Beda Diare Gejala HIV dan Diare Biasa

Oleh Ruri Nurulia pada 18 Mar 2018, 09:45 WIB
Jika Anda mengalami diare lebih dari seminggu dan tak kunjung membaik setelah diobati, waspadalah, bisa jadi itu gejala HIV.
Beda Diare Gejala HIV dan Diare Biasa (Chombosan/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Diare adalah peningkatan frekuensi BAB yang bisa tiga kali atau lebih, atau penurunan konsistensi tinja yang menjadi lunak atau cair, dalam waktu 24 jam. Keluhan ini sering kali disertai dengan perut melilit dan sakit. Pada kasus diare biasa, penyebab utamanya adalah makanan atau minuman yang kotor dan terkontaminasi mikroorganisme. Namun, diare sebagai salah satu gejala HIV bisa disebabkan oleh banyak hal, yang biasanya bersifat non infeksi. Kemungkinan penyebab non infeksi termasuk efek samping obat antiretroviral (ARV), dampak HIV pada saluran cerna, dan (yang lebih jarang) kanker dan pankreatitis.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah penyakit yang menyebabkan degradasi progresif pada sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, pasien dengan HIV berisiko tinggi terkena infeksi berulang yang mencakup komplikasi saluran cerna. Diare adalah salah satu komplikasi saluran cerna yang paling sering ditemukan. Hingga 80 persen penderita HIV melaporkan bahwa mereka mengalami diare. Penderita HIV dengan gejala diare yang berkembang harus memeriksakan diri ke dokter agar efek samping infeksi ini dapat diatasi.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai diare sebagai gejala dari infeksi HIV.

1. Diare berlangsung sering, dengan konsistensi tinja berupa cairan

Gejala utama yang tekait dengan diare ditandai dengan seringnya frekuensi buang air besar dan konsistensi tinja yang encer. Dikatakan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong kepada KlikDokter, “Diare pada pasien dengan HIV biasanya berlangsung minimal 14 hari atau lebih. Jika diare kurang dari 14 hari, umumnya bisa berulang yang biasanya dalam sebulan bisa terjadi 2-3 kali. Diare yang biasanya terjadi adalah diare sekretorik, berupa cairan tanpa adanya ampas. Penting juga untuk diingat bahwa diare pada gejala HIV tidak disebabkan oleh bakteri atau mikroorganisme dari makanan yang terkontaminasi.”

Gejala diare dapat muncul secara sporadis selama fase awal atau akut infeksi HIV. Pasien dengan HIV dapat mengalami diare secara tiba-tiba sepanjang hari, yang bisa membuat frustasi. Pasien tertentu juga dapat mengalami diare yang bercampur darah. Saat kondisi ini terjadi, pasien dengan HIV harus segera mendapatkan perawatan medis. 

1 of 3

Selanjutnya

2. Disertai kram perut atau perut kembung

Peradangan pada saluran cerna terjadi karena adanya patogen yang dapat menyebabkan gejala kram perut dan perut kembung, bersamaan dengan pergerakan usus yang sering terjadi. Perut yang terasa penuh dan kram bisa menyakitkan dan menimbulkan rasa tak  nyaman pada pasien dengan HIV. Pasien tertentu juga bisa mengalami mual atau gangguan pencernaan akibat gejala diare ini.

3. Disertai demam

Gejala diare pada pasien dengan HIV dapat berkembang karena infeksi virus atau bakteri yang tidak dapat ditangkal oleh sistem kekebalan tubuh. Saat patogen masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan secara otomatis menaikkan suhu tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi. Akibatnya, pasien dengan HIV dapat mengalami demam sebagai penyerta diare. Selain demam, pasien dengan HIV juga dapat merasakan kedinginan, nyeri kepala, atau nyeri tubuh.

4. Disertai turunnya berat badan, dehidrasi, dan malnutrisi

Pasien dengan HIV biasanya mengalami gejala diare kronis atau terjadi dalam jangka panjang. Jika ini terjadi, cairan yang keluar dari tubuh pasien sangat banyak, yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya gejala dehidrasi seperti kelelahan, pusing, serta meningkatnya rasa haus akibat diare ini. Peradangan kronis pada saluran cerna juga bisa mengganggu terserapnya nutrisi dan vitamin ke tubuh dari makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, pasien HIV dapat mengalami malnutrisi (kekurangan gizi) atau penurunan berat badan yang signifikan.

2 of 3

Selanjutnya

5. Diare juga merupakan efek samping dari obat antiretroviral (ARV)

Biasanya efek samping dari pengobatan dengan menggunakan protease inhibitors dapat menyebabkan tubuh lebih berisiko mengalami diare. Diare yang dialami oleh pasien dengan HIV dapat terjadi secara terus-menerus dalam jeda waktu tertentu.

Seperti dilansir di laman Yayasan Spiritia, ada beberapa kemungkinan mengapa ARV menyebabkan diare. Bisa jadi adanya kerusakan pada penghalang epitel usus yang menyebabkan diare “bocor”. Atau bisa juga karena ARV dapat mengubah sekresi ion klorida sehingga menyebabkan diare sekretorik.

HIV itu sendiri juga merupakan penyebab diare. Virus ini dapat menginfeksi sel-sel di saluran cerna, dan menyebabkan kerusakan pada daerah ini, terutama pada jaringan limfoid terkait usus (GALT). Jika ini yang terjadi, kerusakan tersebut tidak dapat diperbaiki dengan terapi ARV.

“Jika pasien dengan HIV menjalani pengobatan ARV, dan jumlah CD4 dan kekebalan tubuhnya meningkat, maka diare akan sembuh. Namun yang harus diwaspadai adalah ketika pasien menjalani pengobatan ARV, lalu sempat membaik, tapi kemudian diare lagi, ini merupakan tanda bahaya bahwa ARV tersebut tidak mempan dan infeksi bisa jadi sudah masuk ke tahap lanjut,” terang dr. Sepriani. Karena itu, jika pasien mengalami diare ini saat menjalani perawatan ARV, segera periksakan diri ke dokter untuk mengatasinya.

Sebagai langkah pertolongan pertama, pasien dapat mencoba mengobati sendiri diare yang dialaminya dengan cara sebagai berikut:

- Minum air putih lebih banyak

- Hindari konsumsi kafein

- Jangan mengonsumsi produk susu

- Konsumsi serat larut paling sebanyak 20 gram per hari, seperti kacang almon, oat, brokoli, wortel, dan buah-buahan seperti berry, pisang, apel, dan pir

- Hindari makanan pedas dan berminyak

- Jangan sekali-kali menghentikan pengobatan sebelum berkonsultasi ke dokter

Jika Anda mendapati diri Anda mengalami diare yang tak kunjung sembuh lebih dari seminggu, bahkan tak juga berhenti setelah diberikan pengobatan, kemungkinan kondisi tersebut merupakan gejala HIV. Agar gejala tidak berkembang menjadi infeksi HIV lebih lanjut, segera periksakan diri ke dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓