Waspada, Keputihan Juga Bisa Terjadi pada Anak

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 17 Mar 2018, 08:00 WIB
Tak hanya wanita dewasa, ternyata keputihan juga bisa terjadi pada anak. Ini fakta medisnya.
Waspada, Keputihan Juga Bisa Terjadi pada Anak (Konstantin Tronin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda pernah dikejutkan karena menemukan adanya cairan berwarna putih dan lengket di celana dalam anak yang baru berusia 3 tahun? Ya, itu adalah keputihan. Kondisi yang identik dengan wanita usia subur ini ternyata juga bisa terjadi pada anak.

Faktanya, organ kewanitaan anak yang belum berkembang sempurna membuatnya berisiko lebih tinggi untuk terkena keputihan dibandingkan orang dewasa. Risiko ini menjadi semakin tinggi karena kadar hormon estrogen pada anak juga lebih sedikit. Alhasil, keasaman (pH) vaginanya pun belum optimal, sehingga bakteri lebih mudah berkembang biak di area tersebut.

Mencegah keputihan pada anak

Infeksi bakteri, infeksi jamur, benda asing maupun bahan-bahan yang bersifat iritatif dapat mencetuskan keputihan pada anak. Untuk mencegahnya, berikut beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan:

1. Jaga kebersihan vagina si Kecil

Dalam hal ini, salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan membasuh dan mengeringkan vagina si Kecil dari arah depan ke belakang. Tindakan tersebut bertujuan agar mikroorganisme berbahaya yang bersemayam di anus tidak berpindah ke vagina dan menyebabkan terjadinya keputihan.

2. Perhatikan saat si Kecil bermain

Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga mereka sering “iseng” melakukan tindakan di luar dugaan orangtua. Saking ingin tahunya, bukan tak mungkin si Kecil akan memasukan benda-benda seperti mainan atau sisa tisu ke dalam vaginanya. Jika Anda luput mengawasi dan hal tersebut sudah terlanjur terjadi, keputihan pada anak tak bisa dihindari lagi.

3, Berikan celana dalam yang sesuai

Pastikan Anda membelikan anak celana dalam yang terbuat dari bahan katun, agar dapat menyerap keringat dengan lebih baik. Hindari penggunaan celana dalam yang terlalu ketat atau tidak bisa menyerap keringat, agar jamur penyebab keputihan tidak tumbuh dan berkembang di sekitar area kewanitaan anak Anda.

4. Cuci pakaian anak dengan teliti

Cuci pakaian anak dengan detergen yang lembut. Setelah dicuci, pastikan Anda membilasnya hingga benar-benar bersih. Jika tidak, senyawa kimia yang masih menempel di pakaian si Kecil bisa saja menyebabkan iritasi pada vagina dan mencetuskan terjadinya keputihan, sekalipun sudah disetrika.

5. Periksa vagina anak secara berkala

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah adanya kemungkinan pelecehan seksual pada anak. Selain dapat menyebabkan beban mental pada si Kecil, tindakan tidak bermoral ini juga dapat mencetuskan terjadinya keputihan padanya.

Oleh karena itu, perhatikanlah reaksi dan kebiasaan anak; apakah ada perubahan pada sifat, kepribadian, tingkah laku, dan organ intim yang tidak sesuai dengan usianya.

Kapan harus ke dokter?

Jika anak Anda mengalami keputihan, apalagi jika cairan keputihan yang keluar berwarna kuning atau hijau, berbau tidak sedap, dan menyebabkan timbulnya rasa nyeri, jangan ragu untuk segera membawa si Kecil ke dokter.

Dokter akan melakukan pemeriksaan area kewanitaan, dengan tidak membuat anak trauma dan merasa kesakitan. Semakin dini dideteksi dan diobati, keputihan pada anak akan semakin cepat teratasi.

[NB/ RVS]