Hai Ibu, Ini Tanda-Tanda Anda Terjangkit Sharenting

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 27 Jul 2018, 08:00 WIB
Inilah ciri-ciri orang tua yang terserang tren sharenting. Apakah Anda mengalami salah satunya?
Hai Ibu, Ini Tanda-Tanda Anda Terjangkit Sharenting (Goodmoments/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Di zaman digital ini, semakin banyak orang tua, khususnya para ibu, yang kerap membagikan foto atau cerita tentang kehidupan anak-anak mereka di media sosial. Tren yang disebut dengan sharenting ini tidak melulu berkaitan dengan momen-momen “besar” seperti kelahiran atau ulang tahun anak. Mengunggah foto atau cerita seputar aktivitas anak sehari-hari yang sifatnya sepele seperti makan, bermain, dan tidur, juga sudah bisa digolongkan sebagai sharenting.

Jika Anda sering melakukan hal-hal di atas, bisa jadi Anda sudah terjangkit tren ini. Namun, agar lebih pasti, berikut ini adalah tanda-tanda ibu yang terserang tren sharenting:

  1. Emosi mudah meledak bila dituduh oversharing atau ketika konten unggahan dikritik

Seorang sharent pelaku sharenting kerap marah atau emosi saat ada yang berkomentar dirinya mengunggah terlalu banyak informasi tentang si Kecil. Sebagian bahkan tak segan-segan untuk meng-unfriend siapa pun yang mengatakan ini.

Seorang sharent merasa bahwa dirinya tak perlu membenarkan diri kepada siapa pun. Menurutnya, itu adalah laman media sosialnya dimana ia berhak mengunggah apa pun yang ia mau.

  1. Tidak ada yang bersifat pribadi

Umumnya seorang sharent tidak merasa bahwa hal-hal seperti foto USG si Kecil hingga detail proses melahirkan bahkan yang berdarah-darah sekalipun adalah sesuatu yang sifatnya pribadi. Sharent bahkan sering tidak menyadari bahwa foto tersebut terlalu “vulgar” untuk diunggah ke media sosial.

Sebagian bahkan tak malu untuk mengunggah foto si Kecil tanpa busana karena dianggap lucu. Padahal, semua konten atau unggahan di media sosial bisa dilihat semua orang dari berbagai belahan dunia.

1 of 3

Selanjutnya

  1. Selalu mencari kamera untuk menangkap momen-momen langka

Mulai dari momen lucu atau menggemaskan hingga yang memalukan atau bahkan membahayakan anak, seorang sharent akan selalu siap siaga untuk memotret. Misalnya, saat si Kecil pertama kali jatuh atau mengoleskan selai roti di mana-mana.

Ada pula kondisi yang lebih ekstrem, misalnya saat si Kecil sedang mengalami tantrum di pusat perbelanjaan, si ibu tidak berusaha menenangkan. Ia malahan berteriak kepada anak “Jangan gerak dulu!” sembari mencari-cari kamera.

  1. Semua konten media sosial hanya tentang si Kecil

Fitur “Year in Review”, atau kilas balik selama setahun belakangan, pada Instagram seorang sharent tak menunjukkan hal lain kecuali foto-foto si Kecil dan segala pembaharuannya. Bisa jadi rekan atau keluarga lupa bagaimana rupa Anda sekarang sebab setiap foto dan status adalah tentang si Kecil.

  1. Anda hampir tidak mengenal si Kecil kecuali melalui lensa kamera atau gawai

Bagi seorang sharent, hidup adalah tentang momen. Dan pelakunya bertekad agar tidak melewatkan satu momen pun untuk diunggah secara online. Bisa jadi, interaksi ibu dan anak yang sesungguhnya tak seperti yang tampak di media sosial, sebab kenyataannya sang ibu terlalu sibuk dengan gawainya.

  1. Anda menjadi seorang “mamarazzi”

Tanpa disadari, Anda memiliki ratusan bahkan ribuan foto tentang si Kecil di media sosial dengan keterangan seperti, “Saat bayi X pertama kali membuka mata,” atau “Saat X mulai makan sendiri,” atau “Hari pertama X disapih.”

  1. Semua tentang Anda, pola asuh Anda dan si Kecil

Tak peduli apa yang ditulis teman Anda di media sosial, Anda dapat mengubahnya menjadi percakapan tentang si Kecil. Bagi teman-teman yang telah menjadi orang tua, Anda tak segan-segan memberi nasihat seputar pola asuh dan bagaimana menerapkannya kepada si Kecil. Sedangkan bagi yang belum, komentar “lelah” dari mereka bisa memancing omelan Anda seperti, “Mau tahu arti lelah yang sebenarnya? Punya anak dulu, deh.”

2 of 3

Berbagi atau pamer?

Apakah Anda terjangkit tren sharenting? Bila ya, coba pikirkan kembali apakah yang Anda lakukan itu betul-betul berbagi atau sekadar pamer? Mungkin Anda tidak bermaksud pamer, melainkan bangga akan pencapaian si Kecil. Meski demikian, belum tentu anak dan publik memiliki persepsi yang sama dengan Anda. Bisa jadi, anak malah terganggu karena hampir seluruh aspek kehidupannya dilihat publik.

Ketika anak mulai sadar akan independensi dirinya, privasi dan identitasnya bisa terganggu oleh jejak digital yang telah Anda bangun sejak kecil. Dan yang terburuk, sharenting dapat memicu praktik penculikan digital dan pedofilia, yang tentu amat berbahaya.

Sejatinya, tidak ada orang tua yang ingin mencelakai anaknya. Kendati demikian, tak ada salahnya untuk mengintrospeksi praktik sharenting Anda selama ini. Pada dasarnya, sharenting tidak dilarang, tetapi perlu dilakukan dengan lebih bijak.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓