Memerangi Hoaks tentang HIV/AIDS untuk Edukasi Masyarakat

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Aug 2018, 16:11 WIB
Edukasi HIV/AIDS kepada masyarakat masih sangat diperlukan. Oleh karenanya, hoaks tentang HIV/AIDS harus diperangi.
Memerangi Hoaks tentang HIV/AIDS untuk Edukasi Masyarakat (Krisna Oktavianus/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Hoaks atau berita bohong saat ini dengan mudah tersebar, terutama lewat media sosial. Hoaks biasanya menyangkut informasi seputar politik atau sosial. Tapi belakangan, penyebaran berita bohong tersebut bahkan sudah merambah bidang kesehatan. Salah satu topik kesehatan yang sering dijadikan sasaran hoaks adalah  masalah HIV/AIDS?

Hoaks yang menyentuh masalah HIV/AIDS biasanya disebarkan dengan berbagai tujuan, seperti, menciptakan keresahan, mendiskreditkan profesi medis, urusan politik, sampai urusan persaingan dagang. Untuk yang terakhir, mungkin Anda ingat kabar ada makanan kaleng impor yang dikabarkan sudah diinjeksi darah mengandung virus HIV? Itu salah satu hoaks yang dibuat karena persaingan dagang.

Hoaks merugikan pihak lain

Ada beragam hoaks yang berkembang di masyarakat mengenai HIV/AIDS. Tentu saja yang paling dirugikan dari hoaks tersebut adalah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Berita-berita bohong tersebut memperburuk stigma ODHA. Akibatnya, kelompok tersebut pun makin dikucilkan dari kehidupan sosial.

Menurut dr. Adyana Esti dari klinik Angsamerah salah satu hoaks yang paling sering muncul adalah soal penularan HIV/AIDS. Salah satunya adalah, jika seseorang bersentuhan dengan ODHA maka akan tertular HIV/AIDS. Tentu saja informasi tersebut tidak benar. Angsamerah merupakan klinik yang fokus dalam pengobatan ODHA, sehingga merasa sangat perlu meluruskan berita-berita yang salah tersebut.

"HIV tidak menular melalui kontak sosial. Jika ada yang bilang berciuman dengan ODHA, lalu terkena air mata dan keringat ODHA kita akan tertular HIV/AIDS, itu salah besar," tegas dr. Esti, dalam acara diskusi bertema “Tangkal Hoax-nya, Pahami Fakta HIV/AIDS” di Branche Bistro, Jakarta Selatan.

"Sel darah putih yang membawa virus HIV/AIDS memang ada lewat air liur, air mata, dan keringat, tapi sangat sedikit. Virus HIV yang sedikit itu tidak cukup untuk ditularkan kepada orang lain," sambungnya.

Menurut dr. Esti, virus HIV/AIDS paling banyak ada di darah, cairan vagina, dan cairan rektum, serta ASI.  Sementara itu, memakai alat makan yang sama dan tinggal satu rumah dengan ODHA tidak akan membuat orang tertular HIV/AIDS. Batuk dan mengobrol juga bukan cara penularan HIV/AIDS.

1 of 3

Kenali perbedaan HIV dan AIDS

Dokter Esti menambahkan, sejauh ini masyarakat masih sangat rancu dalam membedakan HIV dan AIDS. Hal ini menciptakan kesan bahwa orang dengan HIV sudah pasti terkena AIDS, dan orang dengan HIV usianya tidak akan lama lagi. Padahal faktanya tidak demikian.

"Orang masih salah kaprah dengan hal ini. Orang dengan HIV masih bisa hidup normal dan mengejar mimpi-mimpi mereka, asal mendapat penanganan yang cepat dan tepat. HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS, tapi orang dengan AIDS sudah pasti terjangkit virus HIV," kata dr. Esti.

Dokter Esti menambahkan, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah jenis virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini menyerang T-Cell. Sel tersebut adalah salah satu bagian dari sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh saat ada kuman patogen yang memasuki tubuh, termasuk virus dan penyakit. Jika T-Cell rusak, maka tubuh akan kehilangan kemampuan mengenali virus dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Sementara itu, AIDS adalah kondisi yang timbul akibat rusaknya sistem pertahanan tubuh karena virus HIV. Sehingga, dapat dipastikan orang dengan AIDS terjangkit virus HIV.

 

2 of 3

Obat untuk ODHA

ARV adalah obat untuk ODHA yang berguna untuk menghambat aktivitas virus HIV agar tubuh ODHA memiliki kesempatan uintuk membangun sistem kekebalan. Bila sistem kekebalan tubuh ODHA baik, maka mampu melawan infeksi yang datang sehingga harapan hidup lebih panjang.

“Sampai saat ini ARV masih disubsidi oleh pemerintah sehingga dapat diperoleh dengan gratis. ODHA juga bisa mendapatkan ARV secara gratis di tingkat puskesmas. Diharapkan ODHA mau mengakses ARV ini karena mendapatkannya sangat mudah,” tutup dr. Esti tentang obat yang berbentuk tablet ini.

Masih rentannya masyarakat termakan hoaks atau berita bohong, membuat banyak masalah bisa berkembang menjadi rumit. Begitu pula dengan persoalan HIV/AIDS. Masyarakat masih memerlukan edukasi mengenai topik kesehatan yang satu ini. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah termakan hoaks tentang HIV/AIDS. Carilah infomasi mengenai topik tersebut dari sumber-sumber yang kompeten dan bisa dipercaya.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓