Efek Buruk Sabu untuk Kesehatan Anda

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 04 Jul 2018, 10:50 WIB
Sabu merupakan sejenis obat psikostimulan yang bisa membuat kecanduan. Kenali efeknya yang bisa merusak kesehatan tubuh Anda.
Efek Buruk Sabu untuk Kesehatan Anda (DedMityay/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Metamfetamin, atau dikenal di Indonesia sebagai sabu, adalah obat psikostimulan dan simpatomimetik. Secara kimiawi, sabu mirip dengan amfetamin, obat yang digunakan untuk menangani ADHD dan narkolepsi.

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari Klikdokter, banyak orang menggunakan sabu untuk mendapatkan efek psikologis. Efek yang paling diinginkan adalah perasaan euforia dan bersemangat.

“Sabu juga dinilai meningkatkan kepercayaan diri, harga diri dan libido. Pemakai sabu bisa tampil penuh percaya diri tanpa ada perasaan malu dan menjadi orang yang berbeda kepribadian dari sebelumnya,” kata dr. Dyan.

Salah satu yang mungkin menarik banyak orang untuk memakai sabu adalah pemakaian zat ini tidak dibarengi dengan efek sedasi atau menurunnya kesadaran. Tak seperti heroin atau ganja, pemakai sabu dapat membuat dirinya untuk tetap membuat terjaga dan konsentrasi.

Selain efek di atas, sebenarnya sabu juga bisa menimbulkan gejala-gejala psikosomatik, paranoid, halusinasi dan agresivitas. Kelebihan pemakaian obat ini akan membuat orang menjadii mudah tersinggung dan berani berbuat sesuatu yang mengambil risiko.

Merusak tubuh dan hidup

Efek sabu begitu dahsyat dan dapat membuat orang percaya diri. Tak heran banyak sosok figur publik, baik itu seniman maupun lapisan profesi lainnya yang tertangkap polisi karena menggunakan sabu. Alasan mereka memakai sabu biasanya karena ingin mendongkrak proses kreatif.

Pemakaian sabu, apalagi yang berlebihan, menyimpan potensi bahaya besar untuk kesehatan fisik. Dampak stimulan pada obat ini menyebabkan kerja jantung dan pembuluh darah tubuh menjadi berlebihan.

Peningkatan tekanan darah, baik sistolik dan diastolik, sangat nyata pada penggunaan sabu. Kondisi tersebut biasanya dibarengi dengan denyut jantung yang kencang. Bukan hal yang mengejutkan jika jenis narkotika ini akan membawa dampak sangat berbahaya bagi penderita hipertensi atau darah tinggi.

“Sabu juga bisa menimbulkan efek kejang sampai perdarahan otak. Saya pernah secara langsung melihat di unit gawat darurat pasien wanita yang mengalami kejang dan perdarahan otak akibat penggunaan sabu-sabu yang berlebihan, hingga akhirnya meninggal,” kata dr. Dyan, menceritakan pengalamannya.

Tak ayal, penggunaan sabu turut meningkatkan suhu tubuh sampai tinggi sehingga menyebabkan demam luar biasa pada penggunanya. Perlu dicatat bahwa peningkatan suhu tubuh yang berlebihan juga sangat berbahaya karena memengaruhi otak dan menimbulkan kejang.

Mengatasi kecanduan sabu

Kadar sabu dalam tubuh dapat bertahan tergantung dari jumlah zat yang digunakan serta tes yang hendak dijalankan. Pada umumnya, zat ini dapat terdeteksi hingga 1-3 hari dalam urine, 1- 2 hari dalam darah, dan 90 hari pada rambut.

Seorang pecandu, walaupun sudah lama tidak memakai lagi, banyak yang masih merasakan gejala sisa. Kebanyakan dari mereka merasa sulit merasakan kebahagiaan lagi, di samping gejala-gejala psikosomatik yang menetap. Dalam bahasa awam, gejala psikosomatik semacam itu sering disebut sebagai “sakit pikiran”.

Mengapa? Ini karena pemakaian sabu dalam jangka waktu lama akan merusak sistem serotonin serta dopamin di otak yang bertanggung jawab terhadap hal ini.

“Penanggulangan pasien dengan kondisi seperti ini memerlukan waktu yang lebih panjang daripada kondisi psikosomatik yang tidak terdapat riwayat pemakaian zat sebelumnya,” tutur dr. Dyan.

Demi menghilangkan efek buruk sabu, dr. Dyan menyarankan agar Anda melibatkan seorang dokter spesialis psikiatri yang memiliki kapabilitas dalam proses rehabilitasi narkoba. Namun langkah utama yang terpenting adalah hindari semua jenis obat-obatan terlarang dan semacamnya. Jangan pernah sekalipun untuk mencobanya, karena efeknya bisa sangat merusak kesehatan tubuh, hingga mengakibatkan kematian.

[RS/ RVS]