Mengenal Death Metal Yoga, Olahraga dengan Musik Keras

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 26 Mar 2018, 15:14 WIB
Ketika yoga bertemu dengan musik death metal, alhasil keduanya menjadi death metal yoga. Apa manfaat olahraga ini?
Mengenal Death Metal Yoga, Olahraga dengan Musik Keras (Dorglao/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Olahraga yoga identik dengan gerakan-gerakan untuk menciptakan relaksasi dalam tubuh. Pada umumnya, jenis olahraga ini diiringi dengan alunan musik yang menenangkan jiwa seperti suara rintik hujan, aliran sungai dan lainnya. Namun belakangan, ternyata ada juga jenis yoga yang dilakukan dengan iringan musik death metal. Ya, death metal yoga.

Sebelum berkenalan dengan death metal yoga secara spesifik, Anda wajib tahu apa itu olahraga yoga.

Yoga

Yoga adalah latihan tentang kemahiran dalam melakukan pose atau gerakan yang sulit. Menurut dr. Nadia Octavia, ada banyak manfaat kesehatan yang ada di balik semua gerakan tersebut.

“Beberapa studi menyebutkan bahwa latihan yoga yang dilakukan secara teratur—baik bagi penderita darah tinggi, penyakit jantung, maupun nyeri otot (termasuk nyeri punggung bawah)—dapat mengurangi tingkat stres dan depresi,” ujar dr. Nadia.

Nadia menambahkan, yoga terbagi menjadi beberapa jenis dan masing-masing berlangsung selama 45-90 menit. Jenis-jenis tersebut, antara lain: hatha, vinyasa, iyengar, ashtanga, bikram, kundalini, yin, dan restoratif.

Apa itu death metal yoga ?

Penamaan ini muncul karena yoga dipadukan dengan death metal, genre musik yang mencuat di Jerman pada dekade 1980-an namun berkembang hingga ke seluruh dunia pada saat ini. Musik death metal memiliki ciri khas ritme gitar rendah, ketukan drum cepat serta intens, dan nada vokal menggeram.

Kelas death metal yoga dinamakan dengan Metal Yoga Bones dan dibimbing oleh wanita asal Jerman bernama Saskia Thode. Meski membawa nama yoga, namun death metal yoga mengutamakan gerakan fisik yang intens, cepat, serta energik. Tak lupa, ada musik latar bergenre death metal yang diputar sebagai pengiring latihan.

Thode, sang instruktur sekaligus pendiri death metal yoga, merupakan pecinta musik metal. Ia memulai eksplorasi genre musik ini dengan mendatangi konser metal pada usia 12 tahun, lalu menjadi penggemar setia sejak saat itu.

Sekitar umur 18 tahun, Thode mengalami kecelakaan dan harus menjalani sejumlah aktivitas pemulihan. Ketika diperkenalkan dengan olahraga yoga, ia segera jatuh cinta dan rutin melakukannya.

Pada waktu yang berdekatan, Thode pindah ke New York, Amerika Serikat, dan tetap menjalankan aktivitas yoga seperti biasa. Setelah lama-kelamaan merasa bosan dengan gaya yang ada, Thode memutuskan untuk mengembangkan yoga dengan cara sendiri.

"Saya tidak terlalu peduli, siapa yang datang serta bagaimana penampilan mereka. Gemuk, berotot, pria, dan wanita, ada ruang untuk semua orang di sini. Kami akhirnya bersenang-senang, sehingga sebagian besar siswa saya bahkan tidak menyadari mereka melakukan pose yoga,” kata Thode, dilansir dari MensHealth.

Gerakan yoga yang dihadirkan lewat death metal yoga terbilang cepat dengan intensitas cukup tinggi, sehingga bermanfaat untuk pembentukan tubuh serta otot. Seorang instruktur pribadi asal New York, Devon James, menyebut bahwa death metal yoga sah-sah saja untuk dilakukan karena aman dan terstruktur.

“Aku tahu, aku harus mencobanya demi mengimbangi latihan lewat yoga ini,” ujarnya.

Satu jam kemudian setelah mengeluarkan pendapat tersebut, James menilai bahwa death metal yoga amat berbeda dari pakem tradisional yang menurutnya lambat, pasif, dan serta canggung.

Sejatinya, olahraga yoga, termasuk death metal yoga, dapat mendatangkan sederet manfaat sehat bila dilakukan secara rutin dan teratur. Jadi, apakah Anda tertarik untuk mencoba jenis yoga dengan iringan musik yang keras? Pastikan Anda melakukannya dengan bimbingan pelatih yang andal, ya!

[NB/ RVS]