Bom Gereja di Surabaya Akibatkan Korban Tewas dan Luka

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 13 May 2018, 15:02 WIB
Ledakan bom yang menyasar tiga gereja di Surabaya, pada Minggu pagi, merenggut korban tewa dan luka. Simak selengkapnya di sini.
Bom Gereja di Surabaya Akibatkan Korban Tewas dan Luka

Klikdokter.com, Jakarta Ledakan bom di tiga gereja menggemparkan Surabaya pada Minggu (13/5) pagi ini. Serangan bom ini terjadi di tiga gereja yang berbeda, yakni Gereja Katolik Santa Maria, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).

Dilansir dari Liputan6.com, sampai berita ini diturunkan, korban meninggal dunia mencapai 8 orang dan korban luka 38 orang. Hal ini dikonfirmasi oleh pihak Polda Jatim. Satu orang korban tewas belum bisa dievakuasi karena belum ada lampu hijau dari tim penjinak bom.

Aksi teror bom ini terjadi pada hari Minggu pagi sekitar pukul 7. Ledakan di setiap titik berlangsung dalam waktu yang tidak berselang lama.

"Ada satu (lokasi ledakan) yang belum bisa masuk," kata Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera. Meski begitu, ia tidak menjelaskan lokasi gereja mana yang sampai saat ini belum bisa diakses.

Sementara itu, korban luka akibat ledakan bom adalah sebanyak 38 orang. Kombes Frans mengatakan bahwa mereka tengah dievakuasi ke beberapa rumah sakit di sekitar tempat ledakan.

Dampak merugikan bom gereja di Surabaya

Selain korban luka dan jiwa, bom gereja ini turut merusak lokasi sekitar dan juga kendaraan bermotor. Ledakan yang terjadi di GPPS Jalan Arjuno misalnya, disebut mengenai 25 sepeda motor dan 5 mobil.

"Beberapa di antaranya ada penumpangnya," kata petugas Command Center Surabaya, Aprilia Sri Karinasari, dikutip dari SuaraSurabaya.net.

Dampak ledakan bom dapat sangat buruk untuk tubuh. Sekalipun tidak melukai secara langsung, namun suaranya dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

“Berdasarkan studi dari Stanford University School of Medicine, suara ledakan bom dapat menyebabkan hilangnya pendengaran, yang bahkan bisa bersifat permanen. Hal ini karena suara ledakan bom tersebut menyebabkan kerusakan sel saraf dan gendang telinga secara permanen,” ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Lebih lanjut, dr. Nadia turut menggambarkan bahwa semakin dekat seseorang dengan lokasi kejadian, maka kerusakan pada telinga akan semakin parah. Diketahui bahwa seseorang akan mengalami hal itu jika dirinya berada kurang dari 30 meter dari lokasi kejadian.

Satu hal yang juga penting segera ditangani adalah trauma psikis. Menurut data yang pernah dipaparkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pada tahun 2016 silam, penanganan trauma pasca tragedi menjadi sorotan yang tak boleh diabaikan.

Mengamankan diri dari ledakan bom

Mempelajari kiat mengamankan diri dari ledakan bom bisa menjadi sesuatu yang krusial sebagai antisipasi bila suatu saat terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

“Hal paling pertama yang harus Anda lakukan adalah tetaplah tenang, dan usahakan untuk tidak panik. Jika bom berada di dalam gedung, segeralah keluar dari gedung tersebut. Hindari penggunaan lift. Jika kondisi belum memungkinkan Anda untuk keluar dari gedung, berlindunglah di bawah meja yang kokoh dan hindari jendela,” terang dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter.

Setelah itu, dr. Karin menganjurkan untuk segera mencari pertolongan medis jika Anda mengalami perdarahan, sesak napas, batuk terus-menerus, cedera pada anggota gerak (tungkai dan lengan), sakit kepala hebat, pandangan kabur, luka bakar luas, dan gangguan pendengaran.

“Jangan sepelekan gangguan kesehatan yang masih belum membaik dalam kurun waktu 24-48 jam pasca kejadian pengeboman. Segeralah mencari ke fasilitas kesehatan terdekat seperti klinik dan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis secepatnya,” tutur dr. Karin.

Bom gereja di Surabaya yang mengakibatkan korban tewas dan korban luka, kembali menjadi sebuah kasus yang memprihatinkan dalam skala nasional maupun internasional. Semoga kasus ini segera terselesaikan dan para korban yang terluka dapat segera pulih, baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, mari berdoa semoga Indonesia menjadi tempat yang lebih aman untuk semua golongan dari aksi teror.

[RN/ RVS]