Demam Bisa Merusak Otak Anak?

Oleh dr. Andika Widyatama pada pada 16 Mei 2018, 17:09 WIB
Demam pada anak memang sering bikin khawatir. Namun, apakah kondisi ini bisa memengaruhi otaknya?
Demam Bisa Merusak Otak Anak? (Narikan/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendengar bahwa demam tinggi pada anak dapat merusak otaknya? Jika ya, apakah Anda salah satu yang memercayainya? Namun sebelum panik, Anda harus tahu dulu apa itu demam dan apa penyebabnya. 

Demam merupakan salah satu gejala penyakit yang sering dikeluhkan oleh setiap orang, tak terkecuali anak-anak. Ya, demam bukanlah penyakit, melainkan suatu gejala. Artinya ketika demam terjadi, seseorang harus segera mencari tahu penyebab yang mendasarinya.

Umumnya, demam yang dialami anak disebabkan oleh proses infeksi di dalam tubuhnya. Mulai dari infeksi saluran pernapasan yang bisa disertai gejala batuk atau pilek, hingga infeksi saluran pencernaan yang dapat diikuti dengan buang air besar cair atau diare.

Jika anak mengalami demam, sudah pasti membuat kedua orang tua menjadi khawatir. Bahkan demam tidak jarang dapat menyebabkan kejang pada anak, yang lebih dikenal dengan kejang demam.

Kejang demam adalah suatu kondisi terjadinya kejang saat suhu tubuh anak meningkat di atas 38 derajat Celsius tanpa disertai dengan tanda-tanda gangguan di saraf pusat dan otak. Hal tersebut tentu membuat kedua orang tua makin cemas. Terlepas dari hal tersebut, apakah sebenarnya demam bisa memengaruhi bahkan merusak otak anak?

Kaitan antara demam dan kerusakan otak

Suhu tubuh normal pada anak dan bayi berkisar antara 36,6–37,2 derajat Celsius. Jika suhu tubuh lebih dari 41 derajat Celsius, ini dapat berpotensi menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh. Namun sebenarnya, jarang sekali infeksi dapat menyebabkan peningkatan suhu hingga di atas 41 derajat Celsius.

Pada sebuah penelitian, 49% dokter spesialis anak di Amerika Serikat mempertimbangkan bahwa kejang merupakan dampak yang berbahaya dari demam dan 22%-nya percaya bahwa kerusakan otak dapat terjadi akibat kejang demam yang tipikal.

Akan tetapi, dalam kebanyakan kasus, demam pada anak tidak membahayakan jaringan otak, ataupun menimbulkan epilepsi. Apalagi, biasanya tubuh memiliki mekanisme untuk menurunkan suhu dengan sendirinya saat terjadi demam.

Saat demam, suhu tubuh diatur oleh pusat pengatur suhu yang berada di salah bagian otak yang bernama hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut akan membuat seimbang antara produksi panas dalam tubuh dengan pengeluaran panas dari dalam tubuh. Dengan demikian, suhu tubuh tidak terus meningkat.

Selain itu, sebuah penelitian menyatakan bahwa demam justru memberikan manfaat bagi tubuh. Mengapa? Demam merupakan salah satu upaya untuk melawan infeksi kuman yang terjadi di dalam tubuh.

Penelitian lain menyebutkan bahwa kerusakan otak mungkin dapat terjadi akibat demam yang sangat tinggi hingga suhu melebihi 42 derajat Celsius. Namun, sangatlah jarang kenaikan suhu bisa mencapai setinggi itu. Di samping itu, demam yang disebabkan oleh proses infeksi dipercaya tidak dapat menimbulkan kerusakan pada otak.

Pada kenyataannya, suhu tubuh mungkin meningkat setinggi itu bila suhu udara luar sangatlah panas. Misalnya, bila Anda meninggalkan anak di dalam mobil saat cuaca panas, ada kemungkinan suhu tubuhnya dapat mencapai 42 derajat atau lebih.

Jadi, demam hanyalah salah satu gejala yang bisa dialami anak Anda kapanpun, dan demam yang disebabkan oleh proses infeksi dipercaya tidak dapat menimbulkan kerusakan pada otak. Sebelum melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebab demam, Anda harus segera menurunkan suhu tubuh anak. Misalnya dengan pemberian obat penurun panas (antipiretik), kompres hangat, mencukupi asupan cairan, dan pastikan anak menggunakan pakaian yang tipis.

[RS/ RVS]