Kenali Bahaya yang Mengintai di Balik Tren Sharenting

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 28 Jul 2018, 11:00 WIB
Anda orang tua yang melakukan sharenting? Awas, ini bahaya yang mengintai di balik kebiasaan posting kehidupan anak di jejaring sosial.
Kenali Bahaya yang Mengintai di Balik Tren Sharenting (Oksana Kuzmina/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pegiat jejaring sosial seperti Facebook atau Instagram tentu sudah tak asing melihat rekan yang mempublikasikan foto anak mereka di lini masa miliknya. Perilaku ini dikenal dengan sebutan sharenting. Apakah Anda juga pernah melakukannya?

Sharenting atau oversharenting pertama kali dicetuskan oleh The Wall Street Journal. Istilah ini merupakan gabungan dari oversharing dan parenting.

Oversharing merupakan perilaku mengunggah berbagai aktivitas dalam kehidupan pribadi ke dalam jejaring sosial. Sedangkan parenting merupakan kegiatan mengasuh anak. Sharenting dimaknai sebagai perilaku orang tua yang mengunggah berbagai sisi kehidupan anak ke dalam jejaring sosial.

Sebuah perusahaan penyedia perangkat lunak antivirus, AVG, pernah melakukan survei di jejaring sosial. Mereka menemukan bahwa sepertiga anak di Inggris ditemukan fotonya di jejaring sosial, yang merupakan hasil unggahan dari orang tuanya.

Foto tersebut terlihat mulai dari telapak kaki si Kecil saat lahir di dunia hingga setiap detail aktivitas yang dilakukan setiap hari. Di Indonesia, data yang jelas mengenai tingkat sharenting belum ditemui. Namun sebagai 1 dari 10 negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia dan sebagian besar orang tua baru didominasi oleh kaum milenial, diduga perilaku sharenting di Indonesia lebih tinggi jumlahnya.

1 of 2

Kenali bahaya sharenting

Di satu sisi, sharenting memang bisa memberikan manfaat bagi orang tua. Namun di sisi lain, sharenting yang dilakukan tanpa pertimbangan matang bisa mengundang sejumlah bahaya.

Lalu apa saja bahaya sharenting yang bisa terjadi?

  • Membuat anak rentan menjadi incaran pedofilia

Tentu tak semua unggahan membuat anak rentan diincar oleh pelaku pedofilia. Namun, menggunggah anak berpose tanpa busana, atau dengan mengekspos bagian dada, paha, maupun bokong bisa membuat pedofilia tertarik dengan anak Anda.

Di samping itu, tak bijak memilih tagar pun bisa membuat si Kecil rentan mengalami kejahatan, misalnya dengan membuat tagar #sexybaby, #bathtime, dan sejenisnya di caption foto terkait.

  • Anak menjadi rentan terhadap penculikan

Terlalu update dalam mengunggah aktivitas anak di jejaring sosial bisa memudahkan penjahat untuk melakukan tindak penculikan. Kejahatan tersebut akan lebih mudah terjadi jika Anda membagikan lokasi foto atau video si Kecil secara real-time.

Mengetahui hal ini, hindarilah mengunggah foto atau video anak secara real-time dengan mengikutsertakan informasi lokasi sang buah hati.

  • Penculikan digital juga bisa terjadi

Secara fisik, anak mungkin tetap bersama dengan Anda. Namun unggahan yang sangat rinci tentang si Kecil di dunia maya bisa membuat identitasnya dicuri orang lain.

Sang pencuri bisa saja membuat akun baru menggunakan nama anak Anda, dan membuatnya seolah-olah itu memang akun asli yang bisa digunakan untuk mencari keuntungan.

  • Membuat anak frustasi

Tak semua anak suka difoto. Apalagi ada sebagian orang tua yang mendandani anaknya dengan cukup kompleks, menggunakan berbagai properti, dan meminta mereka melakukan berbagai tingkah agar terlihat lucu saat tertangkap kamera. Bila anak tak menyukai hal itu, ia bisa saja depresi atau frustasi.

Sharenting memang bisa mendatangkan efek negatif di atas. Namun, bukan berarti Anda dilarang melakukannya. Sebagai orang tua, Anda hanya perlu bertindak lebih bijak dan berpikir dengan matang sebelum membagikan segala sesuatu ke publik. Dengan ini, sharenting yang Anda lakukan diharapkan tidak membahayakan keselamatan anak dan justru bisa memberikan inspirasi bagi orang lain.

[NB/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓