Cara Mengelola Gejala HIV pada Lansia

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 07 Apr 2018, 09:06 WIB
HIV tak hanya didominasi remaja atau dewasa muda, lansia juga bisa mengalaminya. Ini kiat mengelola gejala HIV pada lansia.
Cara Mengelola Gejala HIV pada Lansia (LightField Studios/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta HIV (human immunodeficiency virus) adalah penyakit yang menjadi momok karena memerlukan pengobatan yang lama dan bisa menyebabkan kematian. Penyakit ini pun dapat menyerang semua orang, baik anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga lansia. Perlu perhatian khusus untuk menangani gejala HIV yang dialami lansia.

Selama ini HIV diketahui didominasi oleh populasi muda. Hal ini karena faktor risiko HIV banyak dialami oleh dewasa muda dan gaya hidupnya, seperti seks bebas dan penggunaan narkoba jarum suntik. Namun, dengan semakin majunya teknologi untuk pemeriksaan dan keberhasilan pengobatan HIV, usia harapan hidup penderita HIV semakin panjang.

Pada tahun 2013, tercatat sebanyak 26 persen dari penderita HIV di Amerika Serikat (AS) adalah mereka yang berusia 55 tahun ke atas. Dengan semakin membaiknya terapi terhadap HIV, jumlah ini diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun-tahun ke depan. Tak hanya itu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), nantinya lebih dari setengah penderita HIV/AIDS di AS adalah mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Ini karena kerja terapi yang dinilai lebih efektif membuat banyak penderita yang bertahan hidup hingga usia lanjut.

Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lebih dari 4 persen orang yang diketahui mengidap HIV/AIDS berusia 50 tahun ke atas. Jumlahnya diyakini kian membesar. Lansia yang dilaporkan dengan AIDS meningkat dari 82 (2,3 persen jumlah laporan AIDS) pada tahun 2006 menjadi 406 (6,5 persen) pada tahun 2013.

Jumlah lansia dengan AIDS terus meningkat. Ada tiga jenis lansia dengan HIV. Untuk statistik digunakan kelompok lansia dengan usia 50 tahun ke atas:

  • Orang yang sudah lama hidup dengan HIV
  • Orang yang terinfeksi HIV yang baru saja mengetahui status HIV-nya
  • Orang yang baru terinfeksi waktu sudah lansia

Perbedaan HIV pada lansia

Pada pasien HIV lansia, terdapat beberapa perubahan fisiologis, yaitu perubahan yang normal terjadi karena penuaan, maupun patologis, yaitu perubahan yang terjadi karena adanya penyakit, yang membedakan pengelolaan HIV pada lansia dan orang-orang yang lebih muda.

Seiring dengan pertambahan usia—terutama setelah usia di atas 45 tahun—sistem kekebalan tubuh seseorang akan semakin menurun. Hal ini ditandai dengan penurunan jumlah sel darah putih yang pada tubuh manusia berfungsi untuk melawan infeksi.

Pemberian pengobatan untuk pasien HIV lansia juga berbeda dengan pasien yang lebih muda. Pada lansia, dikhawatirkan akan terjadi banyak interaksi antar obat, karena biasanya lansia mengonsumsi banyak obat. Obat yang dikonsumsi lansia biasanya akibat penyakit yang dideritanya, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, atau adanya gangguan pada jantung.

Selain itu, fungsi ginjal dan hati pada lansia juga lebih menurun. Hal ini mengakibatkan dosis obat HIV yang diberikan kepada pasien lansia harus diatur kembali dosisnya. Jika tidak, kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Perbaikan yang terjadi pada pasien lansia setelah pengobatan HIV juga tidak akan secepat pasien HIV yang lebih muda. Ini karena pada dasarnya daya tahan tubuh lansia sudah lebih menurun.

Pemeriksaan rutin

Untuk mendapatkan hasil pengobatan terbaik, pada lansia yang menderita HIV diharapkan untuk rutin mengonsumsi obat antivirus secara teratur. Mereka juga selalu diingatkan untuk selalu kontrol rutin dengan menemui dokter yang menangani mereka.

Tak hanya kontrol rutin, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti cek fungsi ginjal, fungsi hati, dan fungsi jantung juga perlu dilakukan secara berkala supaya dapat dipantau tentang adanya penyakit lain yang dapat memengaruhi keberhasilan terapi yang dijalani pasien HIV lansia.

Pada akhirnya, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, CDC menganjurkan agar mereka yang berusia 13-64 tahun melakukan pemeriksaan HIV secara rutin, yaitu setiap satu tahun sekali. Bahkan, mereka yang berisiko tinggi, dan merasakan gejala HIV, disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih sering. Kelompok yang berisiko tinggi biasanya adalah mereka yang berhubungan seksual tanpa pengaman, bergonta-ganti pasangan, atau pengguna narkoba jarum suntik.

[RN/ RVS]