Narkoba Picu Depresi, Ini Fakta Medis Sebenarnya

Oleh dr. Nadia Octavia pada 27 Jun 2018, 07:30 WIB
Penyalahgunaan narkoba bisa memicu terjadinya depresi. Bagaimana keadaan itu bisa terjadi? Cari tahu di sini.
Narkoba Picu Depresi, Ini Fakta Medis Sebenarnya (Kaspars Grinvalds/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kecanduan narkoba sering dimulai dari sekadar iseng mencoba. Meski awalnya biasa, timbul perasaan senang atau bahagia setelah mencicipi narkoba, zat adiktif ini sebenarnya bisa menjerat pemakainya pada keadaan yang tidak diduga-duga. Salah satu efek samping paling ringan dari narkoba adalah munculnya depresi.

Perlu Anda tahu, obat golongan opioid (opium) seperti heroin, morfin, dan hydrocodone merupakan jenis narkoba yang tergolong sering disalahgunakan. Hal ini karena obat tersebut dapat menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan efek euforia alias bahagia berlebihan.  Padahal bila digunakan di luar indikasi dokter dapat menimbulkan ketergantungan dan overdosis yang berujung pada kematian.

Narkoba dan depresi

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Physicological Medicine Journal, obat golongan opioid dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan cemas, dan gangguan bipolar.

Studi lain yang dilakukan oleh St. Louis University di Missouri, Amerika Serikat, juga menyebutkan hal yang sama. Para peneliti pada studi ini mendapatkan hasil bahwa 100 dari 100.000 pasien yang diresepkan obat golongan opioid mengalami depresi setelah menggunakan obat tersebut lebih dari 1 bulan.

Penggunaan obat golongan opioid jenis lain, yaitu heroin, yang merupakan opioid golongan tinggi, berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention, menyebabkan sebagian penggunanya mengalami kecanduan. Sebanyak 48% pengguna heroin mengalami efek samping berupa perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, murung, sedih, dan depresi. Bahkan 35% pengguna heroin mengalami peningkatan risiko bunuh diri.

Berbagai studi di atas membuktikan bahwa narkoba golongan opioid dapat memberikan efek euforia semu yang bersifat sesaat akibat rangsangan tertentu di otak. Oleh karena itu, penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan ambang batas rasa bahagia penggunanya. Pada akhirnya, yang akan terjadi kemudian adalah disforia alias perasaan murung, sedih, tidak puas diri, hingga depresi.

Adapun dampak buruk lain yang mungkin menyertai pemakaian narkoba golongan opioid, di antaranya:

  • Tidak tertarik melakukan aktivitas yang biasa dilakukan
  • Adanya perubahan pola tidur; menjadi susah tidur atau justru tidur berlebihan
  • Perasaan murung dan sedih berkelanjutan
  • Mudah tersinggung
  • Perubahan nafsu makan; tidak nafsu makan atau makan berlebihan
  • Merasa bersalah dan tidak percaya diri
  • Lesu, mudah lelah, badan lemas, dan tidak berenergi
  • Sulit fokus dan berkonsentrasi
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan bunuh diri

Mengetahui bahwa narkoba dapat memberikan efek samping yang demikian, Anda sebaiknya tidak mendekatkan diri sama sekali pada benda yang satu ini. Sementara itu, bila Anda terpaksa harus berurusan dengan benda tersebut akibat adanya suatu penyakit, pastikan penggunaannya benar-benar diawasi oleh dokter yang ahli. Jangan pernah berpikiran untuk menentukan dosisnya sendiri, bila Anda tak ingin mengalami depresi di kemudian hari.

[NB/ RVS]