Latihan Membaca untuk Anak Disleksia

Oleh dr. Rio Aditya pada 20 Mei 2018, 08:42 WIB
Disleksia merupakan gangguan belajar yang paling sering ditemukan pada anak. Bagaimana cara mengajarkan anak disleksia membaca?
Latihan Membaca untuk Anak Disleksia (Monkey Business Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Disleksia adalah gangguan belajar yang paling sering ditemukan. Kondisi ini didefinisikan sebagai gangguan belajar spesifik, yang berasal dari masalah neurologis. Disleksia ditandai dengan kesulitan untuk mengenali kata yang tepat atau yang fasih digunakan. Anak dikleksia juga mengalami hal tersebut.

Pengidap gangguan ini juga kesulitan dalam melafalkan kata. Hal tersebut terjadi karena mereka memiliki bagian otak yang terganggu, sehingga berisiko tinggi untuk mengalami masalah pada perkembangan kosakata dan kecerdasan otaknya.

Kekurangan dan kelebihan anak disleksia

Anak disleksia biasanya mengalami gangguan belajar, serta kesulitan dalam membaca dan menulis. Namun di satu sisi, mereka punya kecerdasan dan motivasi yang cukup kuat untuk melakukan hal-hal tersebut.

Menariknya, meski anak disleksia memiliki kesulitan memahami kata-kata saat membaca, mereka dapat memahami kata yang sama jika dibicarakan atau dibacakan langsung oleh orang lain.

Atas dasar itu, anak disleksia tak selalu menjadi sosok yang kurang cerdas di antara teman-temannya yang normal. Hal ini karena sebagian besar anak disleksia memiliki nilai Intelligence Quotient (IQ) rata-rata atau bahkan lebih tinggi.

Tips menghadapi anak disleksia

Pada prinsipnya, otak anak disleksia memerlukan waktu yang lebih lama untuk menerima, mengatur, menghafal dan menggunakan informasi baru yang diterima. Nah, untuk memaksimalkan kecerdasan dan melatih kemampuan membaca anak disleksia, teknik pendekatan Orton-Gillinham dapat menjadi salah satu solusinya.

Teknik pendekatan Orton-Gillingham merupakan metode tersruktur, dengan memecah bacaan dan pelafalan menjadi bagian yang lebih kecil dan sederhana. Seiring waktu berjalan, bacaan-bacaan dan pelafalan kata tersebut disusun perlahan menjadi bentuk utuh.

Metode tersebut tidak sekadar meminta anak untuk membaca dan melafalkan saja. Tetapi juga menggunakan semua panca indra untuk belajar dan membantu anak membangun koneksi antara bahasa maupun kata.

Langkah pertama yang dilakukan pada teknik Orton-Gillinham adalah mengajarkan anak untuk mengenali hubungan antara suara dengan huruf atau kata yang membentuknya. Misalnya, “susu”. Anak harus mengenali seperti apa pelafalan “s” dan “u” dan memilih kata yang paling membentuk pelafalan “s” dan “u”.

Setelah anak bisa mengenali, selanjutnya akan dibalik. Anak harus mengenali kata yang membentuk pelafalan tertentu. Jika menggunakan contoh tadi, maka anak harus mengenali seperti apa huruf “s” sehingga membentuk kata “susu”.  Jika anak mulai terbiasa dan fasih mengenali pelafalan huruf atau kata, maka akan mulai naik ke tahapan yang berikutnya, yaitu mengenal kalimat.

Karena tergolong rumit, teknik pendekatan Orton-Gillingham biasanya memerlukan bantuan tenaga ahli. Sebab, orang yang mempraktikkan teknik ini perlu diberikan pengajaran khusus terlebih dahulu, agar dirinya dapat melatih kemampuan anak disleksia dengan maksimal.

Namun demikian, Anda sebenarnya tak perlu terpaku dengan teknik tersebut. Sejatinya, untuk melatih kemampuan membaca anak disleksia, Anda juga dapat menggunakan gawai atau games berbasis edukasi. Meski cara ini tak lebih efektif dari teknik pendekatan Orton-Gillinham, tak ada salahnya untuk mencoba.

Ingatlah untuk selalu memberikan dukungan dan kasih sayang penuh, apa pun teknik latihan membaca yang dipilih untuk anak disleksia. Dengan begini, bukan tak mungkin kemampuan membaca yang mereka miliki akan melampaui anak normal seusianya.

[NB/ RVS]