Redakan Nyeri Otot dengan Pijat

Oleh dr. Rio Aditya pada 16 Apr 2018, 13:47 WIB
Pijat berguna untuk meredakan nyeri otot. Namun, teknik pijat seperti apa yang benar-benar membawa manfaat?
Redakan Nyeri Otot dengan Pijat (Tatyana Vyc/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pijat atau massage merupakan metode tradisional yang sangat populer di kalangan masyarakat. Biasanya pijat dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah muskuloskeletal, seperti badan pegal-pegal dan nyeri otot.  Namun, benarkah pijat dapat meredakan nyeri otot, atau justru semakin memperparah nyeri otot yang dirasakan?

Nyeri otot paling sering terjadi setelah melakukan olahraga, seperti latihan otot tertentu, misalnya angkat beban. Kontraksi otot yang berlebihan, teknik yang tidak tepat, serta waktu pemulihan yang kurang sering menjadi pemicu munculnya rasa nyeri pada otot.

Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS)

Nyeri otot yang timbul 24 jam setelah melakukan olahraga, khususnya atau latihan otot seperti angkat beban disebut juga dengan DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness). DOMS menandakan adanya suatu cedera pada otot sehingga menimbulkan rasa nyeri, terutama ketika otot tersebut digunakan.

Kondisi DOMS ini memang terdengar tidak berbahaya bagi kesehatan. Faktanya keluhan ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari karena rasa nyaman yang tidak ditimbulkannya. Terutama bagi seorang atlet, jika DOMS ini timbul dapat sangat memengaruhi performanya. Oleh karena itu, berbagai cara yang cepat, nyaman, dan terjangkau ditempuh untuk dapat mengurangi rasa nyeri ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemijatan.

Pijat terbukti dapat mengurangi rasa nyeri

Pijat dapat memberikan sensasi relaksasi sekaligus melepaskan stres. Ada sebuah studi yang menyatakan bahwa sentuhan yang dalam (deep touch) dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan menstimulasi penyembuhan pada cedera otot yang dirasakan.

Para peneliti dari Universitas McMaster di Kanada menemukan bahwa pijat dapat mengaktifkan suatu gen tertentu, yang berfungsi secara langsung untuk mengurangi proses peradangan yang ada pada otot. Efek ini punya kerja yang hampir sama dengan efek yang diberikan obat antinyeri seperti ibuprofen atau aspirin.

Pada studi tersebut subjek melakukan aktivitas aerobik dengan intensitas yang tinggi yang dianggap cukup untuk menimbulkan rasa nyeri pada otot. Setelah melakukan latihan fisik tersebut, satu kaki partisipan diberikan pijat Swedia selama 10 menit, sementara kaki yang satu lagi dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan pemijatan. Untuk memastikan perubahan yang terjadi, masing-masing kaki partisipan diambil sampel ototnya untuk diteliti. Hasilnya, pada bagian kaki partisipan yang dipijat, tingkat peradangan yang terjadi lebih sedikit dibandingkan dengan kaki yang tidak dipijat.

Selain dapat memberikan efek antiinflamasi, pemijatan sendiri dapat meningkatkan peredaran darah dan juga saluran limfatik. Tak hanya itu, jika pemijatan dilakukan dengan benar, maka pijat akan dapat membantu meredakan dan/atau menghilangkan ketegangan dan kekakuan yang dirasakan pada otot. Dengan kondisi otot yang lebih relaks dan lentur, pijat dapat membantu mengurangi rasa nyeri.

Waspada pijat yang sembarangan

Meski demikian, ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu pemijatan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jika Anda berencana ingin melakukan pijat, pastikan tempat pijat yang Anda datangi memiliki terapis yang berpengalaman dan tersertifikasi. Hal ini penting bagi Anda untuk menghindari dari risiko terjadinya cedera otot yang lebih serius akibat pijat yang sembarangan.

Pemijatan untuk meredakan nyeri otot bukan hanya dilakukan “asal kencang” saja, melainkan harus dilakukan dengan teknik yang tepat. Jika terlalu kencang, pijat justru bisa melukai otot, merobek ligamen, serta dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler yang ada di permukaan kulit. Akibatnya,  dapat berujung pada proses pemulihan yang lebih lama.

[RN/ RVS]

Otieb Arlon FcOtieb Arlon Fc

penyebab sakit leher sbesudah tdr