Tato pada Payudara, Amankah untuk Kesehatan?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 15 Mar 2018, 09:15 WIB
Sekilas, memiliki tato pada payudara tampak berseni. Namun, bagaimana efeknya bagi kesehatan? Simak penjelasan berikut ini.
Tato pada Payudara, Amankah untuk Kesehatan? (Olga Lyubkin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Belakangan ini di Amerika Serikat sedang viral melakukan tato pada puting payudara bagi penderita kanker payudara yang baru saja menjalani operasi mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Tindakan ini tentu saja ada risikonya.

Tato pada puting payudara dianggap dapat menambah rasa percaya diri seseorang. Menggambar tato memang dapat dilakukan di area tubuh manapun, namun amankah menggambar tato pada area payudara?

Tato merupakan bentuk seni menghias tubuh dengan cara memasukkan tinta, pigmen atau zat pewarna ke dalam lapisan dermis kulit. Sifatnya bisa temporer (sementara), namun bisa juga bersifat permanen. Bagi sebagian orang, tato dianggap sebagai suatu bentuk seni dan simbol tertentu. Gambar tato juga biasanya memiliki arti tersendiri bagi orang yang ditato.

Bahaya tato

Menurut The American Academy of Dermatology, tinta tato dapat mengandung alumunium, tembaga, besi, sulfur, barium, nickel, cobalt, chromium dan benda metal lainnya.

Bahkan hasil penelitian yang terdapat di The American Environmental Safety Institute menemukan bahwa jumlah tinta tato yang dibutuhkan untuk membuat gambar tato berukuran sedang mengandung setidaknya 1–23 mcg timbal, melebihi angka 0.5 mcg yang merupakan batas toleransi harian timbal pada tubuh.

Mayo Clinic di Amerika Serikat menyebutkan bahwa tato (di area manapun di tubuh) dapat meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit yang dapat ditularkan melalui darah seperti HIV, hepatitis B dan tetanus.

Selain infeksi, seseorang yang melakukan tindakan tato juga berisiko mengalami reaksi alergi, pembentukan jaringan parut di kulit, granuloma (benjolan di area tato) dan masih banyak lagi.  

Belakangan Food and Drug Administration (FDA) atau badan obat dan makanan Amerika Serikat memberikan peringatan bahwa beberapa pigmen dari tato dapat masuk ke dalam tubuh melalui kelenjar getah bening dan dapat meningkatkan risiko kanker.

Untuk menghilangkan kandungan metal dalam tinta tato, perusahaan pembuat tinta kini menggantinya dengan pigmen tinta berbahan dasar plastik (seperti yang digunakan pada produk tekstil, percetakan atau pengecatan mobil).

Tinta tato berwarna merah dan kuning biasanya mengandung phthalate dan hydrocarbon yang merupakan karsinogen potensial (berisiko kanker). Sedangkan tinta hitam dapat mengandung polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), termasuk benzoapyrene yang merupakan zat karsinogen bagi kulit.  

Seperti yang dilansir oleh Medscape Medical News, tinta tato dari 14 gambar yang menutupi seluruh paha dan kaki seorang pasien kanker serviks telah bermigrasi atau masuk ke dalam kelenjar getah bening. Kondisi ini seringkali disalahartikan sebagai metastase (penyebaran ke organ lain) kanker.

Selain itu, berdasarkan studi yang dipublikasikan di jurnal Obstetric and Gynecology dilaporkan bahwa migrasi tato ke kelenjar getah bening tersebut juga dilaporkan pada pasien kanker payudara, melanoma, testicular seminoma, dan vulvar squamous cell carcinoma.  

Menghias tubuh dengan tato, termasuk pada area payudara, tentu saja hak dari setiap orang. Namun sebelum Anda melakukannya, coba pertimbangkan kembali efek samping dan risikonya terhadap kesehatan. Apalagi jika tato yang digambar adalah permanen dan menetap seumur hidup, ada baiknya Anda berkonsultasi dahulu dengan dokter.  

[NP/ RVS]