Terapi Hormon Pada Wanita Transgender Rentan Picu Stroke

Oleh dr. Bobtriyan Tanamas pada 14 Apr 2020, 12:25 WIB
Menurut penelitian, terapi hormon pada wanita transgender dapat menyebabkan stroke. Bagaimana faktanya? Simak uraian berikut ini
Terapi Hormon pada Wanita Transgender Rentan Picu Stroke

Klikdokter.com, Jakarta Terapi hormon yang dilakukan untuk transisi gender, dianggap dapat bermanfaat untuk kesehatan mental para transgender. Meski demikian, terapi hormon juga memiliki efek samping, terutama pada kondisi kesehatan transgender wanita. Apa dampaknya?

Terapi Hormon untuk Transgender Wanita

Terapi hormon feminisasi digunakan untuk menginduksi perubahan fisik dalam tubuh pria yang mengubah gendernya menjadi wanita, atau bisa juga disebut male to female (MTF).

Jika terapi hormon feminisasi dilakukan sebelum perubahan masa pubertas pria dimulai, karakteristik seks sekunder pria seperti peningkatan rambut di tubuh dan perubahan nada suara ini dapat dihindari.

Terapi hormon feminisasi juga disebut sebagai terapi hormon lintas jenis kelamin. Selama terapi hormon feminisasi, Anda akan diberikan obat untuk memblokir fungsi kerja hormon testosteron. 

Artikel Lainnya: Bisakah Stroke Menyerang Tanpa Gejala?

Selain untuk mengurangi kadar testosteron, pemberian hormon estrogen ini dilakukan untuk memicu munculnya karakteristik seks sekunder wanita. Antara lain seperti payudara yang membesar dan kulit yang lebih halus. 

Perubahan yang disebabkan oleh obat-obatan ini bisa bersifat sementara atau permanen. Terapi hormon feminisasi dapat dilakukan sendiri atau dikombinasikan dengan operasi feminisasi.

Rezim hormon untuk wanita transgender atau male to female  (MTF)

  • Anti-androgen
  • Estrogen oral
  • Estrogen parenteral
  • Estrogen transdermal

Pemantauan untuk wanita transgender (MTF) pada terapi hormon:

  • Pasien akan dipantau adanya efek samping setiap 3 bulan sekali dalam setahun pertama dan kemudian setiap 6–12 bulan.
  • Pasien akan diperiksa kadar testosteron dan estradiol nya dengan target testosteron 30 - 100 ng / dl; E2
  • Pasien akan dipantau kadar prolaktin dan trigliseridanya sebelum memulai terapi hormon serta pada kunjungan tindak lanjut.
  • Pasien akan dipantau kadar potasiumnya apabila menggunakan spironolakton.
  • Pasien wajib skrining BMD atau tes kepadatan tulang sebelum memulai hormon untuk pasien yang berisiko osteoporosis. Jika tidak berisiko, mulailah skrining pada usia 60 atau lebih awal jika kadar hormon seks secara konsisten rendah.
  • Pasien MTF harus melakukan tes untuk kanker payudara dan prostat. 

Artikel Lainnya: Awas, Kekurangan Hormon Oksitosin Sebabkan Orang Kurang Empati

1 of 3

Efek Terapi Hormon Pada Transgender Wanita

Ilustrasi Transgender Wanita
Ilustrasi Transgender Wanita

Pada umumnya, setiap terapi atau tindakan medis yang dilakukan pada tubuh manusia, termasuk terapi hormon, punya efek samping tersendiri. 

Hasil studi terbaru dalam Annals of Internal Medicine menyebutkan, terapi hormon terbukti menimbulkan risiko berupa penggumpalan darah dan stroke di kalangan transgender wanita. 

Pembekuan dan penggumpalan darah yang disebut tromboemboli vena, dua kali lipat berisiko terjadi pada transgender wanita yang melakukan terapi hormon. 

Bahkan menurut para peneliti, ketika membandingkan efek terapi hormon pada  transgender dengan pria atau wanita tulen, risiko tromboemboli lebih besar dialami oleh transgender wanita. 

Ditemukan juga hasil, bahwa transgender wanita yang sedang memulai terapi hormon memiliki risiko bekuan darah 5 lipat lebih tinggi setelah dua tahun menjalani proses tersebut. 

Artikel Lainnya: Cara Menghilangkan Kumis Tipis pada Wanita

Risiko tersebut disebabkan karena adanya alterasi perpindahan hormon pada wanita transgender. 

Meskipun wanita berisiko lebih rendah terkena penyakit jantung daripada pria, namun kemungkinan stroke dan serangan jantung untuk wanita transgender tetap sama.

Dilansir Medical Daily, peneliti menggunakan Kaiser Health System untuk menguji data hampir 5,000 pasien transgender (2,834 transgender wanita dan 2,118 transgender pria). 

Hasilnya menyatakan, bahwa wanita transgender yang melakukan terapi hormon (dengan estrogen) memiliki risiko tinggi terkena penggumpalan darah yang disebut venous thromboembolism. Namun, pria transgender yang melakukan terapi hormon (dengan testosteron) tidak memiliki risiko setinggi itu.

Risiko stroke di antara transgender wanita juga 9.9 kali lebih tinggi dibanding pria yang masuk kelompok kontrol (kelompok yang tidak melakukan terapi).

Artikel Lainnya: Ketahui Hubungan Dihidrotestosteron dan Kebotakan

2 of 3

Bagaimana Terapi Hormon Dapat Memicu Stroke?

Stroke terjadi ketika ada masalah dengan suplai darah ke otak. Kondisi tersebut bisa terjadi ketika ada penyumbatan di salah satu arteri ke otak (stroke iskemik) atau karena perdarahan di sekitar otak (disebut hemoragik stroke). 

Sebagian besar kondisi stroke (sekitar 80 persen) disebabkan oleh penyumbatan. Penyebab penyumbatan yang paling umum adalah gumpalan darah. 

Lalu, apa hubungan risiko stroke dengan efek terapi hormon? Hormon adalah bahan kimia yang dibuat oleh kelenjar di dalam tubuh. Hormon bergerak di dalam aliran darah ke jaringan dan organ tubuh. Fungsi hormon antara lain untuk memengaruhi suasana hati, untuk bereproduksi, serta membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh, 

Hubungan antar jenis kelamin perempuan, hormon estrogen dan progesteron, dengan penyakit stroke pada dasarnya tidak terlalu jelas. 

Di satu sisi estrogen dapat melindungi wanita dari kondisi stroke karena dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Namun, sisi lain, estrogen juga dapat meningkatkan kemungkinan pembekuan darah yang berisiko menyebabkan stroke. 

Artikel Lainnya: Preeklamsia Bikin Ibu Hamil Rentan Kena Penyakit Jantung

Minum obat-obatan seperti pil kontrasepsi atau sedang dalam kondisi hamil, dapat memengaruhi kadar hormon yang dapat meningkatkan risiko terkena stroke. 

Menurut pendapat studi lain, terapi estrogen dan supresi (mengendalikan) hormon androgen pada wanita transgender memiliki efek positif dan negatif pada kondisi kesehatan kardiovaskular.

Terapi estrogen yang dilakukan pada wanita transgender, dilaporkan dapat menghasilkan beberapa campuran perubahan parameter fisiologis.

Artikel lainnya: Kiat Cegah DVT pada Ibu Hamil

Perubahan yang dapat terjadi antara lain meningkatkan kadar lemak di tubuh, peningkatan berat badan, peningkatan lemak visceral, perubahan darah prothrombotik, dan kadar trigliserida jadi lebih tinggi. Di mana perubahan itu semua jelas dapat memicu efek seperti penyakit jantung ataupun stroke.

Sebelum membuat keputusan besar untuk terapi hormon pada transgender wanita, sebaiknya diskusikan matang-matang dengan dokter. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut tentang risiko penyakit stroke atau terapi hormon lainnya, jangan ragu konsultasikan dengan dokter lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter

(OVI/RPA)

Lanjutkan Membaca ↓