5 Gangguan yang Sering Dialami Orang Tua Baru

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 13 Mar 2018, 07:59 WIB
Menyambut bayi baru lahir memang membahagiakan. Namun orang tua baru perlu waspada terhadap lima gangguan ini.
5 Gangguan yang Sering Dialami Orang Tua Baru (Elnur/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kelahiran buah hati menjadi suatu hal yang sangat dinantikan oleh orang tua. Rasa bahagia, bangga, terharu bercampur aduk ketika si Kecil lahir. Di balik kebahagiaan yang dirasakan, sesungguhnya kedatangan anggota keluarga baru ini membutuhkan proses adaptasi, terutama untuk kalangan orang tua baru.

Jika proses adaptasi tidak berjalan dengan baik, lima gangguan ini berpotensi untuk dialami oleh pasangan yang baru menikmati menjadi orang tua.

1. Baby blues

Baby blues merupakan gangguan suasana hati (mood) yang paling sering dialami oleh orang tua baru, khususnya ibu. Salah satu studi menyebutkan bahwa lebih dari 50% ibu yang baru saja melahirkan pernah merasakan baby blues.

Baby blues ditandai dengan perasaan sedih dan lelah yang sulit dijelaskan penyebabnya. Kondisi ini juga membuat ibu menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Salah satu penyebab baby blues adalah karena ibu masih belum siap mental untuk menjalani perannya yang sekarang bertambah. Anda yang mungkin sebelumnya hanya merawat diri dan suami saja, sekarang juga harus bertanggung jawab penuh dalam mengasuh dan merawat bayi.

Meski baby blues lebih sering dialami ibu, tak jarang ada Ayah yang juga mengalaminya. Gangguan ini biasanya terjadi pada 1-2 minggu pertama setelah kelahiran si buah hati.

2. Depresi postpartum

Bila baby blues tak teratasi, gangguan lebih berat yang bisa terjadi selanjutnya adalah depresi postpartum. Selain terlihat sedih, pada kondisi ini ibu juga enggan melakukan aktivitas sehari-hari, terlihat sangat lelah, dan tidak ingin merawat bayinya.

Sebagian ibu yang mengalami depresi postpartum memilih untuk mengurung diri di kamar dan tak ingin melihat bayinya. Bila depresi yang dialami cukup berat, kadang timbul keinginan ibu untuk bunuh diri. Gangguan ini berlangsung setidaknya selama 2 minggu. Bila dibiarkan, bisa terjadi hingga berbulan-bulan.

3. Psikosis postpartum

Psikosis postpartum merupakan gangguan kejiwaan setelah melahirkan yang ditandai dengan adanya waham atau halusinasi. Waham merupakan suatu keyakinan yang salah, tetapi benar-benar dihayati oleh penderitanya. Misalnya ibu meyakini kalau anaknya adalah jelmaan iblis, sehingga ia ingin membunuh anaknya.

Sementara itu, halusinasi merupakan perpepsi palsu dari panca indera. Misalnya ibu mendengar suara-suara yang membisikinya, padahal sebenarnya tidak ada orang yang berbisik. Kondisi ini berbahaya dan butuh penanganan segera oleh psikiater.

4. Gangguan cemas (ansietas)

Gangguan cemas bisa dialami oleh orang tua baru menjelang bayinya akan lahir. Secara normal memang bisa terjadi rasa cemas dalam menyambut dan merawat bayi. Namun yang dimaksud gangguan cemas adalah kecemasan berlebihan dan tidak rasional yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kecemasan ini biasanya terkait masalah proses persalinan, cara membesarkan bayi, cara menyusui, dan masih banyak lagi. Rasa cemas berlebihan ini menimbulkan keluhan berdebar-debar, pegal dan kaku di tengkuk, sulit tidur, dan gangguan dalam berkonsentrasi.

5. Stres pasca trauma

Bila proses persalinan berjalan sulit dan tidak sesuai dengan yang direncanakan, misalnya saja ibu merasakan sakit perut tak tertahankan dalam waktu yang sangat lama atau proses persalinan harus dibantu alat bantu yang besar (forsep), stres pasca trauma bisa terjadi.

Gangguan ini bisa terjadi bila proses persalinan dianggap sebagai sesuatu yang traumatis dan menakutkan bagi ibu. Gejalanya berupa  terbayang-bayang terus dengan proses persalinan tersebut, mimpi buruk, rasa takut setiap kali melihat dokter atau rumah sakit, dan ibu terus berusaha menghindari kejadian atau benda yang dapat mengingatkannya akan kejadian persalinan yang lalu.

Kelima gangguan pada orang tua baru ini harus ditangani dengan segera. Jika dibiarkan, gangguan bisa bertambah berat, dan bisa mempengaruhi tumbuh kembang si Kecil. Dukungan pasangan dan keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk bisa mengatasi gangguan tersebut. Selain itu, jangan ragu meminta bantuan psikiater untuk membantu mengatasi gangguan yang dialami orangtua baru.

[NP/ RVS]