Benarkah Stres dan Depresi Picu Keputihan Tidak Normal?

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 05 Mar 2018, 14:10 WIB
Stres dan depresi sering dituding sebagai penyebab keputihan tidak normal. Apa kata medis?
Benarkah Stres dan Depresi Picu Keputihan Tidak Normal? (Nattakorn Maneerat/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Wanita adalah makhluk yang lebih dominan menggunakan perasaan. Karena itu, mereka lebih rentan untuk mengalami stres dan depresi dibandingkan pria. Tak hanya berakibat pada kesehatan mental, ternyata stres dan depresi pada wanita juga diyakini memiliki hubungan yang erat dengan terjadinya keputihan tidak normal.

Pada dasarnya, keputihan merupakan suatu keadaan yang dialami secara normal oleh wanita. Namun pada kondisi tertentu, keputihan dapat terjadi secara tidak normal.

Seorang wanita yang mengalami keputihan tidak normal akan merasakan keluhan berupa gatal tak tertahankan maupun keluarnya aroma tak sedap dari daerah kewanitaan.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa masalah psikis yang dialami wanita, seperti stres dan depresi, merupakan suatu kondisi yang dapat memicu terjadinya keputihan tidak normal. Penelitian tersebut menyatakan bahwa stres dan depresi dapat memicu terjadinya keputihan akibat infeksi jamur candida dan bacterial vaginosis.

Keputihan akibat infeksi jamur

Penelitian menemukan, setidaknya sekitar 75% wanita akan mengalami satu kali episode keputihan akibat infeksi jamur candida. Sementara itu, 40-50% dari wanita tersebut akan mengalami episode keputihan yang berulang.

Jamur candida memang dikenal dapat menyebabkan keputihan berulang pada wanita. Ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan sering kambuhnya keputihan akibat infeksi jamur, yaitu:

  • Kehamilan
  • Mengonsumsi pil KB
  • Memiliki penyakit diabetes melitus (kencing manis) atau HIV
  • Sedang dalam pengobatan antibiotik, terutama jangka panjang
  • Menggunakan celana dalam ketat dan tidak menyerap keringat
  • Sering melakukan hubungan seks oral

Keputihan akibat bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis adalah salah satu penyebab keputihan yang sering dialami oleh wanita. Hal ini terjadi ketika pH dan kondisi normal vagina terganggu. Kuman Lactobacillus yang normal berada di vagina jumlahnya menjadi lebih sedikit, terdesak oleh pertumbuhan kuman jahat yang seharusnya tidak berada di dalam vagina.

Bacterial vaginosis cukup sering dialami, baik oleh wanita yang sudah maupun belum menikah. Keputihan yang dihasilkan berjumlah banyak, berwarna putih keabuan, dan berbau amis.

Diketahui bahwa beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami bacterial vaginosis, di antaranya:

  • Berganti pasangan seksual
  • Melakukan hubungan seks oral
  • Mencuci vagina dengan douche (pencuci vagina yang disemprot).

Sistem imun terganggu

Apa hubungan antara depresi dengan keputihan? Para peneliti menyimpulkan bahwa gangguan psikis yang dialami seorang wanita, seperti stres dan depresi, dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi terganggu dan melemah. Akibatnya, wanita pun rentan terkena infeksi jamur maupun bakteri yang menyebabkan keputihan tidak normal.

Tak hanya rentan terkena keputihan tidak normal, depresi dan stres pun ternyata dapat menyebabkan terganggunya penyembuhan luka, peningkatan risiko infeksi saluran napas atas, dan perburukan kondisi penyakit HIV.

Mengetahui bahwa stres dan depresi dapat memicu terjadinya keputihan tidak normal, Anda sebaiknya lebih waspada mulai saat ini. Jika Anda adalah seorang wanita yang sering stres atau depresi, segeralah bertindak untuk mencari jalan keluarnya. Jika merasa kesulitan akan hal itu, jangan ragu untuk berkonsultasi secara langsung pada dokter.

[NB/ RVS]