Apa Hubungan Antara Sakit Kepala dengan Hormon?

Oleh dr. Anita Amalia Sari pada 27 Jun 2018, 08:00 WIB
Perubahan hormon pada wanita bisa menyebabkan sakit kepala. Bagaimana penjelasan medisnya?
Apa Hubungan Antara Sakit Kepala dengan Hormon? (Impact Photography/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda merasakan sakit kepala sebelah ketika sedang menstruasi? Jika ya, sakit kepala yang Anda alami sebenarnya berhubungan dengan pengaruh perubahan hormonal.

Sakit kepala merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dirasakan orang. Baik pada pria maupun wanita, sakit kepala dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti migrain, tension-type headache, sakit gigi, demam, tumor otak, peningkatan tekanan di dalam otak, dan sebagainya.

Di samping itu, sakit kepala juga dapat dipicu oleh stres, kelelahan, kurang tidur, serta perubahan hormon.

Ya, perubahan hormon estrogen dan progesteron saat menstruasi, kehamilan, dan menopause dapat memicu sakit kepala, terutama migrain. Begitu pula dengan penggunaan kontrasepsi oral (pil KB) dan terapi pengganti hormon.

Perlu diketahui, estrogen mengontrol senyawa kimia di otak yang memengaruhi rasa nyeri. Penurunan jumlah estrogen ini dapat memicu sakit kepala.

Sakit kepala saat menstruasi

Ketika datang bulan, tak jarang wanita yang mengeluhkan sakit kepala sebelah. Migrain sering kali muncul dua hari sebelum menstruasi atau pada tiga hari pertama menstruasi. Migrain yang terjadi saat menstruasi biasanya jauh lebih hebat dibanding  migrain saat sedang tidak menstruasi.

Mengapa migrain dapat terjadi saat menstruasi? Hal ini disebabkan oleh perubahan hormonal yang alami terjadi saat menstruasi, yang membuat jumlah estrogen menurun drastis sehingga memicu sakit kepala.

1 of 2

Sakit kepala saat hamil

Bagi sebagian besar wanita, migrain justru akan menghilang saat hamil, karena jumlah estrogen yang meningkat di awal kehamilan dan terus berada dalam jumlah yang cukup stabil hingga persalinan. Namun, sebagian kecil wanita ada yang mengalami migrain di awal kehamilan dan membaik setelah trimester pertama.

Setelah melahirkan, jumlah hormon estrogen akan menurun dengan cepat ditambah dengan perubahan pola tidur, pola makan, kurangnya istirahat atau bahkan stres setelah melahirkan. Alhasil keluhan sakit kepala bisa muncul kembali.

Sakit kepala saat menopause

Beberapa tahun menjelang masa menopause atau disebut perimenopause, hormon wanita akan menjadi tidak stabil sehingga bisa memicu timbulnya sakit kepala yang lebih sering dibanding biasanya. Ketika memasuki masa menopause umumnya keluhan migrain akan berangsur membaik.

Mengatasi sakit kepala

Setiap wanita memiliki ambang batas terhadap sakit kepala dan beberapa lebih sensitif terhadap efek hormon. Jika Anda mengalami sakit kepala yang disebabkan oleh pengaruh hormon, ikuti tips berikut untuk membantu mengurangi gejala:

  • Istirahat yang cukup setiap hari.
  • Jaga hidrasi tubuh dengan perbanyak konsumsi cairan (minimal 2 liter per hari).
  • Hindari stres. Lalukan olahraga yang dapat membantu merelaksasi pikiran seperti yoga.
  • Jaga asupan makanan. Serta jangan sampai melewatkan waktu makan, karena bisa jadi ini memicu migrain.
  • Pijat area yang terasa nyeri.
  • Gunakan kantong berisi es yang sudah dibalut handuk dan tempelkan ke kepala atau leher.
  • Tidur telentang di ruangan gelap. Cahaya dapat memicu migrain.
  • Konsumsi obat-obatan antinyeri yang dijual dipasaran seperti ibuprofen atau parasetamol.

Bila keluhan tidak membaik setelah mencoba berbagai tips di atas, periksakan kondisi sakit kepala Anda ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Kemungkinan pula Anda membutuhkan obat-obatan lainnya, atau mungkin memerlukan terapi hormon estrogen tambahan.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓