Mengenal Gangguan Jiwa Skizofrenia Lebih Jauh

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 16 Mei 2018, 09:00 WIB
Meskipun skizofrenia merupakan gangguan jiwa ketiga terbanyak di Indonesia, sayangnya kurang mendapat perhatian. Mari kenali lebih dekat.
Mengenal Gangguan Jiwa Skizofrenia Lebih Jauh (Aslysun/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah gangguan bipolar dan depresi, gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa terbanyak yang dialami oleh orang dewasa di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa sekitar 400.000 orang menderita skizofrenia, atau setara dengan 1,7 kasus per 1.000 penduduk.

Skizofrenia perlu mendapat perhatian khusus karena orang yang mengalami penyakit ini tidak mampu menjalani hidupnya dengan produktif. Tak hanya itu saja, bila skizofrenia cukup berat, tak jarang penderitanya dikucilkan dan dipasung.

Skizofrenia merupakan kondisi jangka panjang yang dapat membutuhkan penanganan seumur hidup dan dapat terjadi pada siapa saja. Berita baiknya, bila ditangani sejak dini, maka peluang kesembuhan cukup besar.

Kenali gejala skizofrenia

Skizofrenia mengganggu cara berpikir dan perilaku penderitanya. Sebagian besar penderita mengalami waham dan/atau halusinasi. Waham adalah suatu keyakinan yang salah (tidak sesuai fakta), tapi dipertahankan secara kuat meskipun sudah dijelaskan mengenai realita yang sebenarnya terjadi. Misalnya, seseorang yang punya keyakinan tak tergoyahkan bahwa dirinya adalah titisan dewa.

Ada beberapa jenis waham yang sering dialami penderita skizofrenia, antara lain:

  • Waham kejar atau persekusi, yaitu keyakinan bahwa ada orang yang ingin membahayakan si penderita. Misalnya meyakini bahwa ada orang yang ingin meracuni penderita skizofrenia dengan menaburkan racun pada sumber air di rumah, merasa dirinya diikuti oleh seseorang yang bersenjata, dan lain-lain.
  • Waham rujukan, yaitu keyakinan bahwa orang-orang di sekitar dan seluruh alam semesta ini punya hubungan dengan si penderita. Misalnya saat ada orang lain berkumpul di dekat penderita, si penderita meyakini kalau sekumpulan orang tersebut sedang membicarakannya.
  • Waham kebesaran, yaitu keyakinan penderita bahwa dirinya adalah orang yang terkenal atau sangat hebat. Misalnya penderita meyakini kalau dirinya adalah seorang nabi atau Tuhan.
  • Waham kendali, yaitu keyakinan penderita bahwa dirinya dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Misalnya penderita meyakini bahwa semua pikiran di kepalanya dikendalikan oleh badan intelijen.

Sementara itu, halusinasi yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditorik (merasa mendengar suara yang sebenarnya tidak ada), misalnya mendengar ada suara yang membisiki dirinya untuk membunuh orang lain.

Selain halusinasi dan waham, gejala skizofrenia dapat berupa perilaku yang “tidak tergorganisir” (disorganized behavior), seperti tidak pernah mandi, rambut berantakan, bicara tidak nyambung, atau melakukan tindakan tanpa tujuan.

Gejala-gejala seperti yang disebutkan sebelumnya menyebabkan penderita skizofrenia bisa berlaku aneh, bahkan bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Meski demikian, ada pula gejala skizofrenia yang cenderung berlawanan dengan gejala-gejala di atas, seperti:

  • Emosi datar, dalam arti tidak menunjukkan ekspresi apa pun sepanjang waktu, intonasi suara datar, dan tidak ada kontak mata dengan orang lain.
  • Tidak mau merawat diri sendiri dan terlihat tidak antusias untuk melakukan aktivitas apa pun.
  • Cenderung diam dan enggan berbicara dengan orang lain.

Gangguan jiwa di Indonesia

Gangguan jiwa berat ini masih kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Bahkan, sebagian besar daerah di Indonesia memercayai penyebab skizofrenia adalah karena kerasukan roh jahat, pendosa, melakukan perbuatan amoral, dan kurang iman.

Faktanya, timbulnya skizofrenia tidak diketahui secara pasti. Namun, para peneliti mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik, sistem kimiawi otak, serta faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangan dari gangguan jiwa ini.

Fakta yang menyedihkan pun terkuak dalam laporan “Hidup di Neraka: Kekerasan terhadap Penyandang Disabitilas Psikososial di Indonesia” yang disusun oleh Human Rights Watch Indonesia. Laporan ini menguraikan bagaimana orang dengan kondisi kesehatan jiwa sering berakhir dengan dirantai atau dikurung di institusi yang penuh sesak dan sangat tidak sehat.

Hal itu sering kali dilakukan tanpa persetujuan mereka, karena stigma yang beredar di masyarakat.  Selain itu juga karena minimnya perawatan kesehatan jiwa dan dukungan pelayanan berbasis masyarakat. Bahkan, di institusi itu mereka dikatakan menghadapi kekerasan fisik dan seksual, menjalani pengobatan paksa termasuk terapi elektro-syok, diisolasi, dibelenggu, dan dipaksa menerima kontrasepsi.

Lebih dari 57.000 orang di Indonesia dengan kondisi kesehatan jiwa pernah dipasung—dibelenggu atau dikurung di ruang tertutup—setidaknya sekali dalam hidup. Dan berdasarkan data pemerintah, sekitar 18.800 orang masih dipasung. Meski pemerintah melarang pasung sejak tahun 1977, tapi dalam praktiknya banyak pihak yang masih memilih untuk memasung penyandang disabilitas psikososial,  bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.

Bagaimana deteksi dini skizofrenia?

Hampir semua penderita skizofrenia memiliki pandangan yang buruk terhadap keadaan dirinya. Artinya, umumnya penderita skizofrenia tidak menyadari dirinya sakit dan membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, peran keluarga dan orang-orang terdekat sangat penting untuk mengenali gejala awal skizofrenia.

Seseorang patut dicurigai mengalami skizofrenia bila:

  • Menunjukkan keengganan untuk berkomunikasi dengan orang lain
  • Ekspresinya datar
  • Enggan merawat diri, seperti malas mandi, menyisir rambut, dan sikat gigi
  • Sering bengong
  • Mudah curiga pada orang lain
  • Mengungkapkan pemikiran yang aneh atau tidak wajar
  • Gangguan tidur, bisa berupa terlalu banyak tidur atau sulit tidur

Bila Anda mendapati seseorang yang Anda kenal menunjukkan gejala-gejala gangguan jiwa skizofrenia yang sudah disebutkan di atas, jangan mengucilkannya. Selain itu jangan ragu untuk mengajaknya ke dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pengobatan dini pada penderita skizofrenia memberikan tingkat kesembuhan yang lebih baik.

[RN/ RVS]