Vagina Selalu Basah, Apa yang Salah?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 10 May 2018, 08:31 WIB
Vagina yang selalu basah tak hanya dapat menimbulkan ketidaknyamanan, tapi juga bisa jadi pertanda kondisi tertentu yang harus diwaspadai.
Vagina Selalu Basah, Apa yang Salah? (SpeedKingz/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Vagina merupakan salah satu organ di tubuh wanita yang sangat sensitif. Adanya rangsangan seksual akan membuat vagina terlubrikasi, sehingga keluar cairan berupa lendir dan terasa basah. Lantas, jika vagina selalu basah, apa penyebabnya?

Vagina yang terasa basah umumnya disebabkan oleh rangsangan seksual seperti pada area bibir, leher, payudara, paha, atau vagina itu sendiri, yang lalu dapat menimbulkan respons berupa keluarnya cairan lubrikan (berfungsi sebagai pelumas) di vagina. Hal ini ditunjukkan sebagai persiapan sebelum melakukan hubungan seks. Namun, jika yang Anda rasakan justru kondisi vagina yang selalu basah, ada beberapa kemungkinan adanya kondisi serius di baliknya.

  • Infeksi vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri anaerobik yang berkolonisasi (berkembang biak) di vagina. Gejala yang paling sering terjadi adalah keputihan berwarna kuning hingga keabuan, yang disertai rasa gatal.

Seorang wanita yang mengalami infeksi vaginosis bakterialis sering mengalami keluhan vagina yang selalu basah yang dan disertai bau tak sedap. Infeksi ini merupakan penyebab keputihan abnormal tersering pada wanita usia subur, dan lebih sering terjadi pada wanita yang aktif secara seksual.

  • Infeksi trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini paling sering menyerang wanita, meski pria juga dapat terinfeksi dan menularkan ke pasangannya lewat kontak seksual.

Vagina merupakan tempat infeksi paling sering pada wanita, sedangkan uretra (saluran kemih) merupakan tempat infeksi paling sering pada pria. Pada kasus trikomoniasis, produksi cairan vagina akan berlebih, konsistensinya kental, berwarna kekuningan, kuning hijau, berbau tak sedap, dan berbusa.  

Pada dinding vagina akan tampak kemerahan dan sembab. Selain itu, akan timbul rasa gatal dan sensasi panas di vagina. Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual juga merupakan keluhan utama yang dirasakan wanita yang memiliki trikomoniasis.

  • Infeksi klamidia

Infeksi klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, yang biasanya ditularkan melalui aktivitas seksual. Seorang wanita memiliki risiko tertular sebesar 25 persen saat berhubungan intim dengan laki-laki yang terinfeksi klamidia.

Bila ada, gejala umumnya dapat terjadi pada minggu pertama setelah kontak pertama terjadi. Keluhan yang sering dialami pada wanita biasanya adalah keputihan yang berlebih, berbau, nyeri di perut (dapat disertai demam), nyeri ketika buang air kecil, dan juga nyeri saat berhubungan seks.

Jika tidak diobati, infeksi klamidia dapat menyebabkan radang panggul pada wanita, yang dapat berujung pada kerusakan tuba fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) atau menyebabkan ketidaksuburan.

  • Radang panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory disesase (PID) merupakan infeksi yang terjadi di dalam rongga panggul, yang dapat berdampak pada organ reproduktif wanita seperti uterus, serviks, ovarium, atau tuba fallopi. Radang panggul dapat menyebabkan nyeri kronis pada perut.

Terkadang, infeksi pada panggul ini dapat menyebabkan hidrosalping, yaitu  pembengkakan saluran telur. Penyebab radang panggul bisa jadi akibat komplikasi dari infeksi klamidia, gonore, atau tindakan pemasangan KB spiral yang tidak higienis.

Radang panggul memang sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, bila didapati adanya suatu gejala, biasanya keluhannya adalah rasa nyeri di sekitar area panggul, perdarahan antara siklus haid, dan vagina yang basah berlebih (dalam arti keluarnya cairan secara berlebih dari vagina), disertai dengan bau tak sedap. Untuk mengobati radang panggul dibutuhkan terapi antibiotik.

Sering kali PID memang tidak menimbulkan gejala. Namun bila terdapat gejala, biasanya keluhannya adalah berupa rasa nyeri di sekitar area panggul, perdarahan antara siklus haid dan vagina yang basah berlebih (keluar cairan berlebih dari vagina) disertai dengan bau yang tidak sedap. Untuk mengatasinya dibutuhkan terapi antibiotik.

Vagina yang basah bisa merupakan sebuah kondisi yang normal. Namun, jika yang Anda dapati adalah vagina yang selalu basah, yang artinya cairan yang keluar dari vagina berlebihan, bisa jadi Anda mengalami salah satu kondisi yang disebut di atas. Jika vagina selalu basah yang Anda rasakan disertai rasa nyeri, gatal, dan berbau menyengat, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan kejelasan dan penanganan yang tepat.

[RN/ RVS]