Ketahui 8 Penyebab Luka Sulit Sembuh

Oleh dr. Adeline Jaclyn pada 27 Jul 2018, 07:00 WIB
Anda pernah mengalami luka sulit sembuh? Bisa jadi ini yang menjadi penyebabnya.
Ketahui 8 Penyebab Luka Sulit Sembuh (Soonthorn Wongsaita/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Luka akibat apa pun tentunya membuat orang khawatir. Anda ingin cepat luka tersebut cepat sembuh dan tidak meninggalkan bekas di kulit. Namun pada beberapa kasus, ada pula ditemukan luka yang sulit sembuh.

Normalnya penyembuhan luka membutuhkan waktu selama 3 minggu. Untuk beberapa luka dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk sembuh.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Faktor lokal seperti kondisi luka, infeksi, trauma, dan bengkak dapat memengaruhi penyembuhan. Faktor sistemik juga sangat berperan, yakni umur, kesehatan umum, dan status gizi.

Jika mengalami luka yang tidak membaik lebih dari beberapa minggu atau bulan, perlu dilakukan pemeriksaan ke dokter. Luka yang lama atau kronis dapat menimbulkan komplikasi serius.

1 of 3

Berikut ini adalah beberapa penyebab luka sulit sembuh:

  1. Kontaminasi dan infeksi

Infeksi pada luka adalah salah satu penyebab paling banyak terhambatnya penyembuhan luka. Saat luka terkontaminasi atau menjadi infeksi, sistem kekebalan tubuh akan secara otomatis menggunakan energi untuk melawan kuman, sehingga energi yang dibutuhkan untuk penyembuhan berkurang.

Gejala infeksi meliputi demam, peningkatan nyeri, perubahan warna atau ukuran luka, dan terdapat cairan kuning yang mengalir dari luka. Kondisi ini dapat diobati dengan pemberian antibiotik oral ataupun antibiotik topikal. Jika ada abses (penimbunan nanah), perlu dilakukan pembukaan luka dan pengaliran cairannya.

  1. Nutrisi yang buruk

Untuk menunjang proses penyembuhan luka diperlukan nutrisi yang baik. Tubuh membutuhkan lebih banyak kalori, vitamin A dan vitamin C, serta protein dan seng setelah mengalami cedera jenis apa pun. Bahan makanan yang dapat membantu selama proses penyembuhan meliputi telur, kacang-kacangan, brokoli, buah sitrus, daging merah, dan tomat.

  1. Trauma

Luka yang mengalami cedera secara konstan akibat terpukul atau tergesek oleh suatu permukaan, dapat menyebabkan luka makin berat. Selain itu, luka yang berulang kali cedera akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh, atau mungkin tidak sembuh sama sekali

  1. Merokok

Merokok tidak hanya meningkatkan risiko kanker, tetapi juga dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Nikotin pada rokok menurunkan aliran darah pada kulit sehingga mencegah jaringan luka dari penyembuhan.

2 of 3

Selanjutnya

  1. Obat-obatan

Terdapat beberapa obat tertentu yang dapat menunda proses penyembuhan luka. Obat utama yang dapat memperlambat waktu penyembuhan meliputi antiradang nonsteroid, antikoagulan, kortikosteroid, antineoplastik sitotoksik, dan imunosupresif.

  1. Tidak dapat merasakan nyeri

Sensasi nyeri dapat menjadi indikator penting untuk mengetahui adanya kerusakan jaringan yang sedang terjadi atau sebagai petunjuk dari penyebab luka. Bila tidak dapat merasakan nyeri, sebaiknya segera periksakan luka Anda ke dokter yang lebih ahli.

  1. Gangguan sirkulasi dan oksigenasi

Darah berfungsi untuk menghantarkan oksigen dan nutrisi ke area luka untuk penyembuhan, serta menghilangkan bakteri, toksin, dan kotoran. Kondisi yang mengurangi peredaran darah dan oksigen adalah penyebab paling sering dari terhambatnya penyembuhan luka.

Contohnya adalah umur lanjut, diabetes, penyakit pembuluh darah perifer, dan hipertensi. Anemia dan penyakit paru kronis juga mengganggu oksigenasi. Obesitas juga demikian, memperlambat penyembuhan luka karena jaringan lemak memiliki sedikit pembuluh darah.

  1. Usia

Orang usia lanjut memiliki tingkat kesembuhan lebih lambat dibandingkan anak dan dewasa sehat. Mereka memiliki kulit yang rentan dan berisiko infeksi lebih tinggi karena respons peradangan yang lebih lambat, produksi antibodi terganggu, dan fungsi sistem endokrin lebih lambat.

Apabila Anda mengalami luka sulit sembuh, lakukan penelusuran kira-kira apa penyebab dari hal tersebut. Jika telah menemukannya, atau mungkin tidak, Anda dapat memeriksakan diri ke dokter untuk didiagnosis serta dilakukan terapi sejak dini demi mencegah komplikasi.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓