Kiat Mengobati Trauma Psikologis pada Anak

Oleh Ruri Nurulia pada 18 Apr 2018, 10:56 WIB
Mengobati trauma psikologis pada anak tidaklah mudah. Lakukan langkah-langkah ini agar tidak memengaruhi perkembangannya.
Kiat Mengobati Trauma Psikologis pada Anak (Szefel/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Banyak pendapat mengatakan, masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan. Konon, karena di masa tersebut, anak belum merasakan beban berat dalam kehidupannya. Nyatanya, seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami trauma. Mereka bahkan lebih rentan karena secara psikologis anak-anak belum sesiap orang dewasa dalam menghadapi peristiwa traumatis.

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan trauma pada anak. Beberapa di antaranya, seperti kematian orang terdekat, kecelakaan, di-bully oleh teman-teman sebayanya di sekolah atau lingkungan rumah, pertengkaran orang tua, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, bencana alam, dan lain-lain.

Anak yang mengalami trauma harus diberi perhatian lebih agar trauma yang ia rasakan tidak mengganggu perkembangannya. Sebab dikhawatirkan, jika tidak ditangani, trauma tersebut bisa terbawa sampai ia dewasa.

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, trauma pada anak akibat suatu kejadian tertentu sering kali melekat dalam jangka waktu yang lama. Biasanya, kondisi ini menimbulkan kecemasan, bahkan hingga ia dewasa.

Dalam dunia kedokteran, gangguan cemas akibat trauma disebut dengan post-traumatic stress disorder (PTSD). Ini adalah gangguan akibat melihat ataupun mengalami suatu kejadian berbahaya atau berat, sehingga memengaruhi kondisi psikologis anak.

Berbagai gejala trauma pada anak

Anak yang mengalami pengalaman traumatis memerlukan rasa aman dan dicintai. Setiap orang tua pada dasarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Namun, ketika orang tua tidak mengerti dampak trauma pada anak, mereka bisa jadi salah menafsirkan perilaku anak. Akibatnya, orang tua bisa frustrasi, bahkan kesal. Upaya orang tua untuk mengatasi perilaku anak yang dianggap mengganggu, menjadi tidak efektif. Bahkan dalam beberapa kasus justru memperburuk kondisi anak.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengenali apa saja gejala trauma pada anak sehingga dapat segera dilakukan penanganan. Dari studi kasus Taniza et al., 2005, berikut ini adalah berbagai gejalanya:

  1. Gejala fisik. Gejala yang sering timbul pasca trauma antara lain: suhu badan meningkat, tenggorokan kering (bisa karena malas makan, sulit menelan, terasa pahit), anak kelelahan, mual, badan terasa lemah, dada terasa sakit (sering batuk atau sering mengeluh dadanya sakit), dan detak jantung lebih cepat.
  2. Gejala kognitif. Misalnya trauma karena mengalami bencana, gejala trauma pada anak yang sering muncul adalah suka keliru, mimpi buruk, sering curiga, suka menyalahkan orang lain, pelupa, pikiran tumpul, dan sulit konsentrasi.
  3. Gejala afektif (emosi). Anak dapat lebih atau terus-terusan merasa takut, kadang pada sesuatu yang tak logis. Selain itu, anak juga sering menunjukkan rasa bersalah sehingga lebih memilih untuk menyendiri, sering sedih dan menangis tanpa sebab, fobia, suka panik, suka membantah, bimbang, murung, atau menjadi pemarah.
  4. Gejala pada perilaku. Anak jadi suka menolak, antisosial, malas, menjadi pendiam atau pemarah, kehilangan nafsu makan, terlalu peka dengan lingkungan, pola perilaku yang berubah dari kebiasaannya, dan masih banyak lagi.

Jika Anda menemukan gejala-gejala yang disebutkan di atas, kemungkinan besar anak mengalami trauma. Gejala-gejala tersebut juga bergantung pada fase trauma, apakah itu sudah parah, akut atau kronis, dan kondisi kematangan anak atau usianya.

1 of 2

Faktor-faktor yang dapat menentukan dampak peristiwa traumatis pada anak

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menentukan dampak peristiwa traumatis pada anak seperti dikutip dari laman Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat.

  • Usia. Semakin muda usia anak, ia akan makin rentan. Bahkan, bayi atau balita yang masih belum bisa atau lancar berbicara, dapat mengingat kenangan buruk yang dialaminya. Kondisi ini bisa memengaruhi perkembangan mentalnya hingga dewasa.
  • Frekuensi. Peristiwa traumatis yang terjadi sekali, bisa terekam dengan jelas dalam benak anak. Bayangkan saja, jika peristiwa itu terjadi berulang kali pada anak.
  • Hubungan (relationship). Anak-anak yang memiliki kualitas hubungan yang baik dengan orang tua, pengasuh, atau orang-orang di sekelilingnya berpeluang lebih besar untuk pulih dari trauma.
  • Kemampuan mengatasi masalah. Inteligensi, kesehatan fisik, dan rasa percaya diri dapat sangat membantu anak untuk pulih dari peristiwa traumatis.
  • Persepsi. Seberapa besar bahaya atau seberapa besar rasa takut yang dirasakan anak, bisa menjadi faktor signifikan yang menentukan trauma yang dialami anak.
  • Sensitivitas. Setiap anak berbeda, termasuk ada yang secara alami lebih sensitif dibanding anak lainnya.

Kiat membantu anak melewati trauma yang menghantuinya

Orang tua memegang peranan penting dalam membantu anak mengatasi trauma yang dialaminya. Berdasarkan paparan dari dr. Reza, berikut ini kiat-kiat sederhana yang bisa dilakukan di rumah, dalam membantu menuntun anak keluar dari traumanya:

1. Berikan rasa tenang

Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Supaya anak merasa tenang, yakinkan ia bahwa trauma dapat dialami oleh siapa saja. Ingatkan juga bahwa rasa cemas merupakan hal yang wajar. Tumbuhkan kepercayaan diri anak bahwa cepat atau lambat ia dapat melewati dan mengatasi rasa cemas yang dialaminya.

2. Bimbing anak dengan sabar

Anak, terutama balita, mudah mengatasi stres psikologis terhadap trauma. Oleh karena itu, orang tua harus sabar dan berperan aktif saat anak berusaha melewati masa-masa penuh kecemasannya. Ingatlah untuk selalu memberikan rasa aman pada anak sebaik mungkin.

3. Latih keberanian anak

Jangan biarkan anak tenggelam pada trauma yang dialaminya karena dapat menyebabkan anak semakin merasa cemas dan takut. Oleh karena itu, orang tua wajib melatih anak agar lebih berani dalam menghadapi trauma yang dialaminya.

Dalam melatih keberanian anak, pastikan Anda melakukannya secara bertahap. Misalnya dimulai dengan mengenalkan anak pada sumber trauma, atau melatihnya untuk lebih bersikap bijak menyikapi suatu kejadian.

Jika Anda sudah berusaha sebaik mungkin membantu anak dalam menghadapi trauma tapi tak juga berhasil, ajaklah anak menemui psikolog  atau dokter ahli psikiatri. Psikolog selanjutnya akan menuntuk anak untuk menjalani terapi untuk kondisi psikisnya.

Kesehatan anak tak hanya bergantung pada fisik, tapi juga mentalnya. Kesehatan mental juga perlu perhatian khusus karena akan memengaruhi bagaimana anak di masa mendatang. Untuk membantu mengatasi trauma pada anak, ajak ia melakukan berbagai hal positif untuk menumbuhkan rasa berharga pada dirinya. Anda juga bisa mengajaknya berolahraga. Olahraga tak hanya dapat menyehatkan tubuh, tapi juga mental. Ini akan membantu anak jadi lebih sehat dan kuat dalam menerima suatu keadaan di sekitarnya.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓