Kiat Menggunakan Earphone dan Headset Agar Aman untuk Telinga

Oleh Ruri Nurulia pada 04 Mar 2020, 11:03 WIB
Tak ada yang sepenuhnya melindungi telinga dari intensitas dan kuatnya paparan suara dari earphone maupun headset.
Kiat Menggunakan Earphone dan Headset Agar Aman untuk Telinga

Klikdokter.com, Jakarta Melakukan perjalanan dengan transportasi umum setiap hari? Mengusir rasa bosan di kantor? Atau sekadar butuh musik sebagai pembangkit mood? Memasang penyuara telinga seperti earphone atau headset adalah solusinya!

Tak ada yang salah dengan kebiasaan mendengarkan musik dengan earphone dan headset pada berbagai kesempatan. Namun, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, penggunaannya bisa menyebabkan gangguan, bahkan kehilangan pendengaran alias tuli.

Sebetulnya earphone dan headset tidak secara langsung dapat menimbulkan risiko kesehatan. Namun, risikonya ada pada volume dan lamanya waktu yang Anda habiskan untuk mendengarkan lagu, podcast (rangkaian program audio episodik digital), atau buku audio.

Risiko Penggunaan Earphone dan Headset: Telinga Bisa Tuli

Earphone dan headset menutupi lubang telinga Anda sepenuhnya. Ketika Anda bepergian dengan kereta, bus, atau ojek, bisingnya suara dari sekitar mau tak mau membuat Anda mengeraskan volume saat mendengarkan musik dengan earphone atau headset.

Semakin keras suara, akan semakin cepat hal tersebut dapat menimbulkan luka pada telinga. Jika Anda tidak berhati-hati, gelombang suara yang terlalu keras dapat merobek menembus gendang telinga.

Menurut Dr. Aaron Pearlman, spesialis THT dari Weill Cornell Medicine and New York-Presbyteria, Amerika Serikat, seperti dikutip di laman Washington Post, sebagian besar gangguan pendengaran adalah akibat dari kerusakan saraf.

Artikel Lainnya: 5 Kebiasaan yang Bisa Merusak Pendengaran Anda

Diam-diam, smartphone atau perangkat audio player Anda lebih dari berperan dalam menyebabkan kerusakan tersebut. Anda dapat terpapar suara berkekuatan 85 desibel (dB), yaitu seperti suara dari bisingnya kemacetan kota, sepanjang hari tanpa menyebabkan kerusakan saraf.

Namun, ketika suara mencapai 115 dB, yaitu suara yang tingkat kebisingannya serupa dengan kebisingan konser musik rock atau suara gergaji mesin, kerusakan saraf dapat terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit.

Anda mungkin tidak akan dapat merasakan langsung gangguan pendengaran akibat kerusakan saraf, tapi kondisi tersebut akan semakin parah seiring berjalannya waktu.

Beberapa smartphone mampu memutar musik dengan intensitas suara hingga 120 dB. Jika Anda mendengarkan satu album pada volume tersebut, kemungkinan Anda akan merasakan gangguan pendengaran saat melepaskan earphone atau headset.

Menurut data yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, lebih dari 1 miliar remaja dan orang dewasa di dunia berisiko kehilangan pendengaran alias  tuli, akibat penggunaan perangkat audio di luar batas aman.

Karena kekhawatiran tersebut, WHO menyarankan untuk membatasi penggunaan earphone, yaitu kurang dari 1 jam agar terhindar dari risiko kehilangan pendengaran.

Solusinya adalah dengan menurunkan volume perangkat audio Anda. Dr. Aaron menyarankan untuk tetap menjaga volume di tengah-tengah atau kurang dari itu—baik untuk mereka yang sudah memiliki gangguan pendengaran maupun mereka yang pendengarannya masih normal.

Artikel Lainnya: 5 Gejala Gangguan Pendengaran yang Sering Terabaikan

1 of 3

Cara Memakai Earphone dan Headset yang Benar

Wanita Menggunakan Headset saat Belajar
Wanita Menggunakan Headset saat Belajar

Untuk mencegah potensi terjadinya gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran karena sering mendengarkan musik, berikut ini adalah cara memakai earphone dan headset yang benar:

  1. Lakukan Trik 60/60

Ketika menggunakan earphone, jangan mendengarkan musik lebih dari 60 menit per hari, dan 60 persen dari volume maksimal. Kekuatan suara lebih dari 85 dB (setara dengan suara buldoser) dapat memengaruhi pendengaran.

Jika didengarkan selama 8 jam nonstop, telinga bisa rusak secara permanen. Berikan waktu istirahat untuk telinga Anda. Bila  Anda adalah tipe orang yang harus mendengarkan musik kapan pun dan di mana pun, beralihlah ke speaker ketika Anda sedang menyetir atau di rumah.

  1. Tidak Lebih dari Satu Jam dalam Sehari

Seperti anjuran dari WHO, batasi penggunaan earphone dan headset tidak lebih dari 1 jam dalam sehari. Oleh karena itu, pastikan untuk tidak menggunakan alat tersebut ketika hendak tidur guna menghindari pemakaian lebih dari durasi yang dianjurkan.

Perlu Anda tahu, saat tertidur, telinga semakin tertekan karena menerima gelombang suara yang besar dari pemakaian earphone, apalagi kondisi koklea (rumah siput) cukup sensitif terhadap gelombang suara.

Saat mendengarkan musik semalaman hingga tertidur, telinga sudah tak lagi ‘mendengarkan’. Ada pula dugaan bahwa mendengarkan lagu saat tidur dengan earphone atau headset membuat otak jadi kurang beristirahat.

Parahnya, gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh  alat tersebut juga dapat merusak sel-sel pada otak.

Artikel Lainnya: 9 Gejala Gangguan Pendengaran pada Anak

  1. Konsumsi Omega-3 dan Vitamin D, Asam Folat, Magnesium, Zink, serta Vitamin C dan E

Tingginya kadar omega-3 dan vitamin D pada  bahan makanan seperti ikan salmon, tuna, trout, atau sarden, dapat membantu mencegah gangguan pendengaran.

Menurut sebuah studi, orang dewasa yang makan ikan dua kali seminggu akan mengalami penurunan risiko mengalami gangguan pendengaran terkait usia dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi ikan sama sekali.

Asam folat yang sering ditemukan pada bayam, asparagus, kacang polong, brokoli, telur, atau kacang-kacangan dapat menurunkan risiko kehilangan pendengaran hingga 20 persen.

Suplemen untuk penderita gangguan pendengaran yang mengandung antioksidan dapat mengurangi jumlah radikal bebas yang ada pada tubuh, yang dapat merusak jaringan saraf di telinga bagian dalam.

Magnesium umumnya dapat ditemukan pada pisang, kentang, atau brokoli. Mineral ini telah terbukti dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.

Zink yang terkandung pada makanan seperti dark chocolate atau tiram dapat meningkatkan daya tahan telinga terhadap gangguan pendengaran yang terkait dengan bertambahnya usia.

Mirip dengan antioksidan, vitamin C atau E dapat menghilangkan radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh secara menyeluruh, sehingga mengurangi risiko infeksi telinga. Perbanyak konsumsi sayur-sayuran seperti paprika dan buah jeruk.

Artikel Lainnya: Jangan Bersihkan Telinga dengan Cotton Bud

  1. Jaga Kebersihan Telinga dengan Saksama

Penggunaan earphone atau headset bisa saja membuat telinga tersumbat oleh kotoran. Jika Anda tidak membersihkan telinga dengan benar, kotoran tersebut bisa terus menumpuk dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Bagaimana cara membersihkan telinga yang benar? Untuk hal ini, Anda bisa menyeka bagian luar telinga menggunakan cotton bud.

Pastikan untuk tidak menggunakan cotton bud untuk mengorek telinga bagian dalam, karena justru membuat kotoran makin terdorong masuk.

Nah, untuk mengeluarkan kotoran yang ada di dalam telinga, Anda bisa mengandalkan obat tetes telinga yang dijual bebas di apotek. Teteskan obat tersebut ke liang telinga Anda dan tunggu hingga dua atau tiga hari.

Setelahnya, miringkan kepala Anda dan teteskan air hangat ke dalam saluran telinga yang sebelumnya telah diberikan obat. Setelah beberapa saat, miringkan kepala Anda ke arah berlawanan agar kotoran mengalir keluar dengan sendirinya.

Jika kotoran telinga sudah berhasil keluar, telinga Anda menggunakan handuk bersih. Seka secara perlahan, agar tidak terjadi iritasi.

Artikel Lainnya: Cara Membersihkan Telinga yang Tepat

  1. Pilih Earphone atau Headset yang Tepat

Sebagian orang menggunakan earphone atau headset untuk meredam suara bising yang ada di sekitar. Sebetulnya baik earphone maupun headphone, jika standar kualitasnya bagus, maka keluaran suara yang dihasilkan pun akan baik.

Supaya tidak menimbulkan efek samping yang merugikan, Anda bisa menggunakan earphone atau headset yang memiliki fitur peredam bising (noise limiter). Tetap ingat untuk membatasi volume suara agar tidak lebih tinggi dari ukuran yang dianjurkan, ya!

  1. Perhatikan Higienitas Earphone atau Headset

Layaknya telinga, earphone atau headset juga perlu dibersihkan secara berkala. Hal ini dilakukan untuk mencegah perkembangan kuman pada benda kesayangan Anda.

Cara membersihkan earphone dan headset cukup dengan melepaskan bagian silikonnya, dan redam menggunakan air yang dicampur sabun. Setelah beberapa menit, angkat dan seka menggunakan handuk bersih hingga benar-benar kering.

Untuk bagian yang tidak boleh kena air, Anda bisa membersihkannya menggunakan sikat gigi kering secara perlahan-lahan.

Artikel Lainnya: Pertolongan Pertama saat Telinga Kemasukan Serangga

2 of 3

Batas Aman Suara Penggunaan Earphone dan Headset

Wanita Menggunakan Earphone di Kantor
Wanita Menggunakan Earphone di Kantor

Badan Keselamatan Kerja AS, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOS), Occupational Safety and Health Association (OSHA), dan WHO menerapkan batas aman paparan suara di level 85 dB. 

Sedangkan, National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) AS mengambil standar yang lebih rendah, yaitu 75 dB atau kurang.

Pada prinsipnya, risiko gangguan pendengaran akan terjadi lebih cepat jika pelanggaran batas aman itu dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus.

Sebagai informasi, 85 dB adalah suara kemacetan dan lalu lintas saat Anda berada di dalam mobil. Saat bercakap-cakap normal, suara yang dihasilkan sekitar 60-65 dB. Sedangkan yang lebih rendah lagi, contohnya suara mesin lemari es, di level 45 dB.

Jenis suara yang melebihi ambang batas dan meningkatkan risiko gangguan pendengaran adalah:

  • Suara sepeda motor dari jarak dekat (95-100 dB)
  • Suara adegan-adegan aksi atau musik latar belakang adegan horor pada penayangan film di bioskop (100 dB atau lebih)
  • Volume pemutar musik digital maksimal yang biasa didengarkan dengan earphone(mencapai 103 dB).

Perhatikan cara memakai earphone dan headset yang benar agar Anda terhindar dari risiko gangguan pendengaran. Namun, jika Anda terlanjur sering mendengarkan musik dengan volume di atas 60 persen dan merasa ada yang berubah dengan fungsi pendengaran, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan. Semakin dini dideteksi dan diobati, semakin besar pula kemungkinan untuk sembuh.

(RH/RPA)

Lanjutkan Membaca ↓