Petinju Juga Kena Kanker Kelenjar Getah Bening, Ini Gejalanya

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 01 Aug 2018, 17:45 WIB
Kanker kelenjar getah bening bisa menyerang siapa saja, termasuk atlet tinju sekalipun. Kenali gejala dan tandanya dengan baik.
Petinju Juga Kena Kanker Kelenjar Getah Bening, Ini Gejalanya (Mike-Orlov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kabar duka datang dari cabang olahraga tinju Tanah Air. Petinju asal Bali, Valentinus Nahak, dikabarkan mengidap kanker kelenjar getah bening. Pria yang sehari-harinya bergelut dengan kegiatan fisik itu kini harus rela mengubur mimpi untuk bertanding di kancah Asian Games 2018 yang akan dimulai pada 18 Agustus mendatang.

Pada Februari silam, Valentinus tampak masih bugar dan terlihat seperti atlet kebanyakan. Dirinya juga sempat mengikuti test event Asian Games 2018 di Jakarta. Bahkan sebelum itu, Valentinus pernah tercatat mewakili Bali di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 dan berhasil mendapatkan medali perak dari kelas layang 46 kg.

Sayang, hasil dari perjuangan keras Valentinus harus berakhir saat memasuki bulan Mei 2018, setelah dokter mendiagnosis adanya kanker kelenjar getah bening pada dirinya. Saat ini, pria yang sebelumnya tampak bugar dan kekar itu harus terbaring di atas matras dengan kondisi lemas dan tubuh yang sangat kurus.

Mengenal gejala kanker kelenjar getah bening

Kelenjar getah bening ada di dalam setiap tubuh manusia. Jumlahnya lebih dari seratus, dan tersebar dari kepala hingga kaki. Kelenjar getah bening berfungsi untuk menjaga imunitas atau daya tahan tubuh.

Ketika sel kanker menyusup masuk ke kelenjar getah bening, fungsi organ ini akan terganggu sama sekali. Seseorang yang mengidap kanker jenis ini akan mengalami gejala yang bervariasi, tergantung lokasi kelenjar yang disusupi sel kanker.

Gejala paling umum dari kanker getah bening adalah demam naik turun untuk waktu yang lama, keringat berlebihan pada malam hari, dan adanya penurunan berat badan yang sangat drastis.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri dari KlikDokter, lokasi kelenjar getah bening yang paling sering disusupi sel kanker adalah di bagian leher. Tandanya dapat dilihat dengan munculnya benjolan di leher, yang makin lama makin besar.

Benjolan tersebut biasanya tidak disertai rasa nyeri, sehingga hal ini sering diabaikan oleh orang yang mengalaminya. Pengidap kanker kelenjar getah bening biasanya baru akan menyadari keadaan sebenarnya saat kondisi sudah masuk ke tahap yang lebih parah.

Selain di leher, lanjut dr. Resthie, kanker kelenjar getah bening juga sering terjadi di organ paru. Pada kasus ini, gejalanya adalah batuk kronik dan sesak napas berat, yang akan berujung pada kematian jika tidak segera diatasi.

“Kanker kelenjar getah bening yang tadinya ada di paru bisa menyebar ke organ hati atau limpa. Keadaan ini ditandai dengan kondisi perut yang semakin membesar akibat terisi cairan. Gejala yang terjadi adalah begah, diare, dan badan lemas,” pungkas dr. Resthie.

Deteksi dini kanker kelenjar getah bening

Hingga saat ini, belum ada teknologi medis yang mampu mendeteksi dini kanker kelenjar getah bening. Oleh karena itu, setiap orang wajib bersikap waspada dan memeriksa kondisi tubuh secara berkala.

Jika mendapati adanya benjolan di leher atau bagian tubuh lainnya, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah benjolan tersebut berasal dari kanker kelenjar getah bening atau kondisi medis lainnya.

Ingatlah bahwa kanker kelenjar getah bening atau kanker jenis lainnya adalah penyakit yang tidak pandang bulu dalam mengincar korbannya. Karenanya, selalu perhatikan kondisi tubuh Anda dengan saksama. Jangan abai, karena nyawa adalah taruhannya.

[NB/ RVS]