dengan earphone membuat otak jadi kurang beristirahat. Selain itu, gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh earphone juga diduga dapat merusak sel-sel pada otak.

2 of 4

Selanjutnya

4. Penuhi asupan omega-3 dan vitamin D, asam folat, magnesium, zink, serta vitamin C dan E

Tingginya kadar omega-3 dan vitamin D pada  bahan makanan seperti ikan salmon, tuna, trout, atau sarden, dapat membantu mencegah gangguan pendengaran. Menurut sebuah studi, orang dewasa yang makan ikan dua kali seminggu akan mengalami penurunan risiko mengalami gangguan pendengaran terkait usia dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi ikan sama sekali.

Asam folat yang sering ditemukan pada bayam, asparagus, kacang polong, brokoli, telur, atau kacang-kacangan dapat menurunkan risiko kehilangan pendengaran hingga 20 persen. Suplemen untuk penderita gangguan pendengaran yang mengandung antioksidan dapat mengurangi jumlah radikal bebas yang ada pada tubuh, yang dapat merusak jaringan saraf di telinga bagian dalam.

Magnesium umumnya dapat ditemukan pada pisang, kentang, atau brokoli. Mineral ini telah terbukti dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap gangguan pendengaran yang disebebkan oleh kebisingan.

Zink yang terkandung pada makanan seperti dark chocolate atau tiram dapat meningkatkan daya tahan telinga terhadap gangguan pendengaran yang terkait dengan bertambahnya usia.

Mirip dengan antioksidan, vitamin C atau E dapat menghilangkan radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh secara menyeluruh, sehingga mengurangi risiko infeksi telinga. Perbanyak konsumsi sayur-sayuran seperti paprika dan buah jeruk.

3 of 4

Batas aman suara

Badan keselamatan kerja AS, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOS), Occupational Safety and Health Association (OSHA), dan WHO menerapkan batas aman paparan suara di level 85 dB. Sedangkan National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) AS mengambil standar yang lebih rendah, yaitu 75 dB atau kurang.

Prinsipnya, risiko gangguan pendengaran akan terjadi lebih cepat jika pelanggaran batas aman itu dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus.

Sebagai informasi, 85 dB adalah suara kemacetan dan lalu lintas saat Anda berada di dalam mobil. Saat bercakap-cakap normal, suara yang dihasilkan sekitar 60-65 dB. Sedangkan yang lebih rendah lagi, contohnya suara mesin lemari es, di level 45 dB.

Jenis suara yang melebihi ambang batas dan meningkatkan risiko gangguan pendengaran antara lain suara sepeda motor dari jarak dekat (95-100 dB), suara adegan-adegan aksi atau musik latar belakang adegan horor pada penayangan film di bioskop (100 dB atau lebih), serta volume pemutar musik digital maksimal yang biasa didengarkan dengan earphone (mencapai 103 dB).

Jika Anda merasa terlalu sering mendengarkan musik dengan earphone, sering menyetelnya pada volume di atas 60 persen, dan merasa ada yang berubah dengan kemampuan pendengaran Anda, lebih baik segera lakukan pemeriksaan. Semakin dini pemeriksaan dilakukan, maka gangguan yang terdeteksi akan lebih mudah untuk disembuhkan. Jika Anda bekerja di lingkungan yang berisiko mengakibatkan gangguan pendengaran karena kebisingan, misalnya seorang musisi atau bekerja di pabrik, lakukan pemeriksaan rutin paling tidak sekali setahun.

(RH)

Lanjutkan Membaca ↓