Penyebab Sedih, bahkan Menangis, Usai Berhubungan Seks

Oleh Ruri Nurulia pada 03 Aug 2018, 11:00 WIB
Usai berhubungan seks seharusnya bikin bahagia dan tidur lebih nyenyak. Namun, kenapa ada yang justru sedih, bahkan menangis?
Penyebab Sedih, bahkan Menangis, Usai Berhubungan Seks (B-D-S Piotr Marcinski/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selain untuk memenuhi kebutuhan biologis, hubungan seksual juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan pasangan. Manfaatnya mulai dari meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan fungsi kontrol kandung kemih, menurunkan tekanan darah, membakar kalori, meningkatkan mood, menurunkan risiko penyakit jantung, dan masih banyak lagi. Meski demikian, usai berhubungan seks ada beberapa orang yang justru merasa sedih, bahkan sampai menangis. Apa yang terjadi?

Sedih setelah berhubungan seks

Kesedihan yang dirasakan setelah berhubungan seks ini memiliki nama, yaitu post-coital dysphoria (PCD). Dilansir dari laman Health, terapis seks Ian Kerner asal New York, Amerika Serikat (AS), mendeskripsikan PCD sebagai kesedihan, kemarahan, dan rasa tertekan yang dirasakan setelah berhubungan seks, dan sering kali setelah mengalami orgasme. Anda dapat merasakan ini bahkan setelah berhubungan seks dengan pasangan yang Anda cintai, bahkan dapat terjadi saat atau setelah masturbasi.

Tak hanya fakta bahwa kesedihan seperti ini terjadi, tapi kondisi ini secara mengejutkan dianggap wajar. Lewat sebuah survei terhadap mahasiswi yang diterbitkan di jurnal “Sexual Medicine” tahun 2005, ditemukan bahwa 46 persen partisipan mengalami PCD setidaknya satu kali. Sedangkan 5 persen lainnya dilaporkan merasa sedih dan kesepian setelah beberapa kali berhubungan seks selama 4 minggu. Peneliti juga mencatat bahwa tidak ada kaitan antara PCD dan keintiman dalam sebuah hubungan yang erat (dengan pasangan).

Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi Robert Schweitzer, pemimpin studi di atas, mengatakan kepada Newsweek bahwa responden merasa sedih bukan karena pengalaman seks yang buruk. Bahkan, kadang PCD bisa muncul setelah mereka mencapai orgasme yang luar biasa.

Menurut Robert, kondisi ini dikarenakan orgasme tak hanya melepaskan kenikmatan saja, tapi juga semua buncahan emosi yang dirasakan seseorang. Bisa jadi seseorang ikut melepaskan emosi dan perasaan stres atau depresi yang tertahan selama beberapa waktu lamanya, dan ini bisa memicu perasaan sedih usai bercinta.

Pada wanita, PCD juga bisa terjadi karena ekspektasi yang terlalu berlebihan, misalnya membayangkan seks akan terasa hebat, tapi nyatanya justru sebaliknya. Akibatnya, rasa sedih atau marah pun bisa mencuat.

Meskipun ada banyak kemungkinan penyebab, tapi semua yang disebut di atas hanyalah asumsi semata. Ini karena otak manusia bekerja secara rumit dan kompleks, terutama saat seks terjadi. Hingga kini, belum ada penelitian yang mampu mengungkapkan cara kerja otak secara terperinci ketika seseorang sedang berhubungan seks.

1 of 2

PCD juga bisa menimpa pria

Baru-baru ini ada studi yang memperkirakan prevalensi PCD terhadap pria yang dipublikasikan dalam “Journal of Sex & Marital Therapy”. Para peneliti dari Universitas Teknologi Queensland, Australia, menganalisis hasil survei berskala internasional yang melibatkan 1.200 pria dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Rusia, Selandia Baru, Jerman, dan negara-negara lainnya.

Tim peneliti menemukan bahwa 41 persen partisipan mengaku pernah mengalami PCD, dengan 20 persen mengatakan PCD dialami dalam 4 minggu terakhir. Sementara itu, 4 persen dari pertisipan mengaku sering mengalaminya.

Penderita PCD dilaporkan merasa tak ingin disentuh, seketika ingin menyendiri atau meninggalkan ruangan, merasa tidak puas, serta merasa jengkel dan gelisah setelah berhubungan seks. Satu partisipan mendeskripsikan apa yang ia rasakan sebagai “merasa kosong dan tanpa emosi”, sementara partisipan lainnya menggambarkannya sebagai rasa malu atau menganggap ada sesuatu yang salah dengan mereka.

Meskipun studi mengenai PCD belum mencukupi, tapi Ian percaya bahwa kesedihan ini adalah hormonal. “Utamanya pada wanita, seks dan orgasme dapat mengeluarkan hormon oksitosin, yang memfasilitasi rasa kasih sayang dan koneksi,” jelasnya. PCD bisa terjadi, misalnya, saat seorang wanita menyadari hubungannya dan pasangan tak bisa dilanjutkan, yang mana kondisi ini dapat menyulut emosi. Jika ini yang dirasakan, PCD yang Anda alami mungkin akibat refleksi dari ketidakbahagiaan dalam hubungan Anda.

PCD juga dapat disebabkan oleh trauma masa lalu. Misalnya pada penyintas kekerasan seksual, mungkin mereka akan merasa sangat emosional jika pengalaman seksual yang mereka alami mengingatkan mereka akan momen kelamnya.

Dalam studi dari Australia ini, disebutkan juga bahwa PCD pada pria berhubungan dengan kekerasan seksual pada masa kecil, disfungsi seksual, dan tekanan psikis. Orang-orang yang mendasarkan harga diri mereka pada apa yang dirasakan pasangan tentang mereka, cenderung lebih bisa merasa depresi usai berhubungan seks—khususnya jika pasangan tidak memperlakukan mereka seperti yang mereka inginkan.

Rasa sedih, bahkan hingga ingin menangis usai berhubungan seks hingga saat ini belum sepenuhnya dimengerti. Semua yang dikemukakan di atas semuanya hanya bersifat spekulasi yang bisa jadi karena faktor biologis dan psikologis. Walaupun begitu, semoga saja hasil studi yang sudah ada dapat memungkinkan adanya studi lanjutan yang lebih mendalam atau pengembangan terapi bagi orang-orang yang mengalami PCD.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓