Benarkah Kebiasaan Menahan Marah Picu Tekanan Darah Tinggi?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 11 Jul 2018, 13:47 WIB
Tekanan darah tinggi dapat muncul karena berbagai hal. Menurut kepercayaan masyarakat, menahan marah merupakan salah satu penyebabnya.
Benarkah Kebiasaan Menahan Marah Picu Tekanan Darah Tinggi? (Alliance/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit tekanan darah tinggi yang juga dikenal dengan istilah hipertensi, merupakan salah satu kondisi kesehatan yang cukup sering ditemui. Banyak orang yang beranggapan bahwa menahan marah juga bisa menjadi salah satu penyebab hipertensi.

Seseorang dengan hipertensi memiliki peningkatan risiko untuk mengalami stroke hingga 4 kali lipat, dan serangan jantung hingga 2 kali lipat, bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tekanan darah normal. Semakin tinggi tekanan darah seseorang, semakin tinggi juga risiko terjadinya berbagai penyakit tersebut.

Tingginya angka kejadian hipertensi membuat penyakit ini kemudian menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian. Di masa mendatang, angka kejadian dari hipertensi juga diprediksi semakin meningkat.

Beberapa hal yang dikaitkan dengan meningkatnya angka kejadian hipertensi sering kali berhubungan dengan faktor gaya hidup yang dijalani oleh seseorang.Beberapa gaya hidup yang dinilai memicu gangguan kesehatan tersebut, seperti pola makan yang kaya garam dan makanan berlemak, kebiasaan merokok, atau jarang melakukan aktivitas fisik.

Uniknya, beberapa sumber juga mengatakan bahwa kebiasaan menahan amarah dapat membuat seseorang mengalami tekanan darah tinggi.

1 of 2

Menahan marah dan tekanan darah tinggi

Menurut salah satu penelitian yang dipublikasikan di jurnal kedokteran Psychosomatic Medicine, terdapat kaitan yang bermakna antara menahan amarah dengan tekanan darah tinggi pada pria, sedangkan kaitan tersebut belum dapat terlihat pada wanita.

Temuan serupa juga diuraikan oleh penelitian yang dipublikasikan di jurnal kedokteran Annals of Behavioral Medicine. Akan tetapi, hubungan sebab-akibat antara kedua hal tersebut belum dapat dipastikan, karena penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional.

Sebagai tambahan, salah satu telaah klinis yang ditulis di jurnal Health Psychologies juga mengevaluasi 22 penelitian yang dilakukan di berbagai penjuru dunia. Jurnal tersebut menyimpulkan bahwa individu yang menahan emosi apapun, baik amarah, kecemasan, atau stres, dapat memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi. Kondisi ini merupakan salah satu pemicu utama penyakit kardiovaskular, serangan jantung, dan stroke.

Tips menghindari emosi

Menurut Marcus Mund, salah satu peneliti yang juga seorang profesor di Friedrich Schiller University Jena di German, saat seseorang merepresikan pikiran negatif secara terus-menerus, aksis hipotalamus-pituitari-adrenal yang mengendalikan respons tubuh terhadap stresor eksternal mulai beraksi.Kondisi ini menyebabkan produksi hormon kortisol yang berlebih. Pelepasan hormon kortisol dalam tubuh tersebut dapat meningkatkan tekanan darah.

Salah satu cara agar terhindar dari kondisi ini adalah mencari cara yang baik untuk menyampaikan hal yang dirasakan saat mengalami argumen, konflik, atau perbedaan pendapat. Dengan menjadi komunikatif dan mencari solusi yang ideal untuk semua belah pihak yang terlibat, masalah yang dialami dapat ditangani bersama-sama dengan bijaksana.

Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh beberapa hal, termasuk menerapkan pola hidup yang kurang sehat. Namun, seperti yang telah dirangkum di atas, menahan amarah juga memiliki kaitan dengan terjadinya tekanan darah tinggi, walaupun hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menghindari terkena tekanan darah tinggi karena menahan marah adalah dengan mencari cara komunikasi yang baik untuk menyampaikan perbedaan pendapat atau mengatasi konflik. Dengan demikian, masalah yang ada dapat terselesaikan dengan baik, dan hipertensi pun bisa dihindari.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓